Minggu, 18 Oktober 2026
08:03 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Ahmad Taufik

jurnalis Indonesia

Bagikan:
Ahmad Taufik Al-Jufri
Lahir(1965-07-12)12 Juli 1965
Jakarta, Indonesia
Meninggal23 Maret 2017(2017-03-23) (umur 51)
Jakarta
PendidikanSarjana, di Universitas Islam Bandung
Magister di Hubungan Internasional, Universitas Indonesia
PekerjaanJurnalis
Masa aktif1986 - 2017

Ahmad Taufik (12 Juli 1965 – 23 Maret 2017) adalah seorang jurnalis yang bekerja di Tempo. Ia juga menjadi pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI).[1]

Pada masa Orde Baru ia pernah dipenjara karena menerbitkan sebuah buletin yang bernama buletin Independen. Buletin tersebut banyak mengkritik kepemimpinan Presiden Soeharto yang otoriter.[2][3] Selain itu pada tahun 2004 ia pernah digugat oleh pengusaha Tomy Winata,[2] pada pledoinya ia berkata:

"Memberitakan informasi apa adanya adalah kewajiban saya, dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi itu".

Ia meninggal di Rumah Sakit Medistra, Jakarta, karena sakit kanker paru-paru. Semasa hidupnya ia pernah mendapatkan beberapa penghargaan seperti anugerah Tasrif Award-Indonesia Press Freedom Award. Pada 1995, ia memperoleh International Press Freedom Award dari Committee to Protect Journalists (CPJ) sebuah organisasi yang berbasis di New York, Amerika Serikat.[1]

Biografi

Taufik lahir pada tanggal 12 Juli 1965 di Jakarta dari keluarga keturunan Hadhrami. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 24 Jakarta, ia melanjutkan studi di Universitas Islam Bandung dan lulus sebagai sarjana hukum. Saat di kampus ia berpartisipasi pada beberapa unjuk rasa mahasiswa mengenai kasus tanah di Badega, Kabupaten Garut.[4] Ia merampungkan pendidikan magister hubungan internasional di Universitas Padjadjaran tak lama sebelum wafat.

Penangkapan dan penahanan

Pada tanggal 16 Maret 1995, Taufik ditahan setelah terbitnya seri artikel di majalah berita milik AJI Independen yang mengulas suksesi kepemimpinan nasional dan harta kekayaan pribadi Presiden Soeharto.[3][5] Ia kemudian didakwa berdasarkan Pasal 19 Undang-Undang Pokok Pers Nomor 21 Tahun 1982, yang melarang penerbitan surat kabar atau majalah tanpa Surat Izin Usaha Penerbitan Pers, dan Pasal 154 KUHP yang melarang penerbitan "perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan terhadap Pemerintah Republik Indonesia".[3] Seperti dijelaskannya pada harian asal Amerika Serikat The New York Times, untuk membuat terbitan, "Anda harus memiliki izin dari Departemen Penerangan... kami tidak memiliki izin, karena kami tidak setuju soal itu. Kami menolak."[6]

Pada tanggal 1 September 1995, ia dinyatakan bersalah atas kedua dakwaan tersebut dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.[3] CPJ memprotes penangkapannya dan wartawan lainnya, dan menjuluki Soeharto sebagai "satu dari sepuluh musuh pers terburuk" dalam daftar tahunannya.[3] Taufik dibbeaskan bersyarat pada tanggal 19 Juli 1997, setelah menjalani dua per tiga masa hukuman.[3][4]

Referensi

  1. 1 2 "Rayakan HUT Ke-23, AJI Gelar Tribute untuk Ahmad Taufik". Tempo.co.{{cite news}}: Parameter tidak dikenal |acces date= diabaikan (|access-date= disarankan)[pranala nonaktif permanen]
  2. 1 2 "Wartawan Senior Tempo Ahmad Taufik Pernah Dipenjara Rezim Orba". Tempo.co.{{cite news}}: Parameter tidak dikenal |acces date= diabaikan (|access-date= disarankan)[pranala nonaktif permanen]
  3. 1 2 3 4 5 6 "Freed journalist to accept International Press Freedom Award". Pacific Media Watch. 19 November 1997. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-09-28. Diakses tanggal 2 Juni 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  4. 1 2 Zed A (30 Juli 1997). "Wawancara Ahmad Taufik: "Saya Terlambat Masuk Penjara"". Tempo. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-21. Diakses tanggal 2 Juni 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ "Indonesia: Journalists' Sentences Increased as Media Restrictions Continue". Amnesty International. April 1995. Diakses tanggal 9 Juni 2011.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "The Perils of the Press in Indonesia Include Jail". The New York Times. 18 April 1996. Diakses tanggal 2 Juni 2011.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
1991–2000
1991
Pius Njawé
Wang Juntao
Bill Foley
Chen Ziming
Cary Vaughan
Tatyana Mitkova
Byron Barrera
1992
Thepchai Yong
Gwen Lister
Sony Esteus
Mohammed Al-Sager
David Kaplan
1993
Ricardo Uceda
Veran Matić
Nosa Igiebor
Đoàn Viết Hoạt
Omar Belhouchet
1994
Navidi Vakhsh
Daisy Li Yuet-Wah
Yndamiro Restano Díaz
Aziz Nesin
Iqbal Athas
1995
Veronica Guerin
Ahmad Taufik
Fred M'membe
José Rubén Zamora
Siglo Veintiuno
Yevgeny Kiselyov
1996
Ocak Işık Yurtçu
Özgür Gündem
Daoud Kuttab
Jesús Blancornelas
Yusuf Jameel
1997
Yelena Masyuk
Freedom Neruda
Viktor Ivančić
Yuen-Ying Chan
Shieh Chung-liang
Christine Anyanwu
1998
Ruth Simon
Pavel Sheremet
Goenawan Mohamad
Gustavo Gorriti
Grémah Boucar
1999
Jesús Joel Díaz Hernández
Baton Haxhiu
Jugnu Mohsin
Najam Sethi
María Cristina Caballero
2000
Željko Kopanja
Modeste Mutinga
Steven Gan
Mashallah Shamsolvaezin
2001–2010
2011–kini
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan