Rabu, 30 September 2026
23:55 WIB
TERKINI
Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Kekacauan Komunikasi Fatal: KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Maut KA di Bekasi Berita Terkuak Pemilik Miras dan Barang Mewah di Lapas Cibinong, 5 Pejabat Dinonaktifkan Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh

Adok

Bagikan:

RODIYA merupakan sastra lisan Minangkabau berbentuk pendendangan pantun-pantun diiringi tabuhan rodiya dan tarian. Nama rodiya ini berasal dari nama instrumen tabuh yang digunakan dalam pertunjukkan ini yaitu rodiya juga. Instrumen ini sejenis rebana berukuran besar. Bagian yang ditabuh ditutupi kulit lembu. Permukaannya lebih besar dari bagian belakangnya. Permukaan instrumen berdiameter 65 cm sementara bagian belakangnya berdiameter 20 cm.[1]

Kelompok-kelompok adok banyak dijumpai di daerah Singkarak, seperti Nagari Koto Sani, Nagari Singkarak, Nagari Aripan, dan Nagari Saniangbaka.[2]

Adok dipelajari dengan berguru. Dalam tradisi lokal, untuk mendaftarkan diri sebagai pemain adok, peserta harus menyembelih ayam sebagai tanda sahnya ia menjadi murid.[3]

Pertunjukkan

Adok dipertunjukkan oleh 5 orang, 1 sebagai pendendang sekaligus penabuh adok dan 4 sebagai penari.[1] Seluruh penampil adalah laki-laki karena penampil perempuan belum begitu berterima di masyarakat umum. Meski demikian, penampil perempuan ada di Saningbakar dan diterima oleh masyarakatnya.[3] Pada permulaan pertunjukkan adok, 2 penari laki-laki tampil berpakaian hitam, disebut guntiang manih, dan bercelana galembong atau endong. Karakter wanita dalam adok, disebut biduan, diperankan oleh laki-laki. Laki-laki ini mengenakan pakaian selayaknya bundo kanduang, bersongket, berbaju kurung, dan batikuluak tanduk.[4][1]

Tarian dalam adok seperti randai, yaitu bergerak melingkar dengan dasar gerakan pencak silat.[1] Gerakan-gerakannya memiliki nama, seperti barabah pulang mandi,[5] tupai bagaluik,[6] barabah tabang duo,[7] dan batu alia[8].[3]

Pertunjukkan adok terdiri dari lima bagian yang disebut limo tunggak. Setiap tunggak memiliki dendang berirama berbeda dari tunggak yang lain. Tunggak pertama berirama pado-pado. Sementara itu, tunggak-tunggak selanjutnya berirama bebas antara adau-adau, dindin-dindin, dendang-dendang, dan buai-buai. Selaras dengan irama yang berbeda tiap tunggak, tarian pun berbeda menyesuaikan irama.[1]

Sastra lisan ini disampaikan dengan irama khas Solok, yaitu dendang Singkarak karena hanya terdapat di daerah Singkarak. Dendang ini berciri pemanjangan bunyi-bunyi vokal dengan bunyi sengau. Contohnya, buyuang akan didendangkan bu-ngu-ngu-ngu-yuang dalam dendang Singkarak ini.[1]

Adok biasanya ditampilkan dalam pesta perkawinan atau baralek, khususnya dalam alek marapulai katurun atau pesta di rumah mempelai laki-laki dan dalam upacara batagak pangulu atau upacara pengukuhan penghulu baru. Adok ini berfungsi sebagai puncak acara sehingga baru ditampilkan pada sore hari (pukul dua atau setelahnya).[3]

Oleh masyarakat lokal, adok dianggap pertunjukkan yang beradat. Adok afdal bila dipertunjukkan di rumah berlantai papan. Masyarakat akan menganggap adok berhasil bila terdapat satu atau dua papan lantai rumah yang patah selama pertunjukkan adok. Dengan demikian, didapatilah tuah adok menurut masyarakat setempat.[3]

Catatan kaki

  1. 1 2 3 4 5 6 Amir, Zuriati & Anwar 2006, hlm. 81. sfn error: tanpa target: CITEREFAmirZuriatiAnwar2006 (bantuan)
  2. ↑ Amir, Zuriati & Anwar 2006, hlm. 83. sfn error: tanpa target: CITEREFAmirZuriatiAnwar2006 (bantuan)
  3. 1 2 3 4 5 Amir, Zuriati & Anwar 2006, hlm. 82. sfn error: tanpa target: CITEREFAmirZuriatiAnwar2006 (bantuan)
  4. ↑ batikuluak tanduk: selendang tenun bercorak songket dilipat hingga menyerupai tanduk sebagai tutup kepala wanita.
  5. ↑ barabah pulang mandi: berabah pulang mandi.
  6. ↑ tupai bagaluik: tupai berkelahi.
  7. ↑ barabah tabang duo: berabah terbang dua.
  8. ↑ batu alia: batu licin.

Referesi

  • Amir, Adriyetti; Anwar, Khairil (2006). Pemetaan Sastra Lisan Minangkabau. Padang: Andalas University Press. ISBN 979109708-9. {{cite book}}: |first2= tidak memiliki |last2=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan