Senin, 12 Oktober 2026
17:42 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM
Elang alap kelabu

Elang alap kelabu

spesies burung

Bagikan:
Elang alap kelabu
250px-Grey_Goshawk_Dayboro_Apr02.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Accipitriformes
Famili: Accipitridae
Genus: Tachyspiza
Spesies:
T. novaehollandiae
Nama binomial
Tachyspiza novaehollandiae
(Gmelin, JF, 1788)

Elang alap kelabu (Tachyspiza novaehollandiae) merupakan spesies burung pemangsa berukuran sedang dari keluarga Accipitridae yang dapat dijumpai di Indonesia. Dalam taksonomi, elang alap ini berada dalam genus Tachyspiza, sebelumnya ditempatkan dalam Accipiter.

Deskripsi

250px-White_Goshawk.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seekor Elang-alap kelabu.

Elang alap kelabu memiliki kepala dan punggung berwarna abu-abu pucat, ujung sayap gelap, dada dan ekor berwarna abu-abu dan bagian bawah berwarna putih. Burung ini merupakan satu satunya burung pemangsa di dunia yang sepenuhnya berwarna putih.[2]

Elang-alap kelabu memiliki tubuh berukuran 40–55 cm dengan bentangan sayap 70–110 cm. Burung betina jauh lebih besar dari burung jantan, dengan berat sekitar 680 gram, sedangkan burung jantan hanya sekitar 350 gram.

Suara

Serangkaian nada yang terdiri dari delapan sampai sepuluh nada samar, lambat, tinggi, nada lemah, maninggi atau menurun.

Habitat

Elang-alap kelabu banyak ditemukan di sepanjang pantai utara, timur dan selatan-timur Australia, Tasmania dan kadang-kadang Barat Australia, Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, Selandia Baru, Papua Barat dan Kepulauan Solomon.

Berburu

Elang-alap kelabu biasanya berburu mamalia seperti kelinci, posum dan kelelawar. Mereka juga memakan burung, reptil dan serangga.

Perburuan sering dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi kadang-kadang mereka mengejar mangsanya sebelum menangkap dengan cakarnya.

Berkembang biak

Elang-alap kelabu merupakan binatang monogami. Mereka berpasangan seumur hidup, berkembang biak dari bulan Juli sampai Desember. Mereka membuat sarang di pohon yang tinggi dengan menggunakan ranting pohon yang dilapisi dengan dedaunan. Burung betina akan bertelur 2 - 3 butir, dengan masa pengeraman sekitar 35 hari. Anak burung akan menjadi dewasa 35 - 40 hari setelah menetas.

Burung betina biasanya akan menghabiskan waktu untuk mengerami dan memberi makan anaknya, sedang burung jantan berburu.[3]

Referensi

  1. ↑ BirdLife International (2016). "Accipiter novaehollandiae". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2016 e.T22727714A94958201. doi:10.2305/IUCN.UK.2016-3.RLTS.T22727714A94958201.en. Diakses tanggal 11 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link){{cite iucn}}: uses deprecated |page= identifier (help)
  2. ↑ "Society for the Preservation of Raptors species data". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-10-13. Diakses tanggal 18 Oktober 2015.
  3. ↑ "Birds in Backyards - Grey Goshawk". Diarsipkan dari asli tanggal 2014-12-29. Diakses tanggal 18 Oktober 2015.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Accipiter novaehollandiae.
Wikispecies logo
Wikispecies mempunyai informasi mengenai Accipiter novaehollandiae.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan