| Muhammad | |
|---|---|
| Abu Hatim ar-Razi | |
| Kunya | Abu Hatim |
| Nasab | bin Idris bin al-Mundzir bin Daud bin Mihran |
| Nisbah | ar-Razi, al-Hanzhali, al-Ghuthfani |
| Denominasi | Sunni |
| Minat utama | Hadis |
Mempengaruhi | |
Muhammad bin Idris bin al-Mundzir bin Daud bin Mihran al-Hanzhali al-Ghathfani (bahasa Arab:محمد بن إدريس بن المنذر بن داود بن مهران، الحنظلي الغطفاني) atau lebih dikenal dengan Abu Hatim ar-Razi (lahir di Ray 195 H / 810 M - wafat di Ray 277 H / 890 M), keturunan Tamim bin Hanzhalah bin Yarbu', ia dikenal dengan al-Hanzhali karena ia tinggal di jalan raya Hanzhalah, di kota Ray.[1][2]
Ia hidup pada masa Khalifah Abbasiyah dari Al-Ma'mun sampai Al-Mu'tadhid, saat Abbasiyah transisi dari puncak kejayaan menuju era penurunannya.
Kehidupan
Menuntut Ilmu
Abu Hatim mulai menulis hadis pada tahun 209 H, ketika itu umurnya masih 14 tahun, ia pergi untuk menuntut ilmu saat ia masih kecil, ia pergi ke Kufah, Basrah, Baghdad, Damaskus, Homs dan Mesir dengan berjalan kaki. Pertama kali ia mencari hadits menghabiskan waktu selama tujuh tahun (213 - 221 H). Dalam waktu itu, kedua kakinya telah menempuh lebih dari seribu farsakh (satu farsakh sekitar 8 Km. atau 3,25 mil). Saat di Basrah ia sempat kehabisan bekal dan tidak makan 2 hari sehingga dibantu temannya.[1]
Pandangan Ulama
Abul Qasim Hibbatullah bin Al-Hasan Al-Alka'i berkata, "Abu Hatim Ar-Razi adalah seorang imam yang pandai,hafizh, cakap dan berpendirian teguh dalam bidang hadits."
Yunus bin Abdil A'la berkata, "Abu Zur'ah dan Abu Hatim Ar-Razi adalah dua orang imam daerah Khurasan. Keberadaan mereka berdua merupakan maslahat bagi kaum muslimin."[1]
Adz-Dzahabi berkata, "Apabila Abu Hatim Ar-Razi mengatakan, "Perawi hadits it'a tsiqah," maka berpeganglah pada pernyataannya. Sesungguhnya dia tidak berkata demikian itu kecuali perawi hadits tersebut benar-benar shahih haditsnya. Sedangkan, apabila Abu Hatim Ar-Razi menyatakan layyin (lemah haditsnya) atau la yuhtajju bihi (ttdak bisa dijadikan sebagai hujjah), maka Anda jangan terburu-buru mengikutinya sebelum mendapatkan keterangan apakah ada pernyataan serupa dari ulama yang lain. Apabila ada ulama lain yang menyatakan perawi tersebut tsiqah, maka Anda jangan mengikuti pendapat Abu Hatim Ar-Razi karena syarat yang ditetapkannya sangat ketat."
Guru-gurunya
Ia mendapatkan riwayat hadis dari:[2]
- Muhammad bin Abdullah al-Anshari
- Utsman bin al-Haitsam
- Affan bin Muslim
- Abu Nu'aim Ubaidilah bin Musa
- Adam bin Abi Iyyas
- Abu al-Yaman
- Sa'id bin Abi Maryam
- Abu Mashar
- Abu Nu’aim al-Fadl bin Dukain
- Zuhair bin ‘Abbad
- Yahya bin Bukair
- Tsabit bin Muhammad az-Zahid
- ‘Abdullah bin Salih al-’Ijli
- ‘Abdullah bin Sâlih al-Kâtib
- Qabisah
- Abu Muhammad Harb bin Ismail Al Kirmani
Murid-muridnya
Ia meriwayatkan hadis kepada:
- Abu Dawud
- An-Nasa'i
- Anaknya, Ibnu Abi Hatim
- Abadah bin Sulaiman al-Marwazi
- Ar-Rabi' bin Sulaiman al-Muradi
- Yunus bin Abdul A'la
- Muhammad bin 'Auf ath-Tha`i
- Abu Zur'ah ar-Razi
- Muhammad bin Harun
- Abu 'Awwanah al-Isfaraini
- Ibnu Abi ad-Dunya
- Abu Zur'ah ad-Dimasyqi
- Abu 'Amru bin Hakim
- Musa bin Ishaq al-Anshari
- Abul-Hasan al-Qattân
- Abū Bishr ad-Dūlâbî
Kematian
Abu Hatim wafat di Ray bulan Sya'ban tahun 275 H.[1] Ia memiliki anak yang juga menjadi ulama besar Abdurrahman bin Abi Hatim.
Referensi
- 1 2 3 4 Farid, Syaikh Ahmad (2006). 60 Biografi Ulama Salaf. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. ISBN 9795923692
- 1 2 Mustofa, Imron (2017-11-06). Sejarah Hidup Para Penyambung Lidah Nabi. LAKSANA. hlm. 406. ISBN 978-602-407-215-5.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |
Artikel bertopik Ulama ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |