Minggu, 01 November 2026
06:45 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Abdoel Rivai

dokter dan jurnalis di Hindia Belanda

Bagikan:
Abdoel Rivai
Lahir(1871-08-13)13 Agustus 1871
Meninggal16 Oktober 1937(1937-10-16) (umur 66)
Almamater
PekerjaanDokter, Ilmuwan, Penulis, Wartawan
Dikenal karenaOrang Indonesia pertama yang menerima gelar doktor di luar negeri

Abdoel Rivai (13 Agustus 1871 – 16 Oktober 1937) adalah seorang dokter, ilmuwan, penulis, dan wartawan Indonesia . Ia merupakan orang Indonesia pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari luar negeri (Eropa), sarjana kedokteran Indonesia pertama yang melanjutkan pendidikan di Belanda, dan sekaligus orang Indonesia pertama yang meraih gelar akademik tertinggi doktor di luar negeri dari Universitas Gent, Belgia.[1] Rivai dianugerahi gelar sebagai Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974 oleh Pemerintah Indonesia.

Riwayat hidup

Abdoel Rivai lahir dari pasangan Abdul Karim dan Siti Kemala Ria. Rivai memiliki seorang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan. Ayahnya bekerja sebagai guru di sekolah Melayu. Rivai memiliki watak yang keras, ulet, serta otak yang cemerlang. Pada tahun 1886, di saat masih berusia 15 tahun dia diterima bersekolah di STOVIA. Tamat STOVIA sebagai lulusan Indonesia pertama pada tahun 1894, ia ditugaskan menjadi dokter di Medan. September 1899, Rivai melanjutkan pendidikan ke Belanda sambil membantu berbagai surat kabar di Indonesia.

Rivai merupakan orang Hindia Belanda pertama yang bersekolah kedokteran di luar negeri (Belanda), dan berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Utrecht dan Universitas Amsterdam pada tahun 1907. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Universitas Gent, Belgia, melalui ujian terbuka dan dinyatakan lulus pada 23 Juli 1908, sekaligus mencatatkan namanya sebagai pribumi Indonesia pertama yang meraih gelar akademik S3 doktor di luar negeri (Eropa).[2][3]

Pada awal abad ke-20 Rivai terlibat perdebatan dengan A.A Fokker, pejabat Belanda yang mengklaim lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang orang Melayu itu sendiri. Dalam perdebatan ini, Fokker berang karena ada orang inlander yang berani menantangnya. Akibat kegemilangannya dalam berdebat, Rivai diperbolehkan sekolah di Utrecht.

Wartawan

Pada tahun 1 Juli 1900, Rivai (bekerja sama dengan Y Strikwerda) memprakarsai surat kabar Pewarta Wolanda. Kendati terbit dari Amsterdam, Pewarta Wolanda hadir dalam bahasa Melayu. Selain mengurusi Pewarta Wolanda, Rivai sering mengirimkan tulisannya ke berbagai media massa yang terbit di Belanda maupun Hindia. Berkat ketajaman tulisannya, Rivai lebih dikenal sebagai seorang wartawan dibandingkan dokter.

Bersama Henri, Constant, Claude, Clockener, Brousson, Rivai menerbitkan Bendera Wolanda pada 15 April 1901. Juga bersama Brousson, ia mendirikan usaha penerbitan Bintang Hindia pada Juli 1902. Pada tahun 1904, Rivai pernah menulis sebuah sajak-puja yang ditujukan khusus untuk Ratu Emma. Berikut sajak yang dibuat Dr. Rivai:

Sembah didjundjunglah kami

Seru Mengundjung Berami-rami

Ke-arasj Allah, Tuhan yang sami

Terhampar Oetjap alami

Koningin EMMA, Baginda Soeri

Sep'rampat abat tachta di-Puri

Wangi-harumi bagai kasturi

Bani ihatat asoeh-atoeri

Soeri hadlirkan Mustika Bani

Kan jadi radja Nagra insani

Di Insulinda bagai disini

Satu icapan: Soeri Ihsani

Selanjutnya, Rivai memutuskan untuk keluar dari Bintang Hindia pada tahun 1907. Hingga akhirnya Bintang Hindia meredup, dan pada tahun 1910, media yang pernah menggebrak dunia pers Belanda dan Hindia itu berakhir. Ia juga membantu di Bintang Hinen West dan Alegemeen Handelsblad di Amsterdam. Sewaktu mengadakan perjalanan ke berbagai negara di Eropa dan Amerika pada kurun (1919-1921), ia mengirimkan karangannya ke berbagai surat kabar di Indonesia.

Aktivitas Politik

Setibanya dari Belanda pada tahun 1911, Rivai turut mendukung pembentukan Indische Partij (IP) di Sumatera. Tahun 1913, IP dibubarkan karena dianggap membahayakan pemerintah kolonial. Mantan aktivisnya kemudian mendirikan Insulinde. Pada tahun 1918, ia diangkat sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Insulinde.[4] Ia kemudian menetap di Jakarta, sebagai pembantu utama surat kabar Bintang Timur. Sementara itu surat kabar Pewarta Deli, Medan menyebutnya Sebagai "Bapak dalam golongan Jurnalistik".

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Ahsan, Ivan Aulia. "Abdul Rivai, Agen Ganda Pribumi-Belanda". Tirto.id. Diakses tanggal 2021-11-30.
  2. ↑ "Abdul Rivai: Wartawan dan Doktor Bumiputra Pertama - senandika.web.id Tokoh". senandika.web.id. 2018-05-25. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-11-30. Diakses tanggal 2021-11-30.
  3. ↑ "Dokter Indonesia Pertama Lulusan Belanda". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2019-03-26. Diakses tanggal 2021-11-30.
  4. ↑ Setiono, Benny. G (2002). Tionghoa dalam Pusaran Politik. Jakarta: TransMedia. hlm. 355.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan