Selasa, 27 Oktober 2026
12:26 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Çaka Bey

Çaka Bey

jenderal Seljuk

Bagikan:
Çaka Bey
250px-%C3%87aka_Bey_%28Tzachas%29_bust_at_Istanbul_Naval_Museum.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Representasi modern Çaka Bey di Museum Angkatan Laut Istanbul
Meninggal1093 (1094)

Tzachas (bahasa Yunani:Τζαχᾶς), juga dikenal sebagai Çaka Bey (bahasa Turki:Çaka Bey)[dn 1] adalah seorang komandan militer Seljuk Turki abad ke-11 yang memerintah sebuah negara merdeka di Smyrna (sekarang Izmir). Pada awalnya, ia berdinas di militer Bizantium, sebelum dirinya memberontak dan menduduki Smyrna, sebagian besar tanah pesisir Aegea dari Asia Kecil dan pulau-pulau pesisir pantai pada tahun 1088–1091. Pada puncak kekuasannya, ia bahkan mendeklarasikan dirinya sebagai Kaisar Bizantium, dan bersumpah untuk menyerang Konstantinopel bersama dengan Pecheneg. Pada tahun 1092, ekspedisi angkatan laut Bizantium di bawah pimpinan John Doukas menimbulkan kekalahan yang telak untuknya dan mereka juga merebut kembali Lesbos, dan pada tahun berikutnya ia tewas terbunuh oleh pengkhianatan anak mantunya, Kilij Arslan I. Smyrna dan sisa dari wilayah kekuasaan Çaka Bey sebelumnya diduduki kembali oleh Bizantium beberapa tahun kemudian, pada tahun kr. 1097.

Kehidupan

Sangat sedikit yang diketahui tentang kehidupannya, dan semuanya kebanyakan berasal dari satu sumber, Alexiad karya putri Bizantium Anna Komnene—anak perempuan dari Kaisar Alexius I Komnenus (m. 1081–1118). Ia juga disebutkan dalam Danishmendname abad ke-13, tetapi itu tidak termasuk sumber tepercaya karena karakteristik semi-legendaris dari isinya.[1]

Menurut teks Alexiad, Çaka Bey awalnya adalah seorang penjarah, yang dijadikan sebagai tahanan oleh Bizantium selama Nikephoros III Botaneiates (m. 1078–1081) berkuasa. Çaka Bey masuk ke dinas militer Bizantium dan kariernya melesat cepat melalui dukungan kekaisaran, menerima gelar protonobilissimus dan hadiah yang banyak. Namun, saat Alexius I Komnenus menggulingkan Botaneiates pada tahun 1081, Çaka Bey kehilangan posisinya dan melarikan diri dari Bizantium.[1][2]

Dari tahun 1088, ia menggunakan markasnya di Smyrna untuk berperang melawan Bizantium. Mempekerjakan perajin Kristen, ia membangun sebuah armada dan menggunakannya untuk menaklukkan Phokaia, kepulauan Lesbos (kecuali untuk benteng di Mithymna), Samos, Khios dan Rodos di bagian timur Laut Aegea. Sebuah armada Bizantium di bawah pimpinan Niketas Kastamonites dikirim untuk menghadapinya, tetapi Çaka Bey dapat mengalahkannya dalam sebuah pertempuran.[2][3] Beberapa cendekiawan modern telah berspekulasi bahwa selama periode ini, ia mungkin telah bekerja sama—dan bahkan mungkin berkoordinasi, dengan dua pemberontak Yunani Bizantium kontemporer, Rhapsomates di Siprus, dan Karykes di Kreta.[1]

Pada tahun 1090 hingga 1091, Bizantium di bawah Konstantin Dalassenos berhasil merebut kembali Khios.[2][4] Tidak terpengaruh, Çaka Bey membangun kembali pasukannya dan melanjutkan serangannya, bahkan menyatakan dirinya sebagai kaisar (basileus) dan melanjutkan pencarian demi mendapatkan aliansi melawan Alexius I dengan Pecheneg di Thrace untuk melakukan serangan gabungan di Konstantinopel.[1][2] Pada tahun 1092, Dalassenos dan megas doux yang baru, John Doukas, dikirim untuk menghadapi Çaka Bey, dan menyerang benteng Metilene di Lesbos. Çaka Bey melakukan perlawanan selama tiga bulan, tetapi akhirnya harus menegosiasikan penyerahan benteng. Selama dirinya kembali ke Smyrna, Dalassenos menyerang armada Turki, yang hampir dihancurkan.[2][5]

Pada musim semi tahun 1093, Çaka Bey menyerang pelabuhan Abydos di Laut Marmara. Alexius I meminta kepada Sultan dari Kesultanan Seljuk Rum, Kilij Arslan I (m. 1092–1107), yang menikah dengan putri Çaka Bey dan dengan demikian menjadi anak mantunya, untuk menyerang Çaka Bey dari belakang. Sultan pergi ke Abydos, tempat di mana—dengan dalih mengundang Çaka Bey untuk perjamuan—ia membunuh ayah mertuanya.[2][6] Namun, pada tahun ca 1097, seorang "Çaka Bey"—yang mungkin merupakan Çaka Bey yang asli—dilaporkan masih mempertahankan Smyrna ketika tentara Bizantium di bawah pimpinan John Doukas merebut kembali kota tersebut.[1][2][7]

Lihat juga

Catatan kaki

  1. ↑ Bentuk bahasa Turki dari "Tzachas" tidak muncul dalam dokumen sejarah apapun. Nama "Çaka" atau "Çaka Bey" lebih sering digunakan terutama di Turki zaman modern, setelah Akdes Nimet Kurat menggunakannya dalam karyanya yang berjudul Çaka: Orta Zamanda İzmir ve Yakınındaki Adaların Türk Hakimi, Istanbul, 1936, ... yüksek siyasî ve askerî görüş sahibi olarak büyük önem taşıyan bu bey'in adının gerçek söylenişi henüz tamamen kesinliğe kavuşmuş değildir. Bu hususta şimdiye kadar üç ihtimal ileri sürülmüştür: Çaka, Çağa, Çakan. AN Kurat'ın bunu «Çaka» kabûl ederek eserini de «Çaka Bey» diye adlandırması, özellikle memleketimizde Çaka şeklinin yaygınlaşmasına yol açmıştır denebilir. (Tarih Dergisi, Cilt 20, İstanbul Üniversitesi Edebiyat Fakültesi, İbrahim Horoz Basımevi, 1983, p. 56.)

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Mallett 2013
  2. 1 2 3 4 5 6 7 Brand 1991, hlm. 2134.
  3. ↑ Anna Komnene. Alexiad, VII.8 (Dawes 1928, hlm. 183).
  4. ↑ Anna Komnene. Alexiad, VII.8 (Dawes 1928, hlm. 183–187).
  5. ↑ Anna Komnene. Alexiad, IX.1 (Dawes 1928, hlm. 214–217).
  6. ↑ Anna Komnene. Alexiad, IX.3 (Dawes 1928, hlm. 219–220).
  7. ↑ Anna Komnene. Alexiad, XI.5 (Dawes 1928, hlm. 281)

Rujukan

  • Brand, Charles M. (1991). "Tzachas". Dalam Kazhdan, Alexander (ed.). The Oxford Dictionary of Byzantium. Oxford and New York: Oxford University Press. hlm. 2134. ISBN 978-0-19-504652-6.
  • Dawes, Elizabeth A., ed. (1928). The Alexiad. London, England: Routledge & Kegan Paul.
  • Mallett, Alex (2013). "Çaka Bey". Dalam Fleet, Kate; Krämer, Gudrun; Matringe, Denis; Nawas, John; Rowson, Everett (ed.). Encyclopaedia of Islam, 3rd Edition. Brill Online. Diakses tanggal 23 Februari 2015.
Periode pertama
(abad ke-11 dan ke-12)
Periode kedua
(abad ke-13 dan ke-15)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan