Rabu, 28 Oktober 2026
04:17 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Zaman Yamato

Zaman Yamato

Bagikan:
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Jepang
330px-Emperor-Go-Daigo-by-Ogata-Gekko-1904.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Periode
Paleolitiksebelum 14.000 SM
Jōmon14.000–300 SM
Yayoi300 SM – 250 M
Kofun250–538
Asuka538–710
Nara710–794
794–1185
1185–1333
1336–1573
1573–1603
1603–1868
1868–1912
1912–1926
Shōwa 1926–1989
1989–2019
2019–sekarang

Zaman Yamato (大和時代, yamato jidai) adalah salah satu zaman dalam pembagian periode sejarah Jepang yang dimulai sekitar abad ke-4 sampai abad ke-6. Kadang-kadang zaman Asuka (pertengahan hingga akhir abad ke-6 sampai abad ke-7) juga dimasukkan ke dalam zaman Yamato. Zaman Yamato berada di tengah-tengah zaman Yayoi dan zaman Nara. Zaman ini ditandai dukungan terhadap tahta Yamato yang semakin kuat dan pembangunan Kofun yang berkelanjutan di berbagai tempat.

Istilah zaman Yamato sudah jarang dipakai lagi, sebagai gantinya lebih umum digunakan istilah zaman Kofun dan zaman Asuka.

Pada masa awal zaman Yamato, penguasa Jepang adalah pemimpin lokal seperti klan Ōtomo, klan Mononobe dan klan Soga. Kekuasaan pemerintah kemudian berada di tangan kaisar setelah Reformasi Taika (645) dan dikeluarkannya Konstitusi Tujuh Belas Pasal (十七条憲法, Jūshichijō kempō) yang disusun Pangeran Shōtoku, sistem Dua Belas Jenjang Pangkat Istana (冠位十二階, Kan-i jūnikai).

Sistem politik berdasarkan sistem hukum Ritsuryō mulai diperkenalkan pada saat ini, istana kaisar memperbarui sistem nama klan dan nama keluarga (氏姓制度, shisei seido), memberlakukan sistem pajak terpadu, dan tanah milik bangsawan semuanya diklaim sebagai milik kaisar (Kōchi Kōmin-sei), dan memperbarui organisasi pemerintahan daerah ke arah pemerintah sentralisasi.

Pada awal pertengahan abad ke-6, agama Buddha masuk ke Jepang dari semenanjung Korea. Jepang juga mengirim diplomat utusan ke Dinasti Sui dan Dinasti Tang di Tiongkok. Pada zaman ini berkembang pengaruh budaya Tiongkok dalam bidang seni agama Buddha dan teknik seperti teknik pertanian, penempaan besi, dan arsitektur.

Lihat pula

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan