Senin, 21 September 2026
08:44 WIB
TERKINI
Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak Cek Fakta Kiat Cerdas Deteksi Hoaks: Hindari Jebakan Berita Palsu di Media Sosial Cek Fakta Waspada! Penipuan Undian Berhadiah Catut Nama BNI Kembali Marak Climate BMKG Ungkap Potensi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Indonesia Pekan Ini Moto Gp Veda Ega Peringkat 16 FP2 Moto3 Austria, Hakim Danish Tembus Empat Besar Moto Gp Drama Kualifikasi Moto3 Austria: Veda Ega ke-19, Uriarte Pecahkan Rekor Hukum Selebgram JP Terjerat Vape Narkoba: Stres Picu Konsumsi Etomidate Golongan II Arsip Mengenang Multatuli: Kisah 84 Hari yang Mengukir Sejarah Lebak Arsip Max Havelaar di Sekolah Belanda: Antara Pedoman dan Kebebasan Memilih Megapolitan Aroma Tak Sedap Ganggu Pejalan Kaki Dekat Halte IRTI Monas Tren Trump Larang CNN, MS NOW, Politico dari Gedung Putih: Konflik Media Memuncak
Yaki

Yaki

yaki adalah monyet hitam yg mememiliki jambul menonjol diatas kepala nya

Monyet hitam sulawesi
250px-Crested_Black_Macaque_%28Macaca_nigra%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Subordo: Haplorhini
Infraordo: Simiiformes
Famili: Cercopithecidae
Genus: Macaca
Spesies:
M. nigra
Nama binomial
Macaca nigra
Desmarest, 1822
250px-Macaca_nigra_%282%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sekelompok yaki di Cagar Alam Duasudara, Sulawesi Utara.

Yaki atau monyet wolai atau monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) adalah satwa endemik Indonesia yang hanya terdapat di Pulau Sulawesi bagian utara dan beberapa pulau di sekitarnya.[1][2] Yaki merupakan jenis makaka terbesar di Pulau Sulawesi.[3] Ciri khas yaki adalah seluruh tubuhnya berwarna hitam, memiliki rambut berbentuk jambul di atas kepala, serta pantat berwarna merah muda.[1]

Pertalaan

Monyet hitam memiliki ciri tubuh yang mudah dibedakan dengan spesies lainnya.[1] Tingginya sekitar 44-60 centimeter, dengan berat badan sekitar 7-15 kilogram, cukup besar jika dibandingkan dengan monyet sulawesi lainnya.[1] Kulit monyet hitam berwarna hitam legam dengan bulu hitam mengkilat yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah, telapak tangan, dan pantat.[1] Moncongnya lebih menonjol jika dibandingkan dengan jenis kera lain

Ciri khasnya adalah kepala hitam yang memiliki jambul hingga menyerupai gaya rambut model punk.[1][1] monyet hitam hanya memiliki ekor sepanjang 20 sentimeter, berbeda dengan kera-kera jenis lain yang umumnya memiliki ekor relatif panjang.[1] Sehingga, mereka sekilas akan tampak tidak memiliki ekor.[1] Selain itu, cirinya yang paling mencolok adalah pantatnya yang berwarna merah muda.[1] Bantalan tunggingnya berbentuk seperti ginjal, dan berwarna kuning.[1] Warna tubuh betina dan muda lebih pucat jika dibandingkan dengan monyet hitam jantan dewasa.

Makanan

Seperti halnya monyet-monyet lain yang hidup di hutan, yaki memakan berbagai bagian tumbuhan, seperti daun, pucuk daun, biji, bunga, umbi, dan buah.[1][4] Mereka juga memakan beberapa jenis serangga, moluska, invertebrata kecil, bahkan ular.[1][4] Terdapat lebih dari 145 jenis buah yang dimakan Yaki.[1] Yaki akan pergi ke tepi laut untuk mencari moluska.[1]

Habitat

Yaki dapat dijumpai di hutan hujan (pada ketinggian sedang), di hutan primer dan sekunder, daerah pesisir maupun di dataran tinggi hingga ketinggian 2000 di atas permukaan laut (dpl).[1] Dari beberapa habitat hidupnya, yaki lebih menyukai tinggal di hutan primer, karena cocok untuk tempat tidur dan mencari makan.[1][4] Mereka juga sering turun ke perkebunan untuk mencari makan dan merusak panen, sehingga yaki sering dianggap sebagai hama tanaman.[1]

Penyebaran

250px-R%C3%A9partition_du_macaque_%C3%A0_cr%C3%AAte.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tempat tinggal yaki

Populasi yaki tersebar di Sulawesi bagian timur laut, Indonesia dan pulau-pulau yang berdekatan dengan Pulau Manadotua dan Pulau Talise, serta tersebar di beberapa titik di hutan primer Cagar Alam Tangkoko, Bitung, mulai Cagar Alam Tangkoko Batuangus bagian utara hingga ke sungai Onggak Dumoga dan Gunung Padang.[1][5] Satwa ini juga tersebar di hutan lindung Sulawesi Utara seperti Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Manembo Nembo, Kota Kotamobagu, dan Modayak.[5] Ada populasi yang cukup besar di Pulau Bacan di Kepulauan Maluku (Indonesia).

Perilaku

Sosial

Dalam habitatnya, yaki memilki kelompok besar yang terdiri dari 20-70 ekor.[1] Setiap kelompok didominasi oleh yaki betina dibandingkan yaki jantan, dengan perbandingan 3,4:1.[1] Pada setiap kelompok selalu ada salah satu yaki dijadikan pemimpin kelompok.[5] Dalam kehidupannya, beberapa perilaku yaki juga memiliki kemiripan dengan manusia, seperti adanya hierarki dalam kelompok dan perebutan kekuasaan.[6] Dalam kelompoknya, yaki memberlakukan sistem matrilineal atau anggota tetap dari kelompok adalah yaki betina, sedangkan yaki jantan sering berpindah-pindah kelompok.[3] Pada musim kawin, pantat Yaki akan berwarna lebih menyala, terutama Yaki betina. Pada Yaki bertina, warna pink yang lebih cerah ini akan bertahan sampai setelah Yaki melahirkan anaknya, sedangkan pada Yaki jantan, hanya pada saat musim kawin saja.

Aktivitas harian

250px-Macaca_nigra_self-portrait_%28rotated_and_cropped%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Yaki swafoto

Yaki tergolong hewan semiarboreal dan teresterial, selain menghabiskan waktu di pepohonan, yaki juga sering berjalan-jalan di atas tanah.[1][3] Daerah jelajahannya berkisar antara 114-320 hektar, dan jelajahan hariannya bisa mencapai 5 kilometer.[1] Cara bergerak yaki sangat bervariasi, terkadang mereka berjalan menggunakan kedua kakinya (bipedal), menggantung (brankiasi), atau memanjat.[1] Mereka juga tergolong hewan diurnal, yaitu mayoritas aktivitasnya dilakukan pada siang hari.[1][3] Setelah matahari terbenam, Yaki akan kembali ke wilayahnya dan tidur di atas pepohonan yang tinggi dan rimbun bersama dengan kawanannya.

Terancam

250px-Macaca_nigra_Duasudara_Nature_Reserve.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seekor yaki betina di Cagar Alam Duasudara kehilangan kaki kanannya akibat jerat. Yaki sering diburu untuk dikonsumsi.

Populasi yaki terancam punah karena hilangnya habitat akibat penebangan hutan dan perburuan untuk perdagangan hewan hidup.[6][7] Masyarakat sering memburu yaki untuk diambil dagingnya.[6] Permintaan daging yaki semakin meningkat ketika menjelang Natal dan Tahun baru.[6] Dalam 3 generasi terakhir (sekitar 40 tahun), populasi tersebut telah berkurang lebih dari 80%. Hingga kini populasi yaki diperkirakan hanya tersisa 3.000 ekor yang ada di Hutan Tangkoko, Sulawesi Utara.[7] Populasi yang dikenali lebih dari 100.000 individu tidak dipertimbangkan dalam penilaian ini karena merupakan hama dan merupakan ancaman bagi Pulau Bacan (Kepulauan Maluku).

Undang-Undang

Satwa ini dilindungi Berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999.[7]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Jatna Supriatna, Edy Hendras Wahyono (2000). Panduan Lapangan Primata Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-355-9. Halaman 101-108.
  2. Oman Karmana. Cerdas Belajar Biologi. PT Grafindo Media Pratama. ISBN 978-979-758-442-9. Halaman 143-145.
  3. 1 2 3 4 www.gocelebes.com: Gaya Rambut “Punk” Kera Hitam Sulawesi. Diakses 11 Mei 2014
  4. 1 2 3
  5. 1 2 3
  6. 1 2 3 4 www.nationalgeographic.co.id: Monyet Hitam Diburu dan Dikonsumsi Diarsipkan 2014-07-04 di Wayback Machine.. Diakses 12 Mei 2012
  7. 1 2 3 "Populasi Terus Menurun, Yaki 'Si Monyet Petani' Kini Terancam Punah". Sindonews.com. 18 Juni 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-12. Diakses tanggal 12 Mei 2014.

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Macaca nigra.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan