Senin, 26 Oktober 2026
11:31 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung

Wayang Ajen

Bagikan:

Wayang Ajen adalah bentuk pertunjukan wayang kontemporer berbasis wayang golek Sunda yang dikembangkan sejak tahun 1998 di Bekasi, Jawa Barat oleh dalang Wawan S. Gunawan atau biasa dikenal sebagai Wawan Ajen bersama budayawan Arthur S. Nalan.[1] Kata Ajen berasal dari bahasa Sunda ngajén yang berarti "nilai" atau "menghargai", merujuk pada penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi wayang golek Nama ini pertama kali digunakan oleh Arthur S. Nalan sebagai penanda identitas pertunjukan wayang yang tidak hanya berorientasi pada hiburan, melainkan juga pendidikan dan transformasi sosial.

Sejarah

Satu tahun setelah, pertunjukan Wayang Ajen pertama kali dipentaskan di Indonesia yakni Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakartata pada Pekan Wayang Nasional dengan membawakan lakon berjudul ”Kidung Kurusetra”. Sanggar Wayang Ajen resmi didirikan di Bekasi Timur pada 2000 untuk menjadi pusat pelatihan dan pengembangan seni ini. Sejak sekitar tahun 2000, Wayang Ajen telah tampil di panggung internasional di lebih dari 47 negara termasuk Prancis, Yunani, Spanyol, Mesir, India, dan Korea Selatan. Sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia, Wayang Ajen tampil di festival internasional seperti Alexandria International Puppet Festival (Mesir) dan Bucheon World Intangible Cultural Heritage Expo (Korea Selatan).[2] Wayang Ajen sebagai wayang kontemporer Indonesia telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2003.[3]

Ritual

Lakon-lakon Wayang Ajen bersifat carangan, yaitu cerita baru yang diambil dari Mahabharata atau Ramayana dengan interpretasi kreatif dan pesan moral relevan. Tari yang digunakan pada awal pertunjukan Wayang Ajen adalah Tari Badaya. Tari ini dipakai karena tidak menggambarkan penokohan seperti tari wayang yang lain, tetapi hanya menggambarkan ungkapan pengabdian dan penghormatan kepada raja atau kepada petinggi di keraton serta menggambarkan pengabdian emban terhadap sang raja, atau secara lahiriahnya mengungkapkan abdi keraton.[4]

Kontroversi

Beberapa kalangan menyebut Wayang Ajen telah merusak nilai-nilai estetika dan nilai-nilai luhur dalam wayang tersebut. Selain itu, Wayang Golek juga mendapatkan nilai negatif karena dianggap kurang artistik, sekadar hiburan biasa, remeh, sehingga wayang ini sering dianggap mengalami kemunduran. Para dalang Wayang Golek induk dari Wayang Ajen ini juga dituduh merusak bentuk wayang.[5]

Daftar Referensi

  1. ↑ Kurnia, Kiki. "Ini Arti dan Makna Nama Ajen dalam Seni Wayang Ajen Karya Wawan Gunawan - Koran Gala". Ini Arti dan Makna Nama Ajen dalam Seni Wayang Ajen Karya Wawan Gunawan - Koran Gala. Diakses tanggal 2025-06-17.
  2. ↑ "Si Ucrit Wayang Ajen". Si Ucrit Wayang Ajen (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-17.
  3. ↑ Nalan, Arthur Supardan (2020). [file:///Users/mac/Downloads/125937359%20(1).pdf "Wayang Ajen: Cultural Media Diplomated Culture"] (PDF). Atlantis Press. 419.{{cite journal}}: Periksa nilai |url=
  4. ↑ SURYA PRATIWI, DWI YULITA (2016). "NILAI ESTETIS TARI BADAYA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG AJEN" (PDF). Diakses tanggal 17 Juni 2025.
  5. ↑ Tri Gunarto, Apriza; Qodariah, Lelly (2020). "Eksistensi Kesenian Wayang Ajen di Tengah Budaya Populer (Studi Kasus: Sanggar Wayang Ajen, Duren Jaya Bekasi Timur)". Journal of History Education. 1 (3): 156–168. doi:10.22236/jhe.v1i3.4730.{{cite journal}}: |first3= tidak memiliki |last3=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan