Jumat, 16 Oktober 2026
03:53 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Pondok Paman Tom

Pondok Paman Tom

Bagikan:
Pondok Paman Tom
250px-UncleTomsCabinCover.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Halaman judul untuk Jilid I dari edisi pertama Pondok Paman Tom (1852)
PengarangHarriet Beecher Stowe
Judul asliUncle Tom's Cabin; or, Life Among the Lowly.
IlustratorHammatt Billings
NegaraAmerika Serikat
BahasaInggris
GenreNovel
Diterbitkan20 Maret 1852 (dua jilid)
PenerbitJohn P. Jewett and Company, setelah terbit mingguan dalam The National Era mulai dari tanggal 5 Juni 1851
OCLC1077982310
813.3
LCCPS2954 .U5
Diikuti olehA Key to Uncle Tom's Cabin 

Pondok Paman Tom (bahasa Inggris:Uncle Tom's Cabin; or, Life Among the Lowly) adalah sebuah novel antiperbudakan karya penulis asal Amerika Serikat, Harriet Beecher Stowe. Novel yang terbit dalam dua jilid pada tahun 1852 ini berdampak besar bagi pergeseran cara pandang masyarakat terhadap warga Amerika keturunan Afrika serta perbudakan di sana. Karya ini pun disebut-sebut sebagai "peletak batu pertama bagi pecahnya Perang Saudara Amerika".[1][2][3]

Lahir di Connecticut, Stowe adalah seorang pengajar di Seminari Wanita Hartford sekaligus anggota keluarga rohaniwan Beecher yang dikenal vokal menentang perbudakan. Melalui novel sentimental ini, ia berupaya memotret kekejaman perbudakan sembari menegaskan keyakinannya bahwa cinta kasih Kristiani mampu melenyapkan praktik tersebut.[4][5][6] Novel ini berpusat pada tokoh Paman Tom, seorang budak kulit hitam yang tabah. Kisahnya menjadi poros utama yang menghubungkan narasi karakter-karakter lainnya.

Di Amerika Serikat, Pondok Paman Tom merupakan novel terlaris sekaligus buku dengan angka penjualan tertinggi kedua pada abad ke-19 setelah Alkitab.[7][8] Karya ini diyakini turut mengobarkan semangat gerakan antiperbudakan pada dekade 1850-an.[9] Besarnya pengaruh buku ini memicu munculnya sebuah kisah, yang diragukan kebenarannya, tentang Abraham Lincoln yang menyapa Stowe di awal Perang Saudara dengan ucapan, "Jadi, inilah wanita mungil yang memulai perang besar ini."[10][11]

Buku tersebut beserta pentas drama yang terinspirasi darinya turut memopulerkan berbagai stereotipe negatif terhadap orang kulit hitam,[12][13][3] termasuk stereotipe yang melekat pada karakter utamanya sendiri, "Paman Tom". Istilah tersebut akhirnya identik dengan julukan bagi seseorang yang dianggap terlalu tunduk atau menghamba.[14] Asosiasi negatif yang muncul belakangan ini, sampai batas tertentu, telah mengaburkan dampak historis novel tersebut sebagai "instrumen penting antiperbudakan".[15] Meskipun demikian, novel ini tetap menjadi "tonggak sejarah" dalam sastra protes.[16] Karya-karya setelahnya, seperti The Jungle karya Upton Sinclair dan Silent Spring karya Rachel Carson, diyakini sangat terpengaruh oleh fondasi yang diletakkan oleh buku ini.[17]

Penulis

Harriet Elizabeth Beecher Stowe, seorang guru kelahiran Connecticut dari Hartford Female Academy dan seorang abolisionis aktif, menulis cerita ini untuk penerbitan berkala dan memfokuskan novel ini pada tokoh Paman Tom, seorang budak hitam.

Plot

Diceritakan awalnya Paman Tom dimiliki oleh keluarga Arthur Selby dari Kentucky, lalu dijual kepada Augustine St. Claire dari Louisiana, dan akhirnya kepada Simon Legree, yang memperlakukan Tom dengan kejam, hingga menyebabkan kematiannya.

Pondok Paman Tom ditulis dengan gaya sentimental dan melodramatik yang umum pada novel dan fiksi dalam negeri (juga disebut fiksi wanita) abad ke-19 itu. Segera setelah diterbitkan, novel ini menyebabkan kegemparan di seluruh Amerika Serikat, dan mendapatkan hujan kritik dari Amerika bagian Selatan. Pengaruh buku ini begitu besar sehingga ketika bertemu dengan Harriet Beecher pada awal Perang Saudara Amerika, Presiden Abraham Lincoln berkata padanya, "Jadi inilah nyonya kecil yang membuat perang besar ini."

Novel ini laris, terjual hingga 1 juta kopi.

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Uncle Tom's Cabin.


Ikon rintisan

Artikel bertopik buku ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  1. ↑ Kaufman 2006, hlm. 18. sfn error: tanpa target: CITEREFKaufman2006 (bantuan)
  2. ↑ Painter 2000, hlm. 245. sfn error: tanpa target: CITEREFPainter2000 (bantuan)
  3. 1 2 DeLombard 2012. sfn error: tanpa target: CITEREFDeLombard2012 (bantuan)
  4. ↑ Kurian 2010, hlm. 580. sfn error: tanpa target: CITEREFKurian2010 (bantuan)
  5. ↑ de Rosa 2003, On p. 122, de Rosa quotes Tompkins 1985, p. 145 that Stowe's strategy was to destroy slavery through the "saving power of Christian love".. sfn error: tanpa target: CITEREFde_Rosa2003 (bantuan)
  6. ↑ Tompkins 1985, On p. 141, Tompkins writes "Stowe conceived her book as an instrument for bringing about the day when the world would be ruled not by force, but by Christian love.". sfn error: tanpa target: CITEREFTompkins1985 (bantuan)
  7. ↑ DiMaggio 2014, hlm. 15. sfn error: tanpa target: CITEREFDiMaggio2014 (bantuan)
  8. ↑ Smith 2001, hlm. 221. sfn error: tanpa target: CITEREFSmith2001 (bantuan)
  9. ↑ Goldner 2001, hlm. 82. sfn error: tanpa target: CITEREFGoldner2001 (bantuan)
  10. ↑ Stowe 1911, hlm. 203. sfn error: tanpa target: CITEREFStowe1911 (bantuan)
  11. ↑ Vollaro 2009. sfn error: tanpa target: CITEREFVollaro2009 (bantuan)
  12. ↑ Hulser 2003. sfn error: tanpa target: CITEREFHulser2003 (bantuan)
  13. ↑ Jamieson 2018, hlm. ??. sfn error: tanpa target: CITEREFJamieson2018 (bantuan)
  14. ↑ Jones 2019, hlm. 1465–1467. sfn error: tanpa target: CITEREFJones2019 (bantuan)
  15. ↑ Appiah & Gates 2005, hlm. 544. sfn error: tanpa target: CITEREFAppiahGates2005 (bantuan)
  16. ↑ Smith 2008, hlm. 161. sfn error: tanpa target: CITEREFSmith2008 (bantuan)
  17. ↑ Weinstein 2004, hlm. 13. sfn error: tanpa target: CITEREFWeinstein2004 (bantuan)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan