Senin, 19 Oktober 2026
14:50 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Harriet Beecher Stowe

Harriet Beecher Stowe

Bagikan:
250px-Beecher-Stowe_3.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Harriet Beecher Stowe.

Harriet Beecher Stowe (14 Juni 1811 – 1 Juli 1896) ialah seorang pengarang Amerika Serikat.

Karya pertama yang ditulisnya Pondok Paman Tom adalah karya terbesar yang ditulisnya, terjual sebanyak jutaan kopi. Diterbitkan mulai pada tahun 1851, buku ini menyerang atas kebiasaan perbudakan di AS bagian selatan, yang kelak akan menyulut Perang Saudara Amerika. Awalnya muncul sebagai cerita bersambung 40 minggu di penerbitan berkala milik kelompok abolisionis, "National Era", mulai tanggal 5 Juni 1851. Suaminya Calvin Ellis Stowe merupakan seorang pendeta.


Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Harriet Beecher Stowe.

Kehidupan Pribadi

Harriet berasal dari keluarga Puritan, ayahnya adalah seorang teolog juga pendeta bernama Lyman Beecher. Ibunya bernama Roxanna Foote Beecher, meninggal ketika Harriet masih kecil. Ketujuh kakak lelakinya menjadi pendeta, salah satu yang terkenal adalah Henry Ward Beecher. Saudarinya, Catharine Beecher merupakan seorang penulis sekaligus guru yang turut membantu membentuk pandangan Harriet. Saudarinya yang lain, Isabella, menjadi seorang pemimpin dari suatu persatuan yang menuntut hak mereka sebagai perempuan.[1]

Harriet masuk ke sekolah yang dikelola oleh Catharine, yang kemudian ia mengikuti kursus pembelajaran klasik tradisional yang diperuntukkan bagi para remaja putra. Dia pindah ke Cincinnati, Ohio di umurnya yang ke 21, yang mana pada saat itu ayahnya menjadi pemimpin untuk Lane Theological Seminary.

Lyman Beecher mengambil sikap yang kuat terkait abolisionisme, terlebih setelah kerusuhan di Cincinnati yang pro-perbudakan pada 1836.

Sikapnya ini pun memperkuat keyakinan abolisionis anak-anaknya, termasuk Harriet. Di sebuah asosiasi sastra lokal bernama Semi-Colon Club, Harriet menemukan teman-teman yang berpikiran sama dengannya. Di sini, dia menjalin persahabatan dengan sesama anggota dan guru seminari Calvin Ellis Stowe. Mereka kemudian menikah pada 6 Januari 1836, dan akhirnya pindah ke sebuah pondok di dekat Brunswick, Maine, dekat dengan Bowdoin College.

Karier

Bersamaan dengan kariernya dalam dunia sastra, Harriet dan Calvin Stowe saling berberbagi keyakin yang kuat terhadap abolisi. Pada tahun 1850, Kongres mengesahkan Hukum Budak Pelarian, yang lantas hal ini memicu kesusahan di komunitas-komunitas kulit hitam yang bebas dan abolisionis di Utara. Harriet memutuskan untuk mengekspresikan perasaannya melalui sastra sebagai represntasi dari perbudakan, mendasarkan karnyanya pada kehidupan Josiah Henson serta terhadap pandangannya sendiri. Pada tahun 1851, bab pertamanya, Pondok Paman Tom, dipublikasi di National Era. Novel tersebut diterbitkan sebagai buku setahun kemudian dan secara cepat menjadi salah satu buku yang luarbiasa penjualannya.[1]

Penggambaran emosi yang dideskripsikan oleh Harriet mengenai perbudakan, terutama pada keluarga dan anak-anak, menarik perhatian bangsa. Buku dan penulisnya ini merangkul di Bagian Utara, tetapi membangkitkan permusuhan di Selatan. Antusias penggemar begitu besar hingga menggelar pertunjukan teater berdasarkan cerita, dengan karakter Tom, Eva dan Topsy mencapai status ikonik.

Setelah Perang Saudara dimulai, Harriet pergi ke Washington, di mana ia bertemu dengan presiden Amerika ke-16, Abraham Lincoln. Kisah yang mungkin bersifat apokrif tetapi populer ini dipuji Lincoln melalui sambutannya, "Jadi, Anda adalah wanita kecil yang menulis buku yang memulai perang besar ini." Sementara sedikit yang diketahui tentang pertemuan itu, kegigihan kisah ini menangkap makna yang dirasakan dari Paman Tom Kabin dipecah antara Utara dan Selatan.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 "Harriet Beecher Stowe". Biography (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-03-24. Diakses tanggal 2019-03-24.
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Harriet Beecher Stowe.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan