
Umar bin Ali bin Abi Thalib (Arabic : عمر بن علي) merupakan putra dari Ali bin Abi Thalib dari istrinya yang bernama Ash-Shahba' binti Rabi'ah at-Taghlib. Lahir tahu 13 Hijriah di Madinah.[1] Ia hidup hingga sempat datang kepada Khalifah Al-Walid untuk menuntut hak sedekah ayahnya. Ia dilahirkan pada masa pemerintahan Umar. Umar pun memberinya nama sesuai namanya sendiri, dan menghadiahkan seorang budak kepadanya bernama Mauriq.[2] Ia dikenal juga sebagai Umar al-Atraf, saudara dari Hasan dan Husein. Ia menikah dengan Asma bin Aqil bin Abi Thalib.[3]
Ia meriwayatkan dari ayahnya. Dan yang meriwayatkan darinya adalah putranya, Muhammad. Al-'Ijli berkata: "Ia seorang tabi'in yang tsiqah."
Mush'ab Az-Zubairi berkata: "Al-Walid tidak memberikan sedekah Ali kepadanya dan berkata: 'Aku tidak akan memasukkan selain putra-putra Fathimah ke dalam urusan mereka.' Saat itu sedekah tersebut berada di tangan Al-Hasan bin Al-Hasan bin Ali." Umar pun pergi dalam keadaan marah dan tidak mau menerima pemberian dari Al-Walid.
Ada yang mengatakan bahwa Umar terbunuh di usia 75 tahun bersama Mush'ab bin Az-Zubair. Namun hal ini tidak sahih; yang terbunuh adalah saudaranya, Ubaidullah bin Ali.[2] Ia dimakamkan di Mazar al-Syarif, pendapat lain di Balkh.
Referensi
- ↑ الكرباسي, محمد صادق محمد (2016-05-01). الحسين في سطور الجزء الأول: دائرة المعارف الحسينية (dalam bahasa Arab). Hussaini Centre for Research, London. ISBN 978-1-78403-016-2.
- 1 2 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
- ↑ "بحار الأنوار - العلامة المجلسي - ج ٤٢ - الصفحة ٧٥". shiaonlinelibrary.com. Diakses tanggal 2026-09-06.