Jumat, 02 Oktober 2026
01:47 WIB
TERKINI
Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Jalan Mulus Komjen Suyudi: Komisi III DPR Setujui Pimpin Polri Berita DPR RI Resmi Lantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri Baru Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 1 Oktober 2026: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 1 Oktober 2026 Turun, Cek Rincian Lengkapnya Sekarang Cuaca Waspada! 325 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Ancaman Karhutla Meningkat Regional Menko PMK Muhadjir Effendy Kunjungi Anjir Batola, Perkuat Sinergi Pembangunan Wilayah Editorial Macan Kemayoran Raih Poin Penuh di Kandang Laskar Antasari Bandar Lampung Buaya Coki Menjalani Adaptasi di Sumsel Usai Perjalanan Panjang dari Lampung Berita Puan Maharani Atur Pertemuan Susulan Megawati dan Prabowo: Nasi Goreng Menanti
Ulap doyo

Ulap doyo

tenun tradisional khas etnis Benuaq berasal dari Kutai di Kalimantan Timur

Bagikan:
Ulap doyo
500px-Penenun_Ulap_Doyo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Seorang wanita etnis Benuaq dalam proses penenunan Ulap doyo
Bahanserat marasai[1]
Tempat asalKalimantan Timur (Indonesia)
PemanufakturBenuaq
Situs webUlap doyo – Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Ulap doyo[2] (dari bahasa Benuaq) merupakan seni menenun kain dari suku Dayak Benuaq di Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur.[3] Disebut Doyo karena bahan utamanya adalah serat daun Doyo.[4] Daun Doyo dipilih sebagai bahan tenun karena seratnya yang kuat untuk dijadikan benang.[3] Perempuan suku Dayak Benuaq membuat tenun dalam bentuk pakaian, tas, kemeja, celana, dompet, dan lain sebagainya.[3]

Sejarah

Dahulu, motif Tenun Ulap Doyo bisa dijadikan pertanda/ciri atau identitas sosial sesorang.[5] Contohnya motif jaunt nguku digunakan oleh kaum mantiq (petinggi) dan motif waniq ngelukng digunakan oleh golongan marantikaq (orang biasa).[5]

Ulap doyo merupakan produk asli Kalimantan Timur yang hanya ada di daerah Kutai Barat dan Kutai Kartanegara. Dalam cerita yang berkembang, suku Dayak Benuaq merantau ke Kalimantan Selatan dan membawa tanaman doyo, tetapi ternyata tanaman itu tidak bisa tumbuh. Masyarakat Dayak Benuaq akhirnya kembali dan menanam doyo di daerah asalnya, dan membudidayakannya sebagai tanaman yang digunakan untuk membuat kain. Karena alasan sejarah itulah ulap doyo disebut sebagai tumbuhan regiosentris khas daerah Kalimantan Timur berdasarkan cerita ini menunjukkan kalau keahlian menenun kain ini bukan asli Dayak Benuaq namun hasil menyerap pengetahuan dari masyarakat lain. [6]

Tanaman doyo (Curliglia latifolia) dan berbagai tumbuhan yang digunakan untuk pewarna alami kini sulit didapatkan akibat pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertambangan di Kutai Barat sejak tahun 90-an. Kawasan hutan jadi semakin jauh dari permukiman penduduk. Doyo yang biasa tumbuh di ladang penduduk juga tak dapat ditemukan karena para petani beralih menjadi pekerja tambang dan perkebunan kelapa sawit.[6]

Kain tenun doyo terkenal karena memiliki kualitas yang bagus dan lebih alami. Ulap doyo berarti daun doyo. Tanaman doyo memiliki serat daun yang kuat sehingga dapat dimanfaatkan sebagai benang dan ditenun menjadi kain oleh suku Dayak Benuaq. Kain ini memiliki beragam motif, yaitu motif flora dan fauna. Keunikan lain dari tenun doyo adalah produknya bersifat eco-natural, artinya tidak menggunakan bahan kimia. Proses produksi juga menggunakan cara-cara yang alami. Menenun dengan sistem gedogan tidak menggunakan mesin. Pewarnaanya menggunakan rempah-rempah dan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar lingkungan seperti kunyit, hijau pandan, daun ketapang, serta aneka buah-buahan hutan yang sangat bermanfaat dalam proses produksi tenun doyo. [6]

Proses Pembuatan

Proses pembuatan tenun doyo dimulai dengan pengambilan daun doyo sekitar 60-100 lembar di hutan. Daun doyo kemudian direndam di air sungai hingga daunnya hancur. Setelah itu, serat daun doyo diambil dengan cara dikerik menggunakan sebilah pisau bambu. Proses penenunan dimulai dari memintal (moyong) serat doyo dengan cara membelah serat-serat doyo menjadi 2-3 mm dan kemudian dipilin menjadi benang. Serat ini kemudian ditenun dan dipilin menjadi benang kasar. Benang daun doyo tersebut kemudian diwarnai dengan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Pada dasarnya, warna asli serat daun doyo untuk bahan tenun adalah berwarna putih atau krem. Agar kain tenun doyo menjadi bervariasi sehingga memunculkan motif-motif yang indah, maka digunakan berbagai jenis pewarna.[6]

Motif Tenun Ulap Doyo

Secara umum, motif pada kain keramat doyo terinspirasi dari flora dan fauna di tepian Sungai Mahakam atau tema perang antara manusia dan naga. Motif pada kain juga menjadi identitas pemakainya. Motif waniq ngelukng misalnya digunakan oleh masyarakat biasa, sedangkan motif jaunt nguku digunakan oleh para bangsawan atau raja. Perbedaan strata sosial ini menandakan adanya sistem kasta yang berlaku dalam masyarakat, seperti yang terdapat pada umat Hindu. Cara memakai kain khas Kalimantan Timur ini cukup beragam dalam kehidupan masa lampau. Tenun ulap doyo dapat digunakan baik oleh pria maupun wanita dalam upacara adat, tarian, maupun dalam kehidupan sehari-hari suku Dayak Benuaq. Tenun ulap doyo yang memiliki nilai sejarah, seni dan budaya lokal, merupakan salah satu dari 33 kain tradisional yang ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. [6]

Nilai dan Makna

Tenun Doyo merupakan salah satu wujud ekspresi dari keyakinan masyarakat suku Dayak Benuaq, di Kalimantan Timur.[5] Tenun Doyo dapat digunakan oleh laki-laki maupun perempuan dalam acara adat, tari-tarian, dan dalam kehidupan sehari-hari suku Dayak Benuaq.[7] Tenun Doyo yang dikenakan sehari-hari berwarna hitam, sedangkan Tenun Doyo yang berwarna-warni dan bermotif digunakan dalam upacara-upacara adat.[7] Penggunaan motif dan ragam hias memiliki nilai estetika dan nilai fungsional yang bersifat rohaniah.[7] Misalnya, motif naga melambangkan kecantikan seorang wanita, motif limar atau perahu melambangkan kerjasama, motif timang atau harimau melambangkan keperkasaan seorang pria, motif tangga tukar toray atau tangga rebah bermakna melindungi usaha dan kerjasama masyarakat, dan berbagai motif yang lain.[3] Penggunaan warna juga mengandung makna simbolik tertentu.[7] Misalnya, warna hitam pada daster dan sarung atau kain panjang artinya adalah pemakainya memiliki kemampuan dalam menolak sihir hitam (sihir jahat).[7] Jika pada warna hitam tersebut terdapat garis-garis putih, maka menandakan bahwa pemakainya dapat mengobati segala bentuk sihir dan juga dapat mengobati segala bentuk penyakit.[7]

Ragam

Dalam berbagai upacara adat, misalnya upacara kematian, pengobatan, upacara panen hasil bumi, dan sebagainya, kaum perempuan menggunakan Ulap Doyo yang kainnya panjang (tapeh).[8] Agar bebas bergerak, Ulap Doyo diberi belahan, apabila dikenakan, belahan tersebut berada di bagian belakang.[8] Biasanya Tenun Ulap Doyo dibuat dalam tiga warna, yakni: merah, hitam, dan cokelat muda.[9] Merah berasal dari buah buah Glinggam, kayu Oter, dan buah Londo, dan warna coklat muda berasal dari kayu Uwar.[9] Motif yang digunakan biasanya motif flora, fauna, dan alam mitologi.[9] Batu Lado, biji buah Glinggam, daun Putri Malu, umbi Kunyit, getah Akar, dan kayu Oter digunakan sebagai bahan baku pewarna motif Tenun Ulap Doyo.[9]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Maryanto, Willis (2012). Ulap Doyo. Kalimantan Timur. hlm. 740–749. ISBN 978-602-7942-43-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  2. ↑ "Ulap doyo". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses tanggal 25 April 2021.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 4 "Sentra Kerajinan Tenun Ulap Doyo". Indonesiawonder.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 8 Mei 2014.01.00.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  4. ↑ "Ulap Doyo Khas Kalimantan". Memobee.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 8 Mei 2014.01.00.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  5. 1 2 3 "Tenun Ulap Doyo". Warisanbudayaindonesia.info. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-08. Diakses tanggal 8 Mei 2014.01.00.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  6. 1 2 3 4 5 Gunawan, Edy (15 Februari 2023). "Tenun Ulap Doyo: Kearifan Dayak Benuaq". Majalah Indonesiana. 15: 51. ISSN 2406-8063.
  7. 1 2 3 4 5 6 "Kain Doyo dari Suku Dayak Benuaq". Voice of Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-05-12. Diakses tanggal 11 Mei 2014.15.00.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  8. 1 2 "Ulap Doyo (Kain Tenun Khas Suku Dayak Benuaq)". Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Diakses tanggal 11 Mei 2014.15.00.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=
  9. 1 2 3 4 "Kain Tenun Ulap Doyo". Kriyalea.com. Diakses tanggal 11 Mei 2014.16.00.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |accessdate=[pranala nonaktif permanen]

Bibliografi

  • (Inggris) Anderson, E. N. (2010). "Material Choices: Refashioning Bast and Leaf Fibers in Asia and the Pacific". Ethnobiology Letters (dalam bahasa Inggris).
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan