| Tughril III | |
|---|---|
| Sultan of the Seljuk Empire | |
| Berkuasa | 1176–1194 |
| Pendahulu | Arslan Shah |
| Penerus | Tidak ada, Dinasti Seljuk runtuh |
| Lahir | 1169 |
| Meninggal | 19 Maret 1194 terbunuh di Rey |
| Ayah | Arslan Shah |
| Permaisuri | Inanj Khatun |
| Keturunan | Malik Berqyaruq Alp Arslan Shams Malika Khatun |
| Agama | Sunni Islam |
Tughril III (Persia: طغرل سوم) (meninggal tahun 1194) adalah Sultan Seljuk terakhir sejak tahun 1175 hingga kematiannya
Naik tahta
Setelah terbunuhnya Sultan Suleiman-Shah pada tahun 1161, Eldiguz dan 20.000 pasukan kavalerinya berbaris memasuki Hamadan untuk mengangkat Arslan Shah II yang masih berumur 28 tahun ke kursi kekuasaan (berkuasa 1161-1176) sebagai Sultan Seljuk di Irak dengan dukungan atabeg-atabeg lainnya. Ia sendiri mendapat gelar "Atabeg Al Azam (Atabeg Tertinggi)" dan mensupervisi Sultan yang baru,[2] yang kini menikahi Khatun-i-Kirmani, janda Sultan Muhammad II adan puteri dari Muhammad b. Arslan Shah I, Sultan Sejuk dari Kerman.[3]
Kekuasaan dibagi, dengan Sultan sebagai kepala negara, Eldiguz komandan meiliter, dan mengontrol keuangan dan menghadiahkan iqta kepada siapapun yang ia anggap berhak. Ia juga memerangi Kerajaan Georgia kapanpun dibutuhkan. Ia juga memerangi atabeg-atabeg lainnya sekitar tahun 1161–1175, dan menundukkan Azerbaijan Iran, Arran, Jibal, Hamadan, Gilan, Mazandaran, Isfahan dan Rey. Vassal-vassalnya termasuk tuan tanah feodal Shriven, Ahlat, dan Arzan-ar-Rum[4]
Arslan Shah berkedudukan di Hamadan, dirawat oleh adik tirinya dan dikaruniai anak bernama Toghril, pada tahun1168. Arslan Shah II sempat mengurim bantuan untuk Pangeran Seljuk Arslan Shah b. Tughril dari Kirman untuk memerangi saudaranya, Bahram Shah pada tahun 1174, yang berakibat Kesultanan Seljuk di Kirman pecah menjadi dua, dengan Bahran Shah masih menguasai sepertiga wilayah, sementara Arslan Shah b. Tughril menguasai sisanya[5]
Setelah mangkatnya Eldiguz pada tahun 1175, anaknya Nusrat al-Din Muhammad Pahlavan melanjutkan kebijakan yang sama terhadap saudara tirinya, Sultan Arslan Shah II, dan memindahkan ibukota dari Nakhchivan ke Hamadan di Iran Barat.[6] Arslan Shah berusaha melawan dominasi keturunan Dinasti Eldiguziyah, dan ia melakukan perlawanan bersenjata dengan bantuan para Amir dan menyerang Azebaijan. Sayangnya, ia meninggal tiba-tiba di Zinjan, pada usia 43, kemungkinan akibat diracun. Tughril III kemudian diangkat sebagai Sultan di Hamadan, dan Jahan Pahlvan mengalahkan pemberontakan Muhammad, saudara dari Arslan Shah, untuk mencopotnya dari singgasana.[7][8]
Sebagai Sultan Boneka

Tughril III masih berumur tujuh tahun saat naik tahta, dengan perlakuan yang sangat baik dari Jahan Pahlawan,[9] yang menjadi peguasa sebenarnya dari Kekaisaran Seljuk, dengan saudaranya Muzzafar Al-Din Qizil Arslan Uthman sebagai bawahan utama yang setia di Tabriz, sekligus juga Atabeg dariNusrat al-Din Abu Bakr, salah satu anak dari Jahan Pahlawaan.[8] Jahan Pahlvan berhasil menahan serangan Salahudddin, yang berusaha memperluas kekuasaan sampai ke Danau Van tapi kemudian berbalik mundur[10] saat tersiar kabar bahwa t Seyfettin Beytemür (sekitar 1185–1193), penguasa Akhlat menyatakan tunduk kepada Muhammad Jahan Pahlavan.[11] Masalah muncul dan menjadi pelik saat Jahan Pahlawan meninggal pada 1186, dan ia terlanjur menunjuk keempat anaknya menjadi gubernur, Abu Bakr di Azerbaijan dan Arran, Ozbeg di Hamadan, Ïnanch Sonqur, Qutlugh Inanch Muhammad dan Amir Amiran Umar di Rey, Ishahan dan beberapa bagian Persia Selatan di bawah supervisi paman mereka, Qizil Arslan.[7] Mereka semua telah disumpah untuk patuh kepada Qizil Arslan dan tidak akan pernah memberontak kepada Tughril III.[12] Namun begitu Jahan Pahlawan meninggal, Qizil Arslan naik tahta, yang kemudian ditentang oleh iparnya, Innach Khatun, yang ingin anaknya, Qutlugh Inanch Muhammadmenjai penerus ayahnya, karena takut Qizil Arslan yang tidak punya anak malah akan menunjuk Abu Bakr sebagai pewaris tahta berikutnya. Tughril III, yang mendapat perlakuan buruk dari Qizil Arslan, bergabung dalam pemberontakan ini.[9] Konflik inilah yang mungkin menghaalangi keduanya membantu Muhammad b. Bahram Shah, Sultan Seljuk terakhir di Kirman, yang diusir oleh pemberontakan Oghuz keluar dari Khurasan pada tahun 1186.[13]
Periode 1187 – 1190
Kekuatan pemberontak terdiri dari pasukan yang dipimpin Amir dari Zenjan dan Maragha, pengikut dari Kamal Al-Aba (kepala Mamluk) dan Saif al-Din Rus (suami Innach Khatun), sementara Tughril sendiri menerima dukungan besar dari orang-orang Turkmen,[14] dan gabungan pasukan mereka memaksa Qizil Arslan meninggalkan Hamada setelah beberapa konflik terjadi.[15] Tughril berusah melakukan upaya diplomasi pada tahun 1187, dengan bergerak ke Mazandaran tuntuk meminta bantuan pemimpin dinasti Bavandiyah, Husam al-Daula Ardashir, dan berhasil mendapat bantuan pasukan darinya. Tughril juga mengirim pesan ke Kalifah Al-Nasir, memintanya mengembalikan istana Sultan Sejuk di Baghdad. Tapi kalifah malah menghancurkan istana itu dan mengirim bantuan ke Qizil Arslan, yang setuju menjadi vassal.[9] Kalifah Al-Nasir mengiirm 15.000 pasukan di bawah wazirnya, Jalan al-Din 'Ubaidallah b. Yunus, yang menyerang tahun 1188, tanpa hrilmenunggu dulu pasukan Qizil Arslan sampai, sehingga kalah dan tertangkap. Tughril memastukan kemenangan dengan menyerang pusat kekuatan lawan setelah sayap kanan pasukannya sendiri dihancurkan. Kemenangan ini berupa kemenangan piris yang hampa, karena secara total Tughril menderita kerugian yang amat besar. [16]Sultan kemudian berusaha mereformasi administrasi negara dan mengkoordinasi strategi dengan sumber daya yag masih tersisa. [17] Tapi kebiasaannya yang kasar menyebabkan eksekusi mati Kamal Ai-Aba, Saifuddin Rus dan beberapa pihak yang ia anggap musuh, serta berkhianatnya para aliansi. [15]
Qizil Arslan mendelarasikan Sanjar b. Suleiman-Shah sebagai Sultan Seljuk di Irak, dan mengirim pasukan bantuan untuk Kalifah yang kini menginvasi Hamadan. Tughril, yang sudah lemah, lari ke Isfahan,[16] kemudian ke Urmia.[9] Saudara iparnya, Hasan Kipchiq, bergabung kemudian dan Tuggril juga berusaha mendapat bantuan dari Dinasti Ayyubiyah dan Kalifahnya. Ia bahkan tega mengirim anaknya yang masih kecil sebagai penjamin di Baghdad dengan sikap yang putus asa. Tughril menginvasi Azerbaijan dan membakar kota Ushnu, Khoy, Urmiya dan Salmas.[18] Qizil Arslan kemudian berekonsiliasi dengan keponakan-keponakannya dan menangkap Tughril saat ia menginvasi Azerbaijan tahun 1190.[18] Qizli Arslan memenjarakan Tughril dan anaknya Malik Shah di benteng Kuhran, di dekat Tabriz. Qizil Arslan, dengan dorongan dari Kalifah, memproklamirkan dirinya sendiri sebagai Sultan, dan menikahi Innach Khatun, janda dari saudaranya. Namun ia kemudian diracun oleh istrinya pada bulan September, 1191.[18] Keponakan-keponakannya kemudian berkuasa secara independen. Salah satu komandan mamluk dari Jahan Pahlawan, Mahmud Anas Oglu,[19] kemudian membebaskan Tughril III pada bulan Mei 1192.[20]
Periode 1192–1194

Tughril berhasil meloloskan diri dari para pengejar yang dikirim oleh Abu Bakrr[18] dan dengan cepat menghimpun pasukan dari para pendukungnya serta kelompok Turkmen. Ia kemudian bergerak ke timur dan mengalahkan pasukan Qutlugh Inanch Muhammad serta Amir Amiran Umar di dekat Qazvin pada 22 Juni 1192, serta berhasil menarik sebagian besar prajurit musuh ke pihak-nya setelah kemenangan tersebut..[20] Qutlugh Inanch dan Amiran Umar lantas menyerang Abu Bakr di Azerbaijan, namun mereka berhasil dikalahkan. Amiran Umar melarikan diri untuk berlindung kepada mertuanya, Shirvanshah Akhsitan I (sekitar 1160–1196), sementara Qutlugh Inanch bergerak menuju Rey.
Tughril berhasil menduduki Hamadan, menguasai perbendaharaan, dan memegang kendali atas Isfahan serta Jibal. Namun, ia tidak berupaya bernegosiasi dengan Abu Bakr untuk menghadapi Qutlugh Inanch. Mengingat posisinya terdesak, Qutlugh Inanch memohon bantuan kepada Khwarazmshah Ala ad-Din Tekish. Tekish kemudian menginvasi dan merebut Rey pada tahun 1192, memaksa Qutlugh Inanch melarikan diri dari kota tersebut.[20]
Gencatan senjata dengan Shah Tekish
Sultan Tughril membuka negosiasi dengan Shah Tekish, hingga akhirnya setuju untuk menjadi vasal Khwarizm dan menikahkan putrinya dengan putra Shah, Yunus Khan. Sebagai imbalannya, Shah Tekish mempertahankan Rey, menempatkan garnizun di wilayah yang baru diperolehnya, memungut pajak, lalu menunjuk Tamghach sebagai gubernur, sebelum akhirnya pulang untuk memadamkan pemberontakan saudaranya, Sultan Shah.[20] Tughril sebenarnya memiliki kesempatan untuk bernegosiasi dengan Atabeg Yazd, Langar ibn Wardanruz, atau penguasa Salghurid di Fars, Degle ibn Zan, yang mana keduanya secara nominal setia kepada Seljuk,[22] akan tetapi tidak ada langkah yang diambil untuk bersatu melawan musuh bersama yang mereka hadapi.
Melanggar gencatan senjata
Tughril kemudian merasa terancam dengan keberadaan kekuatan yang memusuhiya di Rey, sebuah kota strategis yang mengendalikan jalur komunikasi antara Jibal dan Azerbaijan, sesuatu yang tidak dapat diterima oleh sang Sultan. Pada Maret 1193, ia bergerak menuju Rey bersama pasukan yang tersedia, mengalahkan dan membunuh Tamghach, merebut Rey, serta mengusir pasukan Khwarizm dari wilayah tersebut.[20] Sebagai bagian dari kesepakatan damai atas permintaannya sendiri, Tughril III kemudian menikahi Inanch Khatun, ibu dari Qutlugh Inanch dan Amiran Umar. Namun, wanita tersebut dieksekusi setelah terungkapnya plot untuk meracuni Sultan.[19] Sultan lantas kembali ke Hamadan, sementara Qutlugh Inanch melarikan diri ke Zanjan. Dari sana, ia mengirim pesan kepada Shah Tekish. sementara Khalifah Al-Nasir juga meminta Shah untuk bergerak melawan Tughril..[20]
Pada tahun 1194, Tughril kembali bergerak ke timur dan mengalahkan Qutlugh Inanch dalam pertempuran, meskipun terdapat 7.000 prajurit Khwarizm yang membantu Qutlugh Inanch.[23] Qutlugh Inanch beserta penyintas lainnya bergerak ke timur dan bergabung dengan pasukan utama Khwarizm yang dipimpin oleh Shah Tekish di Semnan.
Pertempuran Rey
Sultan Tughril bergerak menuju Rey. Di tengah perjalanan, ia menerima surat dari Hajib Senior Shah Khwarizm Tekish, Shihab ad-Din Mas‘ud, yang menyarankan agar Sultan bergerak ke selatan menuju Sawa, mengembalikan Rey kepada Khwarizm, dan mengizinkan Rey diperintah oleh putra Shah di bawah pertuanan (suzerainitas) Tughril.[24] Sultan mendiskusikan usulan tersebut dengan para komandannya, yang lebih memilih untuk berdamai atau setidaknya menunggu bala bantuan dari Zanjan dan Isfahan guna memperkuat pasukan sebelum bertempur melawan musuh.[24] Tughril kemungkinan juga menerima pesan dari Qutlugh yang memberi isyarat bahwa ia mungkin akan membelot bersama pengikutnya begitu Tughril tiba, hal yang diduga ikut memengaruhi keputusan sang Sultan.
Sultan mengabaikan nasihat pengikutnya dan tetap bergerak menuju Rey. Ketika pasukan Khwarizm tiba di Rey pada 19 Maret 1194,[25] Sultan menerobos melampaui tembok kota, menerjang barisan depan musuh, dan menyerang tepat di bagian tengahnya. Hanya 60 pengawal pribadinya yang menyertainya; sisa pasukannya memilih bertahan karena para komandan tidak percaya mereka bisa menang dan enggan mati sia-sia demi kekalahan yang sudah pasti. Sultan terluka di bagian mata akibat kena panah lalu jatuh dari kudanya. Qutlugh Inanch memenggal sendiri kepala Sultan yang baru berusia 25 tahun itu, meskipun ia sempat memohon agar nyawanya diampuni.[24]
Shah Ala ad-Din Tekish mengirimkan kepala Tughril kepada Khalifah Al-Nasir, yang kemudian memajangnya di Gerbang Nubi di depan istananya, sementara jasad Tughril digantung di Rey. Kekaisaran yang didirikan oleh leluhur dan pemilik nama yang sama dengannya, Tughril, resmi berakhir seiring kematiannya. Gelar beserta wilayah kekuasaan Sultan Seljuk Irak dan Sultan Seljuk Agung pun punah,[26] dan seluruh wilayahnya diserap oleh Kekaisaran Khwarizmia.[27]
Warisan
Tughril digambarkan oleh sejarawan kontemporer sebagai muslim taat. Nīshāpūrī, memujinya atas "pertimbangan yang adil", "kesucian pribadi", dan "kecintaannya terhadap para ulama". Penilaian positif ini dianggap kredibel karena seorang penulis di masa belakangan, Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim, menulis sebuah adendum delapan tahun setelah berakhirnya masa pemerintahan Tughril dan Dinasti Seljuk, serta memberikan evaluasi yang serupa.
Abu Hamid menggambarkan Tughril sebagai penguasa yang memerintah dengan kebijakan yang adil dan baik, dan berlaki sebagai teman para ulama dan pelindung orang miskin yang tanpa batasan. Pandangan ini perlu dicatat, karena masa kekuasaannya yang sangat terbatas untuk bisa memperlihatkan sisi lemahnya. Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa ketaatannya juga diakui oleh pihak lain. Kronik al-Husayni turut menguatkan gambaran mengenai keadilan Tughril. Kesalehan serta kecintaannya terhadap para ulama ini sangat bertolak belakang dengan beberapa pendahulunya dari generasi akhir penguasa Seljuk, yang kerap digambarkan lebih tertarik pada kegiatan berburu, minum-minuman keras, atau seks bebas.[28]
Kehidupan pribadi
Salah satu istrinya adalah saudara perempuan dari Izz al-Din Hasan Qipchaq,,[29] salah satu amir berpengaruh pada masa itu. Mereka menikah pada tahun 1188–1189.[30] Istri lainnya adalah Inanch Khatun, putri dari Amir Inanch Sonqur yang menjabat sebagai gubernur Rey. Ia merupakan janda dari Qizil Arslan, dan sebelumnya merupakan janda dari Muhammad Jahan Pahlavan. Ia meninggal pada September–Oktober 1192..[31]
Tughril setidaknya memiliki dua putra dan dua putri. Malik Berqyaruq beserta saudaranya, Alp Arslan,[31] dibawa sebagai sandera ke Gurganj. Mereka kemudian dieksekusi atas perintah Terken Khatun, ibu dari Shah Ala ad-Din Muhammad II, pada tahun 1220 untuk mencegah mereka jatuh ke tangan bangsa Mongol.
Salah satu putrinya menikah dengan Yunus Khan, putra dari Ala al-Din Tekish (Shah Kekaisaran Khwarizmia).[31] Putri lainnya, Shams Malika Khatun,[32] pertama kali menikah dengan Ozbeg, putra bungsu Muhammad Jahan Pahlavan yang di kemudian hari menjadi Atabeg Azerbaijan. Setelah diceraikan oleh Ozbeg, ia menikah dengan Jalal ad-Din Mangburnii[30] pada tahun 1225, sementara mantan suaminya meninggal dunia karena duka mendalam..[32]
Referensi
- ↑ Court and Cosmos: The Great Age of the Seljuqs - MetPublications - The Metropolitan Museum of Art (dalam bahasa Inggris). Metropolitan Museum of Art. hlm. 76–77, 314 note 3. The ruler is usually identified as Sultan Tughril III of Iraq (r. 1176–94), who was killed near Rayy and buried there (Mujmal al-tava¯rı¯kh 2001, p. 465). Pope (Pope and Ackerman, eds. 1938–39, vol. 2, p. 1306) and Wiet (1932b, pp. 71–72) wrote Tughril II but intended Tughril III.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 177.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 176.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 170.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 173.
- ↑ Houtsma, M. T. E.J. Brill's First Encyclopaedia of Islam, 1913-1936, BRILL, 1987, ISBN90-04-08265-4, p. 1053
- 1 2 Boyle 1968, hlm. 178.
- 1 2 Zardabli, Ismail B. 2014, hlm. 167.
- 1 2 3 4 Boyle 1968, hlm. 180.
- ↑ Minorsky 1953, hlm. 148.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 171.
- ↑ Zaporozhets, V. M 2012, hlm. 189.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 174.
- ↑ Peacock & Yıldız 2013, hlm. 119.
- 1 2 Zardabli, Ismail B. 2014, hlm. 169.
- 1 2 Zaporozhets, V. M 2012, hlm. 190.
- ↑ Peacock & Yıldız 2013, hlm. 120.
- 1 2 3 4 Zardabli, Ismail B. 2014, hlm. 170.
- 1 2 Zardabli, Ismail B. 2014, hlm. 171.
- 1 2 3 4 5 6 Buniyatov, Z.M. 2015, hlm. 41.
- ↑ Court and Cosmos: The Great Age of the Seljuqs - MetPublications - The Metropolitan Museum of Art (dalam bahasa Inggris). Metropolitan Museum of Art. hlm. 76–77, 314 note 3. The ruler is usually identified as Sultan Tughril III of Iraq (r. 1176–94), who was killed near Rayy and buried there (Mujmal al-tava¯rı¯kh 2001, p. 465). Pope (Pope and Ackerman, eds. 1938–39, vol. 2, p. 1306) and Wiet (1932b, pp. 71–72) wrote Tughril II but intended Tughril III.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 172.
- ↑ Boyle 1968, hlm. 182.
- 1 2 3 Buniyatov, Z.M. 2015, hlm. 42.
- ↑ Grousset, Rene 2005, hlm. 167.
- ↑ Hitti, Philip K. 1970, hlm. 482.
- ↑ Buniyatov, Z.M. 2015, hlm. 43.
- ↑ Lange, Christian (2011-07-31). Seljuqs: Politics, Society and Culture (dalam bahasa Inggris). Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-4757-6.
- ↑ Bosworth, E. (2013). The History of the Seljuq Turks: The Saljuq-nama of Zahir al-Din Nishpuri. Taylor & Francis. hlm. 153. ISBN 978-1-136-75258-2.
- 1 2 Lambton, A.K.S. (1988). Continuity and Change in Medieval Persia. Bibliotheca Persica. Bibliotheca Persica. hlm. 259, 264, 268 n. 71. ISBN 978-0-88706-133-2.
- 1 2 3 Ayan, Ergin (2008). "Irak Selçuklu Sultanlarının Evlilikleri" (dalam bahasa Turki). Sakarya Üniversitesi Fen Edebiyat Fakültesi. hlm. 161–63. Diakses tanggal 2024-01-06.
- 1 2 Asiatic Society (Kolkata, India) (1881). Bibliotheca Indica. Bibliotheca Indica. Asiatic Society. hlm. 296.
Sumber
- Boyle, J. A., ed. (1968). The Cambridge History of Iran, Volume 5. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-06936-6.
- Bregel, Yuri (2003). A Historical Atlas of Central Asia. Brill, Boston. ISBN 90-04-12321-0.
- Buniyatov, Z.M. (2015). A History of The Khorezmian State under the Anushteginids 1097 – 1231. IICAS Samarkand. ISBN 978-9943-357-21-1.
- Grousset, Rene (2005). The Empire of The Steppes: A History of Central Asia. Rutgers University Press. ISBN 0-8135-0627-1.
- Hitti, Philip K. (1970). History of The Arabs (Edisi 10th). The Mcmillan Press Ltd., London. ISBN 0-333-09871-4.
- Minorsky, Vladimir (1953). Studies in Caucasian History. Taylor’s Foreign Press.
- Peacock, A.C.S.; Yıldız, Sara Nur, ed. (2013). The Seljuks of Anatolia: Court and Society in the Medieval Middle East. I.B.Tauris. ISBN 978-1848858879.
- Zaporozhets, V. M (2012). The Seljuks. Döring, Hanover. ISBN 978-3925268441.
- Zardabli, Ismail B. (2014). The History of Azerbaijan. Rossendale Books, London. ISBN 978-1-291-97131-6.