Minggu, 27 September 2026
11:06 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

The First Grader

The First Grader adalah sebuah film biografi pendidikan berlatar belakang Kenya tahun 2011 yang disutradarai oleh Justin Chadwick, ditulis oleh Ann Peacock dan diproduksi oleh BBC Films. Film tersebutmemenangkan 18 piala penghargaan, yang meliputi Outstanding Writing in a Motion Picture (Theatrical or Television) dari National Association for the Advancement of Colored People (NAACP). Film tersebut menampilkan Oliver Litondo dan Naomie Harris. Film tersebut juga mengangkat isu sosial dan politik Kenya ke wajah dunia serta turut menyelipkan sejarah penjajahan yang dialami Kenya. Film tersebut berhasil mengundang 4.457 penonton untuk memberikan penilaian 7,4 dari 10 di laman IMDb.[1]

Sinopsis

Kimani Ng'ang'a Maruge adalah mantan pejuang masa kolonialisme Inggris terhadap Kenya. Perjuangannya dalam membebaskan tempat tinggalnya melalui Pemberontakan Mau Mau membawanya sebagai salah satu tahanan Inggris. Maruge digambarkan sebagai seorang pria tua berusia 84 tahun yang berjalan tertatih menggunakan tongkat. Suatu hari, pengumuman dikumandangkan melalui pengeras suara bahwa pendidikan di Kenya telah dibuka. Maruge bertekad untuk dapat ikut mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan.

Akan tetapi, satu-satunya sekolah yang tersedia hanya mampu menampung 50 anak dari 200 calon murid berusia 6 tahun. Maruge bersikeras untuk menjadi salah satu murid yang menerima pendidikan di sekolah tersebut. Menurutnya, pendidikan akan menjadi salah satu bentuk pembebasan dirinya dari penjajahan di masa lalu. Meskipun demikian, usaha Maruge mendapatkan banyak pertentangan dari pengurus sekolah, guru, hingga orang tua murid di sekolah tersebut. Di usia senjanya, Maruge dianggap tidak lagi pantas untuk mendapatkan akses pendidikan yang ditujukan kepada anak-anak. Namun, perjuangan Maruge tidak berhenti.

Setiap hari ia berjalan menuju ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan, tetapi sering kali tidak diizinkan masuk. Guru dari sekolah tersebut, Jane Obinchu, menghalangi Maruge untuk masuk ke sekolah dengan berbagai alasan. Maruge diharuskan membawa alat tulis pribadi dan seragam sekolah seperti murid lainnya. Maruge sering kali gagal untuk masuk ke sekolah. Belum lagi, banyak pihak yang tidak menyetujui keberadaan Maruge. Namun, Obinchu kemudian mengubah pikirannya dengan memberikan kesempatan Maruge. Sikap Obinchu membuatnya mendapatkan ancaman hingga mengganggu kehidupan pernikahannya.

Obinchu digambarkan sebagai guru yang luar biasa bagi Maruge karena telah bersikeras mendukung keteguhannya dalam mendapatkan pendidikan. Ia dengan senang hati mengajari Maruge membaca dan menulis meskipun diterpa perlawanan dan risiko yang tinggi. Kedua protagonis yang berperan sebagai murid dan guru tersebut menyiratkan realitas bahwa pendidikan masih menjadi hal yang eksklusif bagi sebagian orang.

Referensi

Ikon rintisan

Artikel bertopik film ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan