Selasa, 29 September 2026
21:49 WIB
TERKINI
Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Regional Gagal Menulis Ulang: Konten Berita Tidak Memadai Way Kanan Kepala Toko Alfamart Way Kanan Diduga Gelapkan Rp141 Juta, Dua Pelaku Ditangkap Hiburan Lisa BLACKPINK Ukir Sejarah: Solois Asia Pertama Sabet Best Pop MTV VMAs 2026 Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Turun Drastis Rp17 Ribu, Cek Daftar Lengkap 29 September 2026 Hiburan TXT Gegerkan Penggemar dengan Mini Album 'PERFECT STORM' dan Tur Dunia Termasuk Jakarta Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang
Terapi oksigen

Terapi oksigen

Penggunaan oksigen sebagai perawatan medis

Bagikan:

Terapi oksigen adalah tindakan medis untuk menyalurkan oksigen ke dalam tubuh lewat alat bantu. Tujuannya adalah kadar oksigen di dalam tubuh tercukupi sehingga fungsi organ berjalan lancar. Pada tingkat sel, oksigen dibutuhkan oleh mitokondria untuk menghasilkan energi. Namun, sebelum mencapai mitokondria, oksigen perlu melewati berbagai penghalang. Setelah melewati alveolus, pembuluh nadi, pembuluh darah kapiler, dan interstitium, oksigen akhirnya mencapai mitokondria dalam tekanan tertentu. Berkurangnya tekanan ini disebut kaskade oksigen dan menimbulkan masalah bagi kerja sel.

Penggunaan oksigen dalam kedokteran mulai umum sejak tahun 1917 pada Perang Dunia I.[1][2] Menurut Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia, oksigen adalah 'obat' paling manjur untuk kesehatan.[3]

250px-Nasalprongs.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pasien dengan kanula hidung

Penggunaan

Di rumah sakit, terapi oksigen banyak diberikan kepada pasien pengidap penyakit paru obstruktif kronik dan dispnea. Penelitan menunjukkan bahwa pemberian terapi ini memperpanjang kemungkinan masa hidup pasien paru obstruktif kronik,[4] tetapi kurang berdampak pada pasien dispnea.[5] Terapi oksigen juga diberikan kepada penderita hipotermia, strok, trauma mayor, renjatan.[6] Di luar rumah sakit, terapi oksigen dapat digunakan untuk mengobati sakit kepala akut.[7]

Peralatan

Pemberian oksigen membutuhkan titrasi karena dosis berlebih dapat membawa efek buruk.[8]

Kanula Hidung

Konsentrasi oksigen yang diberikan lewat kanula hidung tergantung pada kekuatan bernapas pasien. Sebagai perhitungan umum, setiap peningkatan kecepatan aliran oksigen sebesar 1 liter per menit, akan meningkatkan FiO2 (fraksi oksigen yang dihirup) sekitar 4% di atas udara ruangan. Laju aliran oksigen 6 liter per menit akan menghasilkan FiO2 maksimal yang dapat dicapai oleh hidung, biasanya dalam kisaran 40 hingga 50%. Kecepatan aliran lebih dari 4-5 liter per menit dapat menyebabkan kekeringan pada hidung, iritasi dan ketidaknyamanan.[9]

Masker Wajah

Lubang samping pada masker wajah sederhana memungkinkan masuknya udara dengan kecepatan pernapasan yang tinggi. Peningkatan aliran oksigen dari 5 hingga 10 liter per menit akan meningkatkan konsentrasi oksigen yang dikirim dari sekitar 40 hingga 60%. Tidak disarankan untuk mengurangi aliran oksigen di bawah 5 liter per menit sambil menggunakan masker wajah sederhana, karena aliran udara rendah tidak efektif menyaring karbon dioksida dari masker.[9]

Masker Venturi

Masker ini dapat memberikan konsentrasi oksigen mulai dari 24 hingga 50%. Masker ini dirancang untuk mengalirkan udara dengan rasio tertentu untuk mempertahankan FiO2 yang konstan. Peningkatan aliran oksigen akan menambah lebih banyak udara dan meningkatkan total aliran gas yang dikirim tanpa mengubah konsentrasi oksigen. Peningkatan ventilasi menit atau hiperventilasi akan mengurangi konsentrasi oksigen yang dikirim ke trakea.[10] Masker venturi berguna ketika digunakan dengan tepat, misalnya pada pasien COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease).[9]

Masker Tanpa Bernapas (non-rebreathing mask)

Masker ini dilengkapi dengan kantong yang terus diisi dengan pasokan oksigen. Ketika pasien menghirup, mereka menarik kandungan oksigen tinggi dari kantong. Katup satu arah yang terletak di bagian tengah mencegah masuknya CO2 yang dikeluarkan. Aliran oksigen 10 hingga 15 liter per menit diperlukan untuk menjaga kondisi kantong. Masker ini mampu memberikan konsentrasi oksigen dalam kisaran 60 hingga 90%.[9]

Masker Trakeostomi

Masker ini digunakan untuk pengiriman oksigen tambahan untuk napas spontan pasien dengan metode trakeostomi.[9]

Masker Tekanan Jalan Napas Positif Kontinu (Continuous positive airway pressure-CPAP)

Masker ini terus menerus meningkatkan kadar oksigen melalui dua mekanisme, dengan meningkatkan tekanan jalan napas rata-rata dan dengan memberikan FiO2 yang sesuai. Masker wajah-penuh atau masker hidung yang pas dapat digunakan dan tekanan jalan napas positif dan FiO2 ditentukan. Ini meningkatkan kapasitas residual fungsional dan memungkinkan lebih banyak alveoli untuk pertukaran gas.[9] Efek menguntungkan lainnya dari CPAP termasuk mengurangi kerja pernapasan, menghilangkan penghalang jalan napas bagian atas yang dinamis, mengurangi preload dan afterload, dan mengurangi resistensi pembuluh darah paru-paru.[11]

Tekanan jalan napas positif kontinu direkomendasikan dalam pengobatan hipoksemia sekunder akibat apnea tidur dan gagal jantung akut. CPAP juga digunakan pada pasien gagal napas akibat kecelakaan setelah operasi abdominal mayor dan dalam kasus pneumotoraks. Beberapa orang tidak tahan terhadap pemasangan masker yang ketat dan lama karena dapat menyebabkan efek tekanan lokal pada jembatan hidung.[9]

Efek Samping

Ketika pasien mengalami peningkatan karbon dioksida secara kronis, terjadi hipoksia. Jika ini ditangani dengan menggunakan oksigen, maka apnea mungkin terjadi. Untuk mencegah hal ini, pasien pada awalnya harus diberikan oksigen secara perlahan, mulai dari kadar 24% dan terus ditingkatkan tergantung pada efeknya.[12] Peralatan yang digunakan dalam terapi juga berisiko terbakar atau meledak karena sifat oksigen yang memicu pembakaran.[13]

Referensi

  1. ↑ Agasti 2010, hlm. 398"In 1917, Haldane had first popularised the modern medical use of oxygen"
  2. ↑ Rushman 1996, hlm. 39"Modern medical use of oxygen was popularized in 1917 by J. S. Haldane (1860-1936) during World War I, (...)." sfn error: no target: CITEREFRushman1996 (bantuan)
  3. ↑ "WHO | WHO Model Lists of Essential Medicines". WHO. Diakses tanggal 2019-12-23.
  4. ↑ Stoller, James K.; Panos, Ralph J.; Krachman, Samuel; Doherty, Dennis E.; Make, Barry (2010-07). "Oxygen Therapy for Patients With COPD". Chest (dalam bahasa Inggris). 138 (1): 179–187. doi:10.1378/chest.09-2555. PMC 2897694. PMID 20605816.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=Pemeliharaan CS1: Format PMC (link)
  5. ↑ Abernethy, Amy P.; McDonald, Christine F.; Frith, Peter A.; Clark, Katherine; Herndon, James E.; Marcello, Jennifer; Young, Iven H.; Bull, Janet; Wilcock, Andrew (2010-09-04). "Effect of palliative oxygen versus medical (room) air in relieving breathlessness in patients with refractory dyspnea: a double-blind randomized controlled trial". Lancet. 376 (9743): 784–793. doi:10.1016/S0140-6736(10)61115-4. ISSN 0140-6736. PMC 2962424. PMID 20816546.
  6. ↑ Joint Royal Colleges Ambulans Liaison Committee/Warwick University (April 2009). ""Clinical Guidelines Update – Oxygen" (PDF)" (PDF). Diakses tanggal 19 Desember 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Oxygen Therapy". National Headache Foundation (dalam bahasa American English). 2007-10-25. Diakses tanggal 2019-12-23.
  8. ↑ Lellouche, François; L'Her, Erwan (2012-08-01). "Automated Oxygen Flow Titration to Maintain Constant Oxygenation". Respiratory Care (dalam bahasa Inggris). 57 (8): 1254–1262. doi:10.4187/respcare.01343. ISSN 0020-1324. PMID 22348812.
  9. 1 2 3 4 5 6 7 Hegazy, Ahmed F.; McConachie, Ian (2014/12). "Oxygen therapy". Handbook of ICU Therapy (dalam bahasa Inggris). doi:10.1017/cbo9781107323919.004. Diakses tanggal 2019-12-12.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  10. ↑ Gibson, Robert; Comer, Paul; Beckham, Richard; McGraw, C. P. (1976-01). "Actual Tracheal Oxygen Concentrations with Commonly Used Oxygen Equipment". Anesthesiology (dalam bahasa Inggris). 44 (1): 73. doi:10.1097/00000542-197601000-00019. ISSN 0003-3022. PMID 1244782.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  11. ↑ Berg, Katherine M.; Lang, Gerald R.; Salciccioli, Justin D.; Bak, Eske; Cocchi, Michael N.; Gautam, Shiva; Donnino, Michael W. (2012-10). "The rapid shallow breathing index as a predictor of failure of noninvasive ventilation for patients with acute respiratory failure". Respiratory Care. 57 (10): 1548–1554. doi:10.4187/respcare.01597. ISSN 0020-1324. PMID 22417884.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  12. ↑ Kanani 2003, hlm. 170"To prevent this, the patient must initially be given 24% oxygen whixh is steadily increased depending on the effect"
  13. ↑ Kanani, Mazyar. Surgical Critical Care Vivas. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 169–170. doi:10.1017/cbo9780511584251.047. ISBN 978-0-511-58425-1.

Daftar Pustaka

Agasti, T. K. (2010). Textbook of Anaesthesia for Postgraduates. Dordrecht. ISBN 93-80704-94-1. OCLC 754630904.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Kanani, Mazyar (1974). Surgical Critical Care Vivas. Cambridge: Cambridge University Press. doi:10.1017/cbo9780511584251.047. ISBN 978-0-511-58425-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Rushman, Geoffrey B.; Davies, N. J. H.; Atkinson, Richard Stuart (1996). A Short History of Anaesthesia: The First 150 Years. ISBN 9780750630665.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan