Sabtu, 17 Oktober 2026
21:42 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Tempe bongkrèk

variasi makanan khas Indonesia

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. Silakan mengembangkan artikel ini dengan menambahkan pranala yang relevan ke konteks pada teks yang sudah ada. (Desember 2022) (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Tempe bongkrèk" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Tempe bongkrèk adalah salah satu jenis tempe dari Jawa Tengah, atau lebih populer lagi dari daerah Banyumas, yang dibuat dari kacang kedelai dan ampas kelapa.[butuh rujukan] Tempe ini sering kali menyebabkan keracunan karena terkontaminasi oleh bakteri Burkholderia galdioli yang menghasilkan racun berupa asam bongkrek dan toxoflavin,[butuh rujukan] serta memusnahkan jamur Rhizopus karena efek antibiotik dari asam bongkrek.[butuh rujukan]

Dengan seringnya terjadi keracunan yang bisa menyebabkan korban jiwa, pemerintah melarang penjualan tempe ini.[butuh rujukan] Namun pembuatan secara diam-diam terus dilakukan karena rasanya yang digemari. Biasanya penanda amannya tempe bongkrek adalah bau, tekstur, dan rasa yang baik. Tempe bongkrek yang berwarna kekuningan biasanya menjadi tanda keberadaan racun toxoflavin. Namun tempe bongkrek dengan warna yang normal masih menyimpan kemungkinan adanya bahaya.[butuh rujukan]

Keracunan bongkrek

Gejala keracunan tempe bongkrek timbul 12–48 jam setelah konsumsi. Penderitanya akan merasakan badan lemah, pusing, mual, sesak napas, sulit menelan, sulit bicara hingga akhirnya meninggal. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan langsung membawa ke rumah sakit. Dokter akan berupaya mengeluarkan kembali tempe bongkrek yang sudah telanjur masuk ke lambung dengan obat pencahar. Serta pemberian antitoxin, atau bila perawatan masih tak memberi respons, bisa dilakukan pemberian glukosa dan garam fisiologis.[butuh rujukan]

Nutrisi

Dari kandungan nutrisi, tiap 100 gram tempe bongkrek bernilai 119 kalori, kandungan proteinnya 4,4 gram, lemak 3,5 gram, karbohidrat 18,3 gram, kalsium 27 milligram, fosfor 100 milligram, zat besi 2,6 milligram, vitamin B1 0,08 milligram.[butuh rujukan]

Budaya populer

Novel Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel yang menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat di Dukuh Paruk yang hidup dalam kemiskinan, salah satunya adalah mengonsumsi tempe bongkrek sebagai makanan mereka. kemudian ada peristiwa di mana warga Dukuh Paruk mengalami keracunan massal akibat tempe bongkrek yang dibuat oleh orang tua Srintil, salah satu cikal bakal ronggeng di Dukuh Paruk.[1] Novel tersebut kemudian dialihwahanakan ke dalam bentuk film yang berjudul Sang Penari[2]. Kasus tempe bongkrek yang terjadi di Dukuh Paruk membuat Srintil merasa bertanggung jawab untuk menebus aib keluarganya saat dewasa dengan menjadi ronggeng.[butuh rujukan]

Bahan bacaan terkait

Referensi

  1. ↑ Tohari, Ahmad (2020-06-15). Ronggeng Dukuh Paruk. Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-06-1377-2.
  2. ↑ Gunawan, Debi; Hayati, Yenni; Nasution, Muhammad Ismail (2019). "ALIH WAHANA NOVEL RONGGENG DUKUH PARUK KARYA AHMAD TOHARI KE FILM SANG PENARI KARYA SUTRADARA IFA ISFANSYAH: DITINJAU DARI EPISODE CERITA". Jurnal Bahasa dan Sastra (dalam bahasa American English). 6 (4): 525–534. doi:10.24036/81046000. ISSN 2302-3538.


Ikon rintisan

Artikel bertopik makanan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan