Jumat, 25 September 2026
22:47 WIB
TERKINI
Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia

Tajung

Tajung (alias sewet tajung dalam bahasa Palembang) adalah salah satu jenis kain tenun khas suku Palembang dari Palembang, Sumatera Selatan. Tajung berupa kain tenun tanpa benang emas yang dikenakan oleh kaum laki-laki, sedangkan padanannya untuk kaum perempuan disebut blongsong.[1] Kain ini diperkirakan sudah ada sejak masa Kesultanan Palembang karena merupakan salah satu pakaian para pembesar kesultanan.[1][2]

Sejarah

Tajung dan blongsong diperkirakan telah ada sejak masa Kesultanan Palembang. Pada masa itu, kaum laki-laki tidak diperkenankan mengenakan songket — yang ketika itu hanya dipakai oleh perempuan yang telah menikah — sehingga laki-laki dikhususkan mengenakan tajung. Awalnya kain ini hanya digunakan di lingkungan kesultanan, tetapi setelah Kesultanan Palembang berakhir, penggunaannya meluas ke masyarakat umum.[1] Sejumlah sumber populer menyebut tajung sudah ada sejak masa kemaharajaan Sriwijaya,[3] meskipun kajian sejarah cenderung mengaitkan keberadaannya dengan masa Kesultanan Palembang.[1]

Salah satu sentra produksi tajung yang terkenal adalah Kelurahan Tuan Kentang di Palembang, yang dikenal sebagai "Sentra Industri Kampung Kain Tuan Kentang". Menurut penelitian sejarah, penenunan tajung dan blongsong di Tuan Kentang dimulai sekitar tahun 1960, ketika pendatang dari Cirebon memperkenalkan alat tenun bukan mesin (ATBM). Sebelumnya, masyarakat setempat hanya menenun songket menggunakan alat tenun gedogan.[1]

Ciri dan motif

Tajung memiliki corak warna cerah dengan motif beragam khas yang melambangkan Palembang. Tajung biasanya memiliki kombinasi dari motif garis yang membentuk kotak-kotak atau seperti corak yang berbayang dalam bahasa Palembang disebut gebeng, serta ornamen geometris yang dihasilkan melalui teknik limar atau pemelintiran benang.[2] Beberapa nama motif tajung antara lain limar, limar patut, petak-petak, dan gerbik.[4] Motif geometris pada tajung kerap dimaknai sebagai lambang ketegasan kaum laki-laki, dan warnanya cenderung lebih solid dibandingkan blongsong yang berwarna lebih lembut.[5]

Berbeda dengan songket yang ditenun menggunakan benang emas, baik tajung maupun blongsong ditenun tanpa benang emas. Terdapat pula varian blongsong yang diberi tambahan benang emas membentuk ornamen songket, yang dikenal sebagai blongket.[4]

Bahan dan pembuatan

Benang yang umum digunakan untuk membuat tajung adalah benang sutra yang diperoleh dari serat kepompong ulat sutra yang dibudidayakan di Sumatera Selatan, serta benang semi-sutra.[5] Penenunan dilakukan menggunakan alat tenun bukan mesin.[1] Secara garis besar, prosesnya meliputi pewarnaan benang, penjemuran, pemintalan benang ke dalam alat yang disebut teropong, lalu penenunan. Proses pewarnaan dan penyusunan motif dapat memakan waktu sekitar 25 hari hingga satu bulan, sedangkan penenunan kain sepanjang dua meter membutuhkan waktu sekitar satu hingga tiga hari.[4]

Penggunaan

Secara tradisional, tajung dikenakan khusus oleh kaum laki-laki dalam acara adat dan keagamaan,[1] dan pada masa lalu identik dengan kalangan bangsawan pada acara resmi kesultanan. Saat ini, tajung digunakan dalam berbagai acara istimewa seperti pernikahan, acara budaya, dan acara kenegaraan.[5] Sebagian sumber menyebutkan adanya kebiasaan bahwa sewet tajung hanya dikenakan oleh laki-laki yang sudah menikah.[3]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 Maulinda, Nadia; Farida; Safitri, Sani (2021). "Kain Tenun Tajung dan Blongsong: Sejarah dan Ekonomi Masyarakatnya". HISTORIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah. 9 (1): 79–86. doi:10.24127/hj.v9i1.2939. ISSN 2442-8728.
  2. 1 2 "Mengenal Kain Tenun Tajung dan Blongsong dari Palembang". The Textile Map. 21 April 2021. Diakses tanggal 6 Juni 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 "Kerajinan Tenun Tradisional Blongsong/Tajung Palembang". Prosiding PKM-CSR. 2019. Diakses tanggal 6 Juni 2026.
  4. 1 2 3 "5 Jenis Kain Tradisional Palembang Selain Songket yang Harus Kamu Tahu". Fitinline. 27 Juli 2023. Diakses tanggal 6 Juni 2026.
  5. 1 2 3 "Makna Kain Tajung Palembang, Tenun Khas Sumatra Selatan". kumparan. 27 September 2024. Diakses tanggal 6 Juni 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)


Ikon rintisan

Artikel bertopik umum ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Jika Anda melihat halaman yang menggunakan templat {{stub}} ini, mohon gantikan dengan templat rintisan yang lebih spesifik.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan