Senin, 28 September 2026
19:58 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto
Ubi jalar

Ubi jalar

spesies tanaman

Ubi jalar
Ketela rambat
250px-Ipomoea_batatas_-_Tubers.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Umbi
250px-Ipomoea_batatas_%28Sweet_Potato%29_Flower.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bunga
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili: Convolvulaceae
Genus: Ipomoea
Spesies:
I. batatas
Nama binomial
Ipomoea batatas

Ubi jalar atau ketela rambat (Ipomoea batatas) adalah sejenis tanaman budi daya. Tanaman ini juga disebut ubi rambat, ubi manis, ubi jawa, ubi jenderal, petatas, atau kentang manis (sweet potato). Bagian yang dimanfaatkan adalah akarnya yang membentuk umbi dengan kadar gizi (karbohidrat) yang tinggi. Di Afrika, umbi dari ubi jalar menjadi salah satu sumber makanan pokok yang penting. Di Asia, selain dimanfaatkan umbinya, daun muda ubi jalar juga dibuat sayuran. Terdapat pula ubi jalar yang dijadikan tanaman hias karena keindahan daunnya.

Ubi jalar berasal dari daerah beriklim tropis seperti wilayah Amerika Selatan dan Papua (yang saat ini masih diperdebatkan). Kalangan yang tidak menyetujui asal-muasal ubi jalar dari Papua berpendapat bahwa orang Indian telah berlayar menuju ke barat melalui Samudra Pasifik dan membantu menyebarkan ubi jalar ke Asia. Proposal ini banyak ditentang karena bertentangan dengan fakta-fakta klimatologi dan antropologi.

Deskripsi

Dikenal dengan nama ketela rambat, huwi areuy/boled (Sunda), tela rambat (Jawa), petatas (Papua), sweet potato (Inggris), dan shoyo (Jepang) adalah sumber karbohidrat yang cukup penting dalam sistem ketahanan pangan kita. Selain karbohidrat sebagai kandungan utamanya, ubi jalar juga mengandung vitamin, mineral, fitokimia (antioksidan), dan serat (pektin, selulosa, hemiselulosa).

Ada beberapa varietas ubi jalar yang ada di Indonesia yaitu Daya, Borobudur, Prambanan, Mendut, Kalasan, Muara Takus, Cangkuang, Sewu. Sedangkan varietas-varietas yang baru dilepas tahun 2001 antara lain: Cilembu yang berasal dari Sumedang. Masing-masing varietas memiliki rasa khas yang berbeda-beda.

Ubi cilembu merupakan salah satu produk pertanian unggulan bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang. Daerah penghasil ubi cilembu adalah Cilembu, Cadas, Pangeran, Sumedang. Ubi cilembu berkulit gading, berurat, dan panjang, sedangkan getahnya akan meleleh seperti madu ketika dipanggang. Ubi ini sangat manis dan pulen, berbeda dengan ubi kebanyakan. Rasa manis dari ubi cilembu akan lebih terasa apabila ubi dibakar di dalam oven, terutama apabila ubi mentah telah disimpan lebih dari satu minggu.

Budi daya

Ubi jalar dapat dibudidayakan melalui stolon/batang rambatnya. Cara menanamnya cukup mudah, dengan mencangkul lahan yang mau ditanami sehingga stolon/batang rambat ubi jalar mudah dimasukkan dalam tanah. Pemeliharaannya juga cukup mudah. Ubi jalar akan tumbuh baik bila lahan terkena matahari langsung, pemeliharaan dari gulma untuk menghindari persaingan unsur hara di sekitar tanaman. Pemberian pupuk UREA atau organik akan menambah hasil panen yang lebih bagus. Panen ubi jalar yaitu dengan mencangkuli sekitar tanaman, ini untuk mencegah ubi rusak karena terkena cangkul atau alat pertanian.

Sejarah

Ubi jalar atau ketela rambat atau “sweet potato” diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia.

Di Indonesia, ubi jalar merupakan salah satu tanaman pangan penting dalam kehidupan masyarakat Papua, khususnya di wilayah pegunungan. Selain sebagai sumber pangan, ubi jalar memiliki fungsi sosial dan budaya serta berkaitan dengan berbagai kegiatan adat, seperti perkawinan, kelahiran, kehidupan, perdamaian, hingga kematian. Tanaman ini bukan berasal dari Papua, melainkan dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan dan kemudian menyebar ke wilayah Pasifik, termasuk Papua, melalui beberapa jalur migrasi dan perdagangan. [2]

Berdasarkan bukti arkeologi, linguistik, sejarah, dan genetika, penyebaran ubi jalar ke kawasan Pasifik diperkirakan berlangsung melalui tiga jalur utama. Jalur pertama, dikenal sebagai jalur Kumara. Hipotesis ini mengaitkan penyebaran ubi jalar dengan pelayaran pelaut Polinesia dari pesisir Amerika Selatan menuju wilayah Polinesia bagian timur daerah Kepulauan Cook dan Kepulauan Marquesas, yang diperkirakan berlangsung sekitar 1100-1200 M. Dari kawasan tersebut, ubi jalar kemudian menyebar ke Hawaii, Selandia Baru, dan Pulau Paskah. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa tanaman tersebut telah dikenal di beberapa wilayah tersebut sebelum berlangsungnya kontak awal dengan bangsa Eropa.[2][3]

Jalur kedua, disebut jalur Batata. Berdasarkan hipotesis ini, ubi jalar dibawa oleh pelaut Portugis menuju India, Afrika, dan Maluku sekitar tahun 1550 M. Dari Maluku, tanaman tersebut selanjutnya menyebar ke Papua. Sementara itu, jalur ketiga dikenal sebagai jalur Camote. Jalur ini mengacu pada penyebaran ubi jalar oleh bangsa Spanyol dari Meksiko menuju Filipina setelah penaklukan wilayah tersebut pada tahun 1522.[2][3]

Setelah diperkenalkan dari luar Papua, ubi jalar mampu beradaptasi dan dapat tumbuh pada berbagai ketinggian, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Dalam perkembangannya, ubi jalar tidak hanya menjadi sumber pangan bagi manusia, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pakan babi, khususnya bagian daunnya. Hubungan antara produksi ubi jalar dan pemeliharaan babi kemudian menjadikan tanaman tersebut memiliki kedudukan penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Papua.[2][3]

Perkembangan budidaya ubi jalar di wilayah pegunungan juga berpengaruh terhadap pola pangan masyarakat. Ubi jalar secara bertahap menjadi tanaman pangan yang dominan dan mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah tanaman umbi yang telah ada sebelumnya, seperti talas dan keladi. Perubahan tersebut juga berkaitan dengan perkembangan permukiman dan pertumbuhan penduduk di wilayah pedalaman Papua. Kondisi ini oleh sejumlah kajian dikaitkan dengan munculnya perubahan besar dalam sistem pertanian dan kehidupan masyarakat pegunungan yang sering disebut sebagai "Revolusi Ipomoean".[2][3] Di wilayah dataran rendah, sagu tetap menjadi sumber pangan utama, sedangkan ubi jalar memiliki kedudukan yang relatif lebih sekunder. Sebaliknya, di wilayah pegunungan, ubi jalar berkembang menjadi salah satu sumber pangan utama masyarakat.[2]

Budidaya ubi jalar yang dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat pegunungan Papua menghasilkan beragam varietas lokal serta pengetahuan tradisional mengenai tanaman tersebut. Dalam praktik pertaniannya, terdapat pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bertanggung jawab terhadap pekerjaan awal dalam pengolahan lahan, seperti menggemburkan tanah, membuat gundukan, dan membentuk parit. Sementara itu, perempuan berperan dalam penanaman, pemeliharaan tanaman, pemanenan, serta kegiatan penjualan hasil pertanian.[2]

Pembagian peran tersebut membuat perempuan memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai aspek budidaya ubi jalar. Pengetahuan tersebut diperoleh dan diwariskan antar generasi melalui praktik pertanian sehari-hari. Dengan demikian, ubi jalar tidak hanya berfungsi sebagai tanaman pangan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pengetahuan, pembagian kerja, kehidupan sosial, dan kebudayaan masyarakat Papua, khususnya di wilayah pegunungan.[2]

Ubi jalar ungu

Ubi jalar ungu, atau dalam istilah ilmiahnya Ipomoea Batatas var Ayamurasaki, adalah satu varietas ubi jalar yang memiliki kulit dan daging berwarna ungu. Tumbuhan ini bisa tumbuh dengan baik di daerah beriklim hangat dan berpasir. Ubi jalar ungu memiliki rasa manis dan konsistensi yang lembut. Ia sering digunakan dalam berbagai hidangan seperti makanan penutup, makanan laut, sup, atau dipanggang sebagai camilan. Ubi jalar ungu juga dikenal kaya akan serat, vitamin, dan mineral seperti vitamin A, vitamin C, dan zat besi. Selain kandungan gizi yang tinggi, ubi jalar ungu juga mengandung antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh.

Ubi jalar merah

Berdasarkan riset yang dilakukan Institut Pertanian Bogor, ubi jalar merah yang berasal dari Papua mengandung senyawa beta karotena yang mampu menurunkan infeksi HIV/AIDS. Sehingga diusulkan menjadi diet utama penderita HIV/AIDS bersama bahan lain.[4] Dibandingkan dengan bahan makanan pokok lain, ubi jalar biasa memiliki kandungan senyawa pembentuk vitamin A tertinggi, yaitu mencapai 14187 IU per 100 gram porsi, atau mencapai 89% kebutuhan harian.[5] Beta karotena termasuk salah satu senyawa pembentuk vitamin A.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ IUCN Detail 71775024
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 Arif, Ahmad (2021). Masyarakat adat & kedaulatan pangan. Seri pangan Nusantara (Edisi Cetakan pertama). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-480-9.
  3. 1 2 3 4 Roullier, C.; Kambouo, R.; Paofa, J.; McKey, D.; Lebot, V. (Juni 2013). "On the origin of sweet potato (Ipomoea batatas (L.) Lam.) genetic diversity in New Guinea, a secondary centre of diversity". Heredity (dalam bahasa Inggris). 110 (6). Nature Publishing Group: 594–604. doi:10.1038/hdy.2013.14. ISSN 1365-2540.
  4. ↑ Ubi Jalar Merah Bisa Turunkan Infeksi HIV/AIDS. KOMPAS. Rabu, 24 Juli 2013. Hal 13.
  5. ↑ Nutrient Data Laboratory Diarsipkan 2013-03-02 di Wayback Machine.. United States Department of Agriculture.

Bahan Bacaan

  • (Indonesia) Genom Ubi Jalar Hipotesis Eksplorasi Tripartit Diarsipkan 2013-01-26 di Wayback Machine. Jurnal KeSimpulan Diarsipkan 2011-09-01 di Wayback Machine.
  • Abidin, P.E. 2004. Sweetpotato breeding for northeastern Uganda: Farmer varieties, farmer-participatory selection, and stability of performance. PhD Thesis, Wageningen University, The Netherlands, 152 pp. ISBN 90-8504-033-7.
  • Ahn, P.M., 1993, "Tropical soils and fertilizer use", Intermediate Trop. Agric. Series. Longman Sci. and Tech. Ltd. UK.
  • Austin, D.F. 1988. The taxonomy, evolution and genetic diversity of sweetpotatoes and related wild species. In: P. Gregory (ed.). Exploration, maintenance, and utilization of sweetpotato genetic resources, pp. 27–60. CIP, Lima, Peru.
  • Edmond, J. B., Ammerman, G. R. 1971. Sweet Potatoes: Production, Processing, Marketing. [Major Feed and Food Crops in Agriculture and Food Series.] Westport, Connecticut: The Avi Publishing Company.
  • Hartemink, A.E., S. Poloma, M. Maino, K.S. Powell, J. Egenae & J. N. Sullivan, (2000). Yield decline of sweet potato in the humid lowlands of Papua New Guinea. Agriculture, Ecosystems and Environment 79 (2-3), 259-269.
  • Purseglove, J.W. 1991. Tropical crops. Dicotyledons. Longman Scientific and Technical. John Wiley and Sons, Inc. NY. USA.
  • Verrill, A.H., Foods America Gave the World, 1937, Boston: L.C. Page & Co.
  • Woolfe, J.A., 1992, "Sweetpotato: an untapped food resource", Cambridge Univ. Press and the International Potato Center (CIP). Cambridge, UK.
  • Zhang, D.P., M. Ghislain, Z. Huamán, J.C. Cervantes and E.E. Carey 1998. AFLP assessment of sweetpotato genetic diversity in four tropical American regions. CIP Program Report 1997-1998, pp. 303–310.
Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ipomoea batatas.
Wikisource logo
Wikisource memiliki teks artikel Ensiklopedia Britannica 1911 mengenai Sweet Potato.
Ipomoea batatas
Convolvulus batatas
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan