Senin, 28 September 2026
20:25 WIB
TERKINI
Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Berita Fenomena Unik 'Hujan Salju' di Lapangan Sempur Bogor, Warga Sambut Riang Internasional Profesor Biao Xiang: Idola Gen Z China yang Berani Bahas Kecemasan Hidup Berita Pelaku Injak Al-Qur'an di Lebak Divonis Penjara, Wajib Minta Maaf Publik Berita Dilema Ganjil Genap Jakarta: Evaluasi Setelah 1 Dekade, Relaksasi Jadi Perdebatan Berita Evakuasi Buaya Peliharaan di Bandar Lampung Penuh Haru, Pemilik Sempat Pingsan Berita Polemik Buku 'Memburu Muhammad': Penulis dan Tokoh Islam Jelaskan Niat Baik Regional Flyover Ciroyom Bandung Rampung, Solusi Baru Atasi Kemacetan Kota Regional Informasi Persiapan Vihara Jelang Imlek Belum Tersedia Regional Wujudkan Rumah Impian: Pendaftaran KPR Kini dalam Genggaman dengan BTN Mobile Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto
Sutra Tussar

Sutra Tussar

330px-Tussore_Sarees_-_Phulia_2016-11-12_1891.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sari dari sutra tussar yang ada di Phulia, Nadia, India.

Sutra Tussar (bahasa Sanskerta: kosa) adalah jenis sutra liar yang berasal dari larva ngengat Antheraea, termasuk spesies seperti A. assamensis, A. paphia, A. pernyi, A. roylei, dan A. yamamai. Larva ini hidup di alam liar, memakan daun pohon hutan, terutama spesies Terminalia dan Shorea robusta, serta tanaman lain seperti jamblang dan ek yang terdapat di Asia Selatan.[1][2] Sutra Tussar terkenal karena teksturnya yang lembut dan warna emas tua alaminya, dan produksi sutra ini tersebar di berbagai negara, termasuk Tiongkok,[3] India, Jepang, dan Sri Lanka.[4]

Proses

Untuk membunuh ulat sutra, kepompong biasanya dikeringkan di bawah sinar matahari. Dalam beberapa metode, ulat sutra dibiarkan keluar terlebih dahulu sebelum kepompong direndam dalam air mendidih untuk melunakkan serat, lalu benangnya digulung.[1][2] Kepompong tunggal berbentuk oval dikumpulkan dan direbus untuk mengekstrak benang sutra. Proses perebusan ini penting karena melunakkan kepompong sehingga serat sutra dapat diambil dengan lebih mudah. Dalam serikultur tradisional, kepompong direbus bersama larva di dalamnya, tetapi jika direbus setelah larva meninggalkan kepompong, sutra yang dihasilkan dikenal sebagai "sutra tanpa kekerasan" atau sutra Ahimsa. Di Tiongkok, sutra diberi nama berbeda berdasarkan jenis tanaman yang dikonsumsi ulat sutra, karena makanan memengaruhi kualitas serat. Misalnya, sutra dari ulat yang memakan murbei liar disebut zhe, sedangkan dari ek Quercus dentata disebut hu.[3]

Sutra tussar memiliki tekstur yang lebih kasar dibandingkan sutra Bombyx atau sutra murbei budidaya dan seratnya lebih pendek sehingga kurang tahan lama. Seratnya memiliki kilau emas yang lembut dan kusam.[1][2]

Kegunaan

Sari merupakan produk sutra tussar yang paling menonjol,[5][6] meski sutra ini juga sering digunakan sebagai bahan untuk kerajinan tangan, kain furnitur, dan pakaian jahit. Dengan hadirnya pewarna kimia, variasi warna sutra tussar kini jauh lebih beragam. Beberapa desainer busana memanfaatkan sutra ini dalam karya mereka, dan pakaian tussar yang dibuat dengan desain dan kualitas tinggi kini dikenal secara internasional serta diekspor ke berbagai negara.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 "Tussar Silk". Copper wiki. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Maret 2012. Diakses tanggal 7 Mei 2012.
  2. 1 2 3 "Learning Centre". Brass Tacks, Madras. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2012. Diakses tanggal 7 Mei 2012.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 Su Jing, Lun Luo, Landlord and Labor in Late Imperial China: Case Studies from Shandong, Harvard University Asia Center, 1978 ISBN0-674-50866-1
  4. ↑ Eliza Thompson, Silk, Read Books, 2010 ISBN1-4086-9508-1
  5. ↑ "Alluring designs in silk". The Hindu. Chennai, India. 2 Agustus 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 7 November 2012. Diakses tanggal 7 Mei 2012.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. ↑ "It's worth to be at Weaves". Chennai, India: The Hindu, 11 October 2009. 11 Oktober 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2012. Diakses tanggal 7 Mei 2012.
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan