Sabtu, 24 Oktober 2026
06:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Maulana Hasanuddin dari Banten

Maulana Hasanuddin dari Banten

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Bagikan:
"Sultan Hasanuddin" beralih ke halaman ini. Artikel ini membahas mengenai biografi Sultan Banten ke-1. Untuk Sultan Gowa dengan nama yang sama, lihat Sultan Hasanuddin.
Untuk pengertian lain, lihat Hasanuddin (disambiguasi).
Sultan Maulana Hasanuddin
250px-Maulana_Hasanuddin_of_Banten.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nasabbin Syarif Hidayatullah
NisbahAl Bantani
LahirMaulana Hasanuddin
1478
Cirebon, Kesultanan Cirebon
Meninggal1570
Surosowan, Kesultanan Banten
Dimakamkan diMasjid Agung Banten, Banten, Kasemen, Serang, Banten
Nama lainPanembahan Surosowan
Kebangsaan- Kesultanan Cirebon
- Kesultanan Banten
DenominasiSunni
Murid dariSunan Gunung Jati, Nyai Kawunganten Guru-gurunya
Pangeran Ratu Jayakarta ke - 1
1530 - 1550
PendahuluAdipati Sunda Kelapa
PenerusPangeran Wijaya Kusuma
Pendiri Kesultanan Banten
1552 - 1570
PendahuluJabatan Baru
PenerusMaulana Yusuf
Istri
Keturunan
Orang tuaSunan Gunung Jati (ayah)
Nyai Kawunganten (ibu)

Sultan Maulana Hasanuddin adalah Pendiri Kesultanan Banten. Ia memiliki nama lain Pangeran Sabakingking dan memerintah di Banten dalam rentang waktu 1552 – 1570 M.

Masa Pemerintahan

Maulana Hasanuddin merupakan pendiri sekaligus sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia mendirikan Kesultanan Banten pada tahun 1527 setelah merebut wilayah Banten Girang dari Pucuk Umun. Banten Girang kemudian menjadi wilayah pertama dari Kesultanan Banten.[1]

Di bawah pemerintahannya, Kesultanan Banten mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang. Kesultanan Banten adalah kerajaan maritim yang mengandalkan perdagangan untuk menopang perekonomian kerajaan. Untuk memudahkan hubungan dagang dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda, pusat pemerintahannya kemudian dipindahkan dari pedalaman Banten Girang ke pesisir.[butuh rujukan]

Di kawasan teluk Banten, Maulana Hasanuddin membangun tiga institusi penting sebagai motor perubahan kerajaannya. Tiga institusi tersebut adalah masjid (sebagai basis kegiatan sosial keagamaan), Kraton Surosowan (pusat pemerintahan), dan pelabuhan (sentra ekonomi).[butuh rujukan]

Di tangan Sultan Maulana Hasanuddin, Banten dikenal sebagai bandar besar yang menjadi persinggahan utama dan penghubung antara pedagang dari Arab, Parsi, India dan Tiongkok dengan negara-negara di Nusantara.[butuh rujukan] Selain itu, Kesultanan Banten juga menguasai Lampung yang banyak menghasilkan rempah-rempah.[2] Di era Sultan Maulana Hasanuddin pula, Banten dapat melepaskan diri dari Demak pada 1568 M.[butuh rujukan] Sultan Maulana Hasanuddin wafat pada 1570 dan dimakamkan di Masjid Agung Banten.[butuh rujukan] Ia juga dikenal sebagai Pangeran Surosowan karena telah mendirikan Keraton Surosowan.[3]

Referensi

  1. ↑ BPS Provinsi Banten (2019). Pariwisata Banten dalam Angka Tahun 2019 (PDF). Dinas Pariwisata Provinsi Banten. hlm. 48.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Hakiki, Kiki Muhamad; Effendi, Effendi; Badruzaman, Badruzaman; Badi’ah, Siti; Musofa, Ade (2021-02-11). "Prasasti Dalung Kuripan; Dokumentasi Perjanjian Banten – Lampung Tahun 1552 M". Al-Adyan: Jurnal Studi Lintas Agama. 15 (2): 301–326. doi:10.24042/ajsla.v15i2.8214. ISSN 2685-3574.
  3. ↑ Ningsih, Widya; Nailufar, Nibras (2021-07-03). "Keraton Surosowan: Fungsi dan Sejarah Berdirinya". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-01-27.
Gelar kebangsawanan
Resimen baru Penguasa Banten
1552–1570
Diteruskan oleh:
Maulana Yusuf
Banten sebagai Negara Berdaulat
Sultan Wakil
Pewaris Kesultanan Banten
Di bawah pemerintah Provinsi Banten

Wangsa: Hasan al-Bantani

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan