Senin, 12 Oktober 2026
02:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Bandar Lampung Rotasi Kepemimpinan: Brigjen Yustan Alpiani Resmi Jadi Kapolda Lampung Lampung Selatan Anak Krakatau Siaga: Status Gunung Meningkat Setelah Belasan Kali Erupsi Intens Pringsewu Truk Fuso Diduga Rem Blong Picu Kecelakaan Maut di Pringsewu, Dua Tewas Lampung Rotasi Besar Polri: 199 Perwira Tinggi dan Menengah Pindah Tugas, Tiga Kapolda Berganti Advertorial Sistem Kelistrikan Lampung Dipuji DPR, EBT Sumbang Hampir Separuh Pasokan Lampung Anak Krakatau Naik Status Siaga Level III: Potensi Bahaya, Jauhi Radius 5 KM Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Ditetapkan, Radius Bahaya 5 Km Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka

Aliyuddin II dari Banten

Bagikan:
Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin II
[[Sultan Banten]]16
Masa jabatan
1803–1808
PendahuluSultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin
PenggantiSultan Maulana Muhammad Shafiuddin
Informasi pribadi
Lahir
Meninggal
HubunganSultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin I (Ayah)
Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin (Kakak)
Pangeran Ahmad (Adik)
Pangeran Dharma (Adik)
Pangeran Muhammad Abbas (Adik)
Pangeran Musa (Adik)[1]

Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin II yang bernama asli Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aqiluddin merupakan seorang sultan pada Kesultanan Banten yang berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1803 - 1808[2] yang setelah sebelumnya administrasi Kesultanan Banten dipegang oleh seorang Caretaker Sultan Wakil Pangeran Natawijaya pada rentang waktu 1802 - 1803.[3] Sultan Aliuddin II merupakan putera dari Sultan Aluiddin I (Sultan Banten ke-13) dan adik kandung dari Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin (Sultan Banten ke-15).[4]

Biografi

Pada tahun 1803, Kesultanan Banten kembali dipegang oleh pewaris resmi takhta kesultanan, Putra Sultan Penuh Banten ke-13, keponakan Sultan Penuh Banten ke-14, adik Sultan Penuh Banten ke-15; yakni Sultan Abul Mufakhir Muhammad Aqiluddin / Aliyuddin II yang memimpin dari tahun 1803 – 1808.

Mulai tahun 1807, Belanda dikuasai oleh Prancis. Louis Bonaparte (adik Kaisar Napoleon Bonaparte, Prancis) diberi kekuasaan atas Belanda dan mengangkat Herman Willem Daendels sebagai Gubernur di Kepulauan Nusantara atau Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Daendels datang ke Batavia tahun 1808 dengan tugas utama mempertahankan pulau Jawa dari serangan tentara Inggris di India, untuk tugas tersebut Daendels berencana membuat pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon dengan mempekerjakan masyarakat Banten dengan sistem Kerja Paksa atau Rodi.[5]

Diasingkan ke Ambon

Sultan Aliuddin II sempat menentang tuntutan Belanda atas sistem kerja paksa. Lantas Daendels mengutus Komandeur Philip Pieter Du Puy dan pasukannya ke Istana Surasowan untuk mendorong Sultan menyetujui tuntutan Belanda, hal ini mendorong kemarahan rakyat Banten sehingga Du Puy dibunuh di depan pintu gerbang Surasowan.

Daendels membalas menyerang Surasowan pada hari itu juga yakni tanggal 22 Nopember 1808 dengan serangan kejutan yang berhasil merebut Surasowan. Sultan kemudian dibuang ke Ambon, Patih Mangkubumi dihukum pancung dan jasadnya dibuang ke laut.[6]

Referensi

  1. ↑ "Sultan Aliuddin II". www.geni.com.
  2. ↑ "Silsilah Sultan Banten dan Keturunannya". ranji.sarkub.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-02-02. Diakses tanggal 2017-02-07.{{cite web}}: Parameter tidak dikenal |dead-url= diabaikan (|url-status= disarankan)
  3. ↑ "Sejarah Kesultanan Banten". sejarahsejarah.wordpress.com.
  4. ↑ "Profil Sultan Aliuddin II". id.rodovid.org.
  5. ↑ "Sejarah Kesultanan Banten". kesultananbanten.weebly.com.
  6. ↑ "Sejarah Kesultanan Banten". www.kesultananbanten.id.

Pranala luar

  • Sejarah Kesultanan Banten di Sini
  • Sejarah Kesultanan Banten dari Masa ke Masa di Sini
Didahului oleh:
Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin
Sultan Banten
1803 - 1808
Diteruskan oleh:
Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin
Banten sebagai Negara Berdaulat
Sultan Wakil
Pewaris Kesultanan Banten
Di bawah pemerintah Provinsi Banten


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan