Kamis, 15 Oktober 2026
19:03 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M
Suku Daylam

Suku Daylam

suku kuno di Iran

Bagikan:
250px-Dailam_soldier.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penggambaran seorang kavaleri Daylam dalam buku pelajaran Iran.

Suku Daylam adalah suku penutur bahasa Iran Barat Laut yang pernah mendiami Daylam, sebuah pegunungan di Iran bagian utara di dekat pesisir barat daya Laut Kaspia, sekarang bagian dari Provinsi Gilan. Suku Daylam merupakan orang-orang yang suka berperang yang terampil dalam pertarungan jarak dekat. Mereka dipekerjakan sebagai tentara selama Kekaisaran Sasaniyah dan di kerajaan-kerajaan Muslim berikutnya. Daylam dan Gilan adalah satu-satunya wilayah yang berhasil melawan penaklukan Muslim di Persia, meskipun kemudian banyak tentara Daylam di luar daerah tersebut yang menerima Islam. Pada abad ke-9 banyak orang Daylam mengadopsi aliran Zaidiyah. Pada abad ke-10, beberapa mengadopsi Ismailiyah, kemudian pada abad ke-11 Ismailiyah Fathimiyah dan selanjutnya Nizari. Baik Zaidi dan Nizaris mempertahankan kehadiran yang kuat di Iran hingga kebangkitan Safawiyah abad ke-16 yang mendukung sekte Dua Belas Imam. Sebelumnya, pada dasawarsa 930-an, Dinasti Buwaihi bersuku Daylam muncul dan berhasil menguasai sebagian besar Iran modern, yang dipegangnya hingga kedatangan Turki Seljuk pada pertengahan abad ke-11.[1]

Asal dan bahasa

Artikel utama: Daylam dan Bahasa Daylam
250px-Ghaleye_Rud_Khan_%2840%29_4.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Hutan hujan di tepi barat Daylam.
250px-Iran_-_Qazvin_-_Alamout_Castle_View.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kastel Alamut terletak di sebelah tenggara Daylam di Alamut.

Suku Daylam pernah tinggal di dataran tinggi Daylam, bagian dari pegunungan Alborz, antara Tabaristan dan Gilan. Namun, sumber-sumber Zoroastrianisme dan Kekristenan paling awal menunjukkan bahwa suku Daylam awalnya tiba dari Anatolia bagian timur dekat Sungai Tigris,[2] tempat kelompok etnolinguistik Iran, termasuk bangsa Zaza, bermukim hingga sekarang.[3]

Suku ini menuturkan sebuah bahasa yang tergolong Iran Barat Laut yang mirip dengan bahasa Gilaki.[4] Selama Kekaisaran Sasaniyah, mereka dipekerjakan sebagai infanteri yang sangat diandalkan.[5] Menurut sejarawan Romawi Timur bernama Prokopios dan Agathias, mereka adalah orang-orang yang suka berperang dan terampil dalam pertempuran jarak dekat, masing-masing dipersenjatai dengan pedang, perisai, dan tombak atau lembing.

Referensi

Catatan kaki

  1. ↑ Fishbein, Michael, ed. (1990). The History of al-Ṭabarī, Volume XXI: The Victory of the Marwānids, A.D. 685–693/A.H. 66–73. Seri SUNY dalam Studi Timur Dekat. Albany, New York: State University of New York Press. hlm. 90, note 336. ISBN 978-0-7914-0221-4.
  2. ↑ Dadagi, Farnbagh. Bahar, Mehrdad. Bundahishn. Tus, 1991
  3. ↑ Extra, Guus; Gorter, Durk (2001). The Other Languages of Europe: Demographic, Sociolinguistic, and Educational Perspectives. Multilingual Matters. ISBN 978-1-85359-509-7.
  4. ↑ Madelung & Felix 1995, hlm. 342–347.
  5. ↑ Farrokh (2007), pp. 201, 224, 231

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan