Senin, 26 Oktober 2026
14:26 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Suku Ati

Suku Ati

Bagikan:
Ati
250px-Ati_woman_2.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Wanita Ati di Panay
Jumlah populasi
perkiraan 2,000+ (1980: 1,500 penutur Ati)[1]
Daerah dengan populasi signifikan
 Filipina
Visayas
Bahasa
Ati, Aklanon/Malaynon, Hiligaynon,
Kinaray-a, Filipino, Inggris
Agama
Animisme, Kekristenan (Katolik Roma)
Kelompok etnik terkait
Negrito, Bisaya

Suku Ati adalah suku bangsa Negrito di Visayas di Filipina Tengah. Jumlah mereka tersebar di Pulau Boracay, Panay, dan Negros. Secara genetik, mereka identik[2] dengan suku Negrito lain seperti Suku Aeta di Pulau Luzon, Batak di Palawan, dan Mamanwa di Mindanao.

Sejarah

Leluhur Ati adalah penduduk asli (atau pertama) dari kepulauan Filipina. Mereka kemungkinan besar tiba dari Kalimantan 20-30.000 tahun yang lalu, melalui wilayah tanah genting yang pada zaman prasejarah menghubungkan kepulauan Filipina dengan Kalimantan.[3] Menurut beberapa tradisi lisan, mereka juga telah mendiami Visayas sebelum orang Bisaya, yang sekarang menjadi mayoritas di Visayas.

Sebuah legenda menceritakan kisah tentang bagaimana pada awal abad ke-12, ketika Indonesia dan Filipina dipimpin oleh kerajaan bercorak India, leluhur orang Bisaya melarikan diri dari Kalimantan dari persekusi Rajah Makatunaw. Dipimpin oleh Datu Puti dan Datu Sumakwel mereka berlayar lalu mendarat di dekat sebuah sungai yang disebut Suaragan, di pantai barat daya Panay, dan menukar kalung dan salakot (caping) emas mereka dengan tanah milik kepala suku Ati yang bernama Polpolan dan putranya Marikudo. Kawasan perbukitan dibiarkan tetap milik orang Ati sedangkan dataran rendah dan tepian sungai diberikan kepada pendatang Melayu. Pertemuan ini diperingati melalui festival Ati-atihan. Namun legenda ini ditentang oleh beberapa sejarawan.[4]

Demografi

Bahasa

Jika suku Aeta di utara berbicara bahasa Sambalik, yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Luzon Tengah. Ati berbicara bahasa Bisaya yang dikenal sebagai Inati. Pada 1980, jumlah penutur Inati sekitar 1.500. Mereka juga berbicara bahasa Hiligaynon dan bahasa Kinaray-a.[1]

Agama

Ati mempraktikkan sejenis animisme yang melibatkan roh baik dan jahat. Roh-roh ini adalah roh alam yang menjaga sungai, laut, langit, dan juga pegunungan. Ati di Pulau Negros menyebut mereka sebagai taglugar atau tagapuyo, yang secara harfiah berarti "penghuni." Kekristenan juga telah diadopsi karena isolasi yang lebih sedikit dan lebih banyak kontak dengan "orang luar".

Referensi

  1. 1 2 "Ati – A language of Philippines". Ethnologue. Diakses tanggal 2007-03-26.
  2. ↑ "image from rafonda.com". rafonda.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Februari 2007. Diakses tanggal 2007-03-27.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Scott, William Henry (1984), Prehispanic Source Materials for the study of Philippine History, New Day Publishers, hlm. xix, 3, ISBN 971-10-0226-4, diakses tanggal 2008-08-05.
  4. ↑ "Kalantiao – the hoax". Paul Morrow. Diarsipkan dari asli tanggal 15 April 2007. Diakses tanggal 2007-03-26.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan