
Hambatan pertumbuhan atau tengkes (bahasa Inggris:stunting) adalah keadaan berhentinya pertumbuhan pada anak. Penyebab utama penyakit tengkes adalah kekurangan gizi pada waktu yang cukup lama. Pemberhentian pertumbuhan meliputi pertumbuhan tubuh dan otak. Penyakit tengkes menyebabkan anak memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak-anak lain yang seusia dengannya. Penyakit tengkes juga menyebabkan keterlambatan perkembangan cara berpikir.[1]
Definisi
Stunting adalah kondisi tak terbalikkan yang dapat berdampak seumur hidup pada individu. Kondisi stunting dapat dilihat dari hasil pengukuran panjang badan menurut umur (PB/U) dan tinggi badan menurut umur (TB/U) di bawah 2 Standar Deviasi menurut standar WHO.[2][3] Stunting pada anak merupakan suatu kondisi yang dapat menimbulkan akibat yang tidak dapat diubah, seperti cacat mental dan fisik.
Prevalensi stunting di India ditemukan sebesar 39% pada anak usia 6-23 bulan, dengan prevalensi lebih tinggi pada anak perempuan (42%) dibandingkan anak laki-laki (38%). Faktor risiko stunting ditemukan adalah berat badan lahir rendah, durasi menyusui yang singkat, status kesehatan ibu yang buruk, dan praktik pemberian makanan pendamping ASI yang tidak memadai.

Penyebab
Tengkes terjadi akibat kurangnya asupan gizi pada anak. Kekurangan gizi ini diawali sejak anak masih di dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. Kekurangan protein menjadi penyebab paling umum terjadinya tengkes.
Berdasarkan penelitian Beal dkk, di Indonesia faktor-faktor yang memengaruhi tengkes secara langsung adalah: tinggi badan dan pendidikan ibu, kelahiran prematur, panjang badan bayi baru lahir, pemberian ASI eksklusif, dan status sosioekonomi rumah tangga.[4]
Kondisi lingkungan yang memiliki sanitasi yang buruk dan kekurangan air bersih juga turut meningkatkan risiko tengkes.[4] Infeksi akibat buruknya kebersihan lingkungan juga dapat menjadi penyebab tengkes.[5] Faktor-faktor yang tidak berkaitan dengan kesehatan juga dapat menjadi penyebab tengkes. Masalah ekonomi, politik, sosial, dan budaya merupakan faktor penyebab tengkes yang tidak berkaitan langsung dengan kesehatan tubuh. Kurangnya pemberdayaan perempuan dan penurunan kualitas lingkungan juga menjadi penyebab tengkes.[6]
Dampak
Tengkes umumnya terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dan terlihat ketika anak berusia 2 tahun. Dampak tengkes yang terlihat jelas adalah pertumbuhan yang terhambat dibanding anak seusianya.
Tengkes juga memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang, di antaranya:
- Tengkes mengganggu perkembangan otak dan metabolisme tubuh.
- Tengkes juga menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik. Terlambatnya perkembangan otak menyebabkan anak memiliki kecerdasan dibawah rata-rata anak seusianya.
- Menurunkan kemampuan sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit. Anak yang stunting lebih berisiko terkena infeksi dan penyakit tidak menular seperti diabetes, strok, dan kanker.[7]
Pencegahan
Masyarakat dan pemerintah berperan penting dalam mencegah terjadinya tengkes. Tengkes terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan anak atau 2 tahun setelah kelahiran. Pada masa ini, anak harus diberikan nutrisi yang mencukupi. Calon ibu harus diberi pengetahuan untuk persiapan kehamilan yang sehat. Tujuannya agar ketika hamil kondisi ibu sehat sehingga janin pun sehat. Ibu hamil dan ibu menyusui harus menerapkan pola hidup sehat. Makanan yang diberikan kepada anak harus memenuhi standar gizi yang diperlukan. Anak harus diberi nutrisi dari sayur-sayuran, buah-buahan, protein dan karbohidrat. Porsi sayur, buah, dan protein harus lebih banyak dibandingkan dengan karbohidrat.[6]
Pola pemberian makanan pada bayi dan balita juga memengaruhi tengkes. Para remaja, terutama remaja perempuan, harus diberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan gizi. Ini dikarenakan remaja merupakan bakal keluarga yang berperan penting dalam mengurus anak. Para calon ibu hamil juga perlu diberikan sosialisasi mengenai kebutuhan gizi yang dibutuhkan bayinya selama kehamilan. Pemberian pengetahuan mengenai persalinan di fasilitas kesehatan yang aman juga diperlukan. Setelah melahirkan, para ibu harus diberi sosialisasi mengenai cara memulai inisiasi menyusu dini hingga cara memberikan Air Susu Ibu yang baik.[6]
Lingkungan hidup di sekitar anak juga perlu diperhatikan. Anak perlu dihindarkan dari risiko penyakit infeksi akibat lingkungan yang kotor. Kebiasaan hidup bersih juga perlu dilakukan. Anak dan ibu harus terbiasa mencuci tangan menggunakan sabun dan air yang mengalir. Perilaku buang air besar sembarangan harus dihilangkan. Pencegahan infeksi juga dilakukan dengan membawa anak ke tempat imunisasi. Tempat yang didatangi adalah fasilitas yang disediakan oleh pemerintah. Imunisasi ini bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak dan mencegah terjadinya infeksi.[6]
Pemantauan keadaan fisik anak juga merupakan tindakan pencegahan tengkes. Orang tua harus mengecek tubuh anak ketika mendatangi fasilitas kesehatan yang disediakan oleh pemerintah. Pada saat anak berusia 6-9 bulan, lakukan pengecekan lingkar lengan atas. Pengecekan ini dapat menentukan kondisi gizi anak. Perkembangan anak juga perlu diperiksa. Tanda-tanda perkembangan anak yang baik adalah:
- balita harus sudah dapat membalikkan badan pada usia 3 bulan,
- balita sudah dapat tengkurap pada usia 4 bulan,
- balita sudah dapat duduk pada usia 8 bulan,
- balita sudah dapat berdiri pada usia 9 bulan,
- balita sudah dapat berjalan pada usia 1 tahun,
- balita sudah dapat mengucapkan beberapa kata di usia 2 tahun.
Balita harus diperiksakan ke dokter apabila terjadi keterlambatan pada tahap-tahap perkembangan anak tersebut.[6]
Menurut Rafnel Azhari ( Dosen Universitas Andalas) dalam artikelnya di Harian Kompas menyatakan bahwa strategi komunikasi perubahan perilaku dalam percepatan penanganan stunting semestinya menggunakan prinsip komunikasi pembangunan. Pertama, dimulai dari komunikasi kebijakan yang difokuskan kepada membuat aturan dan strategi nasional yang dapat dipahami oleh segenap pemangku kepentingan yang terlibat dalam upaya penanganan stunting.
Perbedaan Gizi Buruk dan Tengkes
Gizi buruk dan tengkes memiliki perbedaan dalam proses terjadinya serta dampaknya terhadap pertumbuhan anak. Gizi buruk dapat berlangsung dalam waktu relatif singkat dan dalam kondisi tertentu dapat dipulihkan melalui pemenuhan kebutuhan gizi yang memadai. Kondisi ini umumnya terjadi ketika anak yang sebelumnya mengalami pertumbuhan normal kemudian mengalami kekurangan asupan makanan, misalnya akibat terbatasnya ketersediaan pangan. Kekurangan asupan tersebut dapat menyebabkan berat badan anak menurun.[8]
Sementara itu, tengkes merupakan kondisi yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis atau berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini bahkan dapat mulai terjadi sejak anak masih berada di dalam kandungan. Kekurangan gizi yang dialami ibu selama kehamilan dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan pada janin.[8][9] Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 20 persen kasus tengkes pada anak berkaitan dengan kondisi ibu yang mengalami kekurangan gizi.[8]
Risiko tengkes semakin meningkat apabila kekurangan gizi berlanjut setelah kelahiran, terutama selama periode 1.000 hari pertama kehidupan hingga anak berusia dua tahun. Selain faktor gizi, infeksi yang terjadi secara berulang sejak usia dini juga dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan risiko terjadinya tengkes. Berbeda dengan gizi buruk yang dapat mengalami pemulihan setelah intervensi gizi, dampak tengkes terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berlangsung dalam jangka panjang.[8]
Studi
Berlawanan dengan pandangan yang menyatakan bahwa tengkes diakibatkan karena kekurangan gizi, sebuah studi yang dilakukan di Bali dan Timor Barat dan diterbitkan di American Journal of Human Biology pada tahun 2021 menyimpulkan bahwa:[10]
Tengkes sering diamati tidak hanya pada orang miskin, tetapi juga pada strata sosial yang makmur dan bergizi baik selama 10.000 tahun terakhir. Hanya dalam sejarah baru-baru ini, dan hanya dalam beberapa masyarakat modern yang demokratis, tinggi badan telah meningkat melampaui rata-rata ketinggian historis yang bertahan lama. Dilihat dari perspektif evolusi, dan mempertimbangkan plastisitas adaptif dan efek masyarakat pada pertumbuhan, pertumbuhan kompetitif, dan penyesuaian pertumbuhan strategis, tengkes tampaknya adalah kondisi alami tinggi manusia.
Sebagai gambaran pentingnya perhatian terhadap stunting ini, hasil Studi Status Gizi Indonesia Tahun 2021 dapat diketahui sebanyak 1 dari 4 anak Indonesia mengalami stunting. Angka ini cukup serius dengan kesimpulan kurang lebih terdapat 5 juta anak Indonesia yang mengalami stunting pada tahun 2021.[11]
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI mencatat, angka stunting nasional pada 2023 sebesar 21,5 persen, sedang tahun 2022 sebesar 21,6 persen, cuma turun 0,1 persen.[12]
Referensi
- ↑ "Stunting: Kenali Stunting dan Cara Pencegahannya". RS Awal Bros. 2019-04-05. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-04. Diakses tanggal 2020-02-29.
- ↑ de Onis, Mercedes; Branca, Francesco (2016-05). "Childhood stunting: a global perspective". Maternal & Child Nutrition (dalam bahasa Inggris). 12 (S1): 12–26. doi:10.1111/mcn.12231. ISSN 1740-8695. PMC 5084763. PMID 27187907.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date=Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: Format PMC (link) - ↑ Putri, Erisa Renata Intania; Lindayanti, Tulus Ervina; Afdilah, Irmawati Nur (2024-01-30). "EFEKTIVITAS PENYULUHAN SEBAGAI STRATEGI PENCEGAHAN STUNTING DI KELURAHAN NYAMPLUNGAN SURABAYA". Beujroh : Jurnal Pemberdayaan dan Pengabdian pada Masyarakat (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 128–141. doi:10.61579/beujroh.v2i1.68. ISSN 3025-9320.
- 1 2 Beal, Ty; Tumilowicz, Alison; Sutrisna, Aang; Izwardy, Doddy; Neufeld, Lynnette M. (2018-10). "A review of child stunting determinants in Indonesia". Maternal & Child Nutrition (dalam bahasa Inggris). 14 (4). doi:10.1111/mcn.12617. ISSN 1740-8695. PMC 6175423. PMID 29770565.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date=Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: Format PMC (link) - ↑ "Memahami Stunting pada Anak". Alodokter. 2019-04-10. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-08. Diakses tanggal 2020-02-29.
- 1 2 3 4 5 "Kenali Penyebab Stunting Anak – RSUP Dr. Sardjito" (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-05-27. Diakses tanggal 2020-02-29.
- ↑ "Pahami Penyebab Stunting dan Dampaknya pada Kehidupan Anak". Alodokter. 2016-11-10. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-01. Diakses tanggal 2020-02-29.
- 1 2 3 4 Arif, Ahmad (2021). Masyarakat adat & kedaulatan pangan. Seri pangan Nusantara (Edisi Cetakan pertama). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-481-480-9.
- ↑ "Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan". keslan.kemkes.go.id. Diakses tanggal 2026-09-23.
- ↑ Scheffler, Christiane; Hermanussen, Michael (2022-05). "Stunting is the natural condition of human height". American Journal of Human Biology (dalam bahasa Inggris). 34 (5). doi:10.1002/ajhb.23693. ISSN 1042-0533. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-10-13. Diakses tanggal 2022-10-10.
{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam:|date= - ↑ "Tanya Jawab Materi Stunting Kemenkes". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-02-11. Diakses tanggal 2023-02-11.
- ↑ "Prevalensi Stunting di Bawah Target Presiden, Menko PMK Akan Tingkatkan". dari versi asli tanggal 2024-07-01. Diakses tanggal 2024-07-01.
Referensi
Pranala luar
- Stunting Pada Anak dan Pencegahannya Diarsipkan 2023-04-01 di Wayback Machine. . Diakses tanggal 2023-01-23.