Sjamsul Kahar | |
|---|---|
| Lahir | (1945-10-09)9 Oktober 1945 |
| Meninggal | 24 September 2026(2026-09-24) (umur 80) |
| Pekerjaan | Jurnalis |
| Dikenal karena | Pendiri harian Serambi Indonesia |
| Anak | 4, termasuk Nezar Patria |
Sjamsul Kahar (9 Oktober 1945 – 24 September 2026) adalah jurnalis dan tokoh pers asal Aceh. Ia salah satu perintis dan pendiri harian Serambi Indonesia bersama M. Nourhalidyn serta pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh selama tiga periode pada 1985–1999.[1][2]
Ia adalah pemimpin redaksi pertama surat kabar Serambi Indonesia, yang terbit perdana pada 9 Februari 1989.[1][3]
Kehidupan awal
Sjamsul Kahar lahir di Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, pada 9 Oktober 1945.[1][4]
Ia memulai karier jurnalistik sebagai wartawan Atjeh Post. Pada 1977, Sjamsul menjadi wartawan harian Kompas dan menggunakan inisial SJK.[1] Selain jurnalistik, Sjamsul memiliki minat pada seni teater dan musik. Ia juga menulis sejumlah karya drama.[1]
Karier
Serambi Indonesia
Pada dekade 1980-an, Sjamsul bersama M. Nourhalidyn mengembangkan tabloid Mimbar Swadaya menjadi surat kabar harian. Keduanya menemui Pemimpin Umum Kompas Jakob Oetama untuk memperoleh dukungan pendirian surat kabar di Aceh.[1]
Gubernur Aceh Ibrahim Hasan kemudian memberikan nama Serambi Indonesia untuk surat kabar tersebut. Edisi perdana Serambi Indonesia terbit pada 9 Februari 1989. Sjamsul menjadi Pemimpin Redaksi pertama, sedangkan M. Nourhalidyn menjadi Pemimpin Umum pertama.[1][3]
Pers dan organisasi wartawan
Sjamsul menjabat sebagai Ketua PWI Aceh dalam tiga periode, yaitu 1985–1991, 1991–1995, dan 1995–1999.[2]
Pada masa konflik Aceh, ia menghadapi ancaman terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia. Pada 10 Agustus 1999, rumahnya di Banda Aceh diserang dengan bom molotov.[4] Serangan tersebut membakar mobilnya dan merusak bagian luar rumah. Sjamsul menerima ancaman kematian secara berkala sejak Mei 1999.[5]
Sjamsul juga terlibat dalam pendidikan jurnalistik. Ia memberikan pelatihan kepada mahasiswa dan anggota pers mahasiswa di sejumlah kampus di Aceh.[1] Pada 2002, dalam kegiatan pendidikan dan pelatihan jurnalistik untuk calon wartawan Kompas, Sjamsul memberikan materi mengenai pengalaman jurnalistik dan peran pers dalam masyarakat.[1]
Kehidupan pribadi
Sjamsul Kahar menikah dengan Cut Khasnawiyah. Mereka dikaruniai empat anak, yaitu Rita Krisna, Nezar Patria, Sandy Septian, dan Maulana Akbar. Nezar Patria kemudian menjabat sebagai Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia.[1]
Akhir hayat
Sjamsul Kahar meninggal dunia pada 24 September 2026 pukul 02.20 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh, pada usia 80 tahun. Ia telah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut sejak 13 September 2026.[1][4] Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Taman Abadi, Gampong Mulia, Kuta Alam, Banda Aceh.[1][4]
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Damardono, Haryo; Hamid, Hamzirwan (2026-09-24). "(Obituari) Tokoh Pers Aceh, Sjamsul Kahar, Berpulang". Kompas.id. Diakses tanggal 2026-09-24.
- 1 2 Ifdhal, M. (2023-10-31). "PWI Aceh tampilkan sejarah perjalanan organisasi di PKA-8". ANTARA. Diakses tanggal 2026-09-24.
- 1 2 "Serambi Indonesia". Ensiklopedia Sastra Indonesia, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 2026-09-24.
- 1 2 3 4 Fajri, Rahmat (2026-09-24). "Tokoh pers Sjamsul Kahar, ayah Wamen Komdigi meninggal dunia". ANTARA. Diakses tanggal 2026-09-24.
- ↑ "Indonesia: Provincial Editor Attacked". Committee to Protect Journalists. 1999-08-12. Diakses tanggal 2026-09-24.