Rabu, 28 Oktober 2026
14:06 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Singularitas awal

Singularitas awal

waktu periode di mana alam semesta seukuran titik dengan kepadatan tak terbatas

Bagikan:
330px-WMAP_2012.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta langit ini menunjukkan cahaya dari Latar belakang gelombang mikro kosmik(CMB), atau cahaya yang tersisa dari perluasan awal alam semesta awal. Warna menunjukkan variasi suhu dalam CMB (kredit gambar: NASA).

Singularitas awal adalah singularitas dengan kepadatan tak terbatas yang diduga berisi semua massa dan ruang-waktu Alam semesta sebelum fluktuasi kuantum menyebabkannya berkembang pesat dalam Ledakan Besar dan inflasi berikutnya, menciptakan alam semesta saat ini.[1] Alam semesta terbentuk 13,8 miliar tahun yang lalu dan muncul dari singularitas, dan bahwa sebelum peristiwa ini, ruang dan waktu tidak ada.[2]

Evolusi alam semesta

250px-UniverseEvolution_WMAP_Id.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Diagram yang menunjukkan awal mula alam semesta dari singularitas hingga mengalami perluasan.

Perluasan alam semesta dalam banyak hal mirip dengan runtuhnya sebuah bintang, kecuali pengertian waktunya terbalik.[3] Ada kemungkinan bahwa sebelum Ledakan Besar, alam semesta adalah bentangan tak terhingga dari material padat yang sangat tinggi, kira-kira 13,7 miliar tahun yang lalu, ketika alam semesta ada sebagai singularitas. Bagi Stephen Hawking, momen inilah yang terpenting: Sebelum Ledakan Besar, peristiwa tidak dapat diukur, dan karenanya tidak ditentukan. Hawking menyebut ini proposal tanpa batas: Waktu dan ruang, terbatas, tetapi mereka tidak memiliki batas atau titik awal maupun akhir, sama seperti planet Bumi yang berhingga tetapi tidak memiliki tepi.[4]

Berdasarkan karya Einstein dan kosmolog Belgia Georges Lemaître menerbitkan sebuah makalah pada tahun 1927 yang mengusulkan alam semesta dimulai sebagai singularitas dan bahwa Ledakan Besar menyebabkan perluasannya. Mengikuti alur logika ini, judul artikel ini pada dasarnya cacat, y, waktu hanya muncul ketika singularitas primordial berkembang menjadi ukuran dan bentuknya saat ini.[5] Selain itu, juga terdapat model Pantulan Besar. Sederhananya, ini adalah hipotesis yang dibuat untuk menjelaskan bagaimana alam semesta terbentuk.

Berbeda dengan model Ledakan Besar, yang menyatakan bahwa alam semesta lahir dari ledakan raksasa dari titik padat, Pantulan Besar dan Remukan Besar menyatakan bahwa alam semesta terus berkembang dan menyusut. Ini berarti alam semesta bekerja seperti balon, di mana ia mengembang dari satu titik, tumbuh dan berkembang keluar dari singularitas hingga mencapai jarak maksimum, dan kemudian berkontraksi kembali menjadi singularitas superpanas dan superpadat, memulai seluruh proses dari awal lagi.[6][7][8]

Referensi

  1. ↑ Szymanski, Andrej (13 Oktober, 2013). "What do we know about Initial Singularity? - ResearchGate". www.researchgate.net. Diakses tanggal 24-11-2020.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date= and |date=
  2. ↑ "What If the Big Bang Wasn't the Beginning? New Study Proposes Alternative | Space". www.space.com. Diakses tanggal 2020-11-24.
  3. ↑ Ellis, G. F. R.; Hawking, S. W., ed. (1973). The Large Scale Structure of Space-Time. Cambridge Monographs on Mathematical Physics. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 348–364. ISBN 978-0-521-09906-6.
  4. ↑ "What happened before the Big Bang? | Live Science". www.livescience.com. Diakses tanggal 2020-11-24.
  5. ↑ "What Existed Before the Big Bang?". HowStuffWorks (dalam bahasa Inggris). 2019-01-07. Diakses tanggal 2020-11-24.
  6. ↑ Hrala, Josh. "Physicists Just Showed That The Big Bang Might Have Been a 'Big Bounce'". ScienceAlert (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2020-11-24.
  7. ↑ "Could the universe collapse into a singularity? New study explains how. | Live Science". www.livescience.com. Diakses tanggal 2020-11-24.
  8. ↑ "How the Big Crunch Theory Works". HowStuffWorks (dalam bahasa Inggris). 2009-03-02. Diakses tanggal 2020-11-24.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan