Senin, 02 November 2026
03:42 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Shahrukh Bek

Shahrukh Bek

Bagikan:
Shahrukh Bek
250px-Ulugh_Beg%2C_Timurid_painting_1425-50.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ilustrasi Shahrukh Bek
Lahirabad ke-18
Lembah Fergana
Meninggaltidak diketahui
PekerjaanPemimpin suku, wali kota Kokand awal
Dikenal karenaPendiri dinasti Ming di Kokand

Shahrukh Bek (juga dieja Shah Rukh Beg) adalah seorang pemimpin suku Uzbek dari klan Ming yang dianggap sebagai pendiri awal struktur politik yang kelak berkembang menjadi Khanat Kokand. Ia memerintah wilayah Kokand pada awal abad ke-18, sebelum transformasi wilayah tersebut menjadi sebuah khanat penuh di bawah kepemimpinan para penerusnya.[1]

Sejarah

Shahrukh Bek tampil sebagai figur penting di kawasan lembah Fergana pada masa ketika kekuasaan regional mengalami fragmentasi pasca kemunduran Kekhanan Bukhara. Kepemimpinan Shahrukh berawal dari dominasi klan Ming yang berhasil mengkonsolidasikan sejumlah permukiman di sekitar Kokand.[2]

Menurut Levi, Shahrukh Bek “mendirikan basis kekuasaan yang memungkinkan para penerusnya membangun institusi pemerintahan yang lebih terstruktur di Kokand.”[2]

Ia tidak pernah menyandang gelar khan. Kendati demikian, beberapa sumber mencatat bahwa struktur administrasi awal yang dibangunnya menjadi fondasi bagi naiknya anak-anak dan cucunya sebagai penguasa khanat, terutama di bawah kepemimpinan Irdana Bek dan Shahrukh II.[3]

Pemerintahan

Masa pemerintahannya ditandai oleh:

  • konsolidasi wilayah Kokand sebagai pusat perdagangan lokal,
  • pembangunan jaringan irigasi kecil yang meningkatkan produksi pertanian,
  • integrasi kelompok suku di Lembah Fergana di bawah otoritas klan Ming.

Shahrukh Bek juga mendirikan permukiman yang kemudian berkembang menjadi kota Kokand modern. Menurut catatan sejarawan Bregel, “Shahrukh Bek membangun benteng awal yang menjadi inti urban Kokand.”[1]

Warisan

Meskipun informasi biografisnya terbatas, Shahrukh Bek dianggap tokoh penting dalam sejarah Asia Tengah karena:

  • menjadi akar genealogis dinasti Ming di Kokand,
  • meletakkan struktur politik yang memungkinkan berdirinya Khanat Kokand,
  • memulai fase baru dalam perkembangan lembah Fergana pada abad ke-18.

Dinasti Ming yang ia dirikan memerintah Kokand hingga abad ke-19 sebelum khanat itu dianeksasi oleh Kekaisaran Rusia.

Referensi

  1. 1 2 Basil B. Bregel, Historical Atlas of Central Asia, Brill, 2003, hlm. 45.
  2. 1 2 Scott C. Levi, The Rise and Fall of Khoqand, 1709–1876, University of Pittsburgh Press, 2017, hlm. 22–23.
  3. ↑ A. K. Mukhamedjanov, Central Asia: 130 Years of Russian Rule, Cambridge University Press, 2006, hlm. 88.

Pranala luar

Kategori

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan