Minggu, 18 Oktober 2026
17:34 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Serasah

Serasah

Bagikan:
250px-Gmelina_leaves_forest_floor.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Serasah di dasar hutan

Serasah atau sarap[butuh rujukan] adalah istilah yang diberikan untuk sampah-sampah organik yang berupa tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya di atas lantai hutan atau kebun yang sudah mengering dan berubah dari warna aslinya. Serasah kebanyakan memiliki senyawa berbasis karbon. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah menjadi humus (bunga tanah) dan akhirnya menjadi tanah. Pengomposan serasah memiliki peranan penting dalam mengembalikan karbon dalam siklus karbon.

Produksi serasah

pohon adalah penghasil serasah yang cukup besar dan berperan penting dalam menjaga dan mengembalikan kesuburan tanah. berbeda dengan sistem penanaman tunggal, pohon dalam sistem agroforestri dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah dengan menambahkan jumlah input bahan organik di atas maupun di bawah permukaan tanah.[1][2] Serasah dari pohon dalam sistem agroforestri berguna sebagai faktor penting yang berkontribusi terhadap kualitas tanah. Unsur hara dari serasah berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah dan produktivitas primer ekosistem hutan.[3] Akumulasi serasah akan menyediakan habitat dan sumber makanan bagi mikro dan makro invertebrata yang merupakan dasar penting dalam rantai makanan.[4]

Ekosistem kecil

Lapisan serasah juga merupakan dunia kecil di atas tanah dan menyediakan tempat hidup bagi berbagai makhluk, terutama para dekomposer. Berbagai jenis kumbang tanah, lipan, kaki seribu, cacing tanah, kapang, jamur, dan bakteri bekerja keras menguraikan bahan-bahan organik yang menumpuk sehingga menjadi unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan kembali oleh makhluk hidup lainnya.

Di samping itu, berbagai jenis hewan juga tinggal atau memanfaatkan lingkungan ini. Di antaranya, ada beraneka jenis kodok (misalnya bangkong serasah dan bangkong bertanduk), ular (seperti halnya ular serasah), dan aneka jenis kadal.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Jose, Shibu (2009). Agroforestry for ecosystem services and environmental benefits: an overview. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 1–10.
  2. ↑ Ramachandran Nair, P. K.; Mohan Kumar, B.; Nair, Vimala D. (2009-02). "Agroforestry as a strategy for carbon sequestration". Journal of Plant Nutrition and Soil Science. 172 (1): 10–23. doi:10.1002/jpln.200800030. ISSN 1436-8730.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  3. ↑ Gnankambary, Z.; Bayala, J.; Malmer, A.; Nyberg, G.; Hien, V. (2008-02-23). "Decomposition and nutrient release from mixed plant litters of contrasting quality in an agroforestry parkland in the south-Sudanese zone of West Africa". Nutrient Cycling in Agroecosystems. 82 (1): 1–13. doi:10.1007/s10705-008-9165-3. ISSN 1385-1314.
  4. ↑ Sangha, Kamaljit K.; Jalota, Rajesh K.; Midmore, David J. (2006-02-01). "Litter production, decomposition and nutrient release in cleared and uncleared pasture systems of central Queensland, Australia". Journal of Tropical Ecology. 22 (2): 177–189. doi:10.1017/s0266467405003020. ISSN 0266-4674.


Ikon rintisan

Artikel bertopik pertanian atau perkebunan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan