Kamis, 08 Oktober 2026
01:40 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Serasah

Serasah

Bagikan:
250px-Gmelina_leaves_forest_floor.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Serasah di dasar hutan

Serasah atau sarap[butuh rujukan] adalah istilah yang diberikan untuk sampah-sampah organik yang berupa tumpukan dedaunan kering, rerantingan, dan berbagai sisa vegetasi lainnya di atas lantai hutan atau kebun yang sudah mengering dan berubah dari warna aslinya. Serasah kebanyakan memiliki senyawa berbasis karbon. Serasah yang telah membusuk (mengalami dekomposisi) berubah menjadi humus (bunga tanah) dan akhirnya menjadi tanah. Pengomposan serasah memiliki peranan penting dalam mengembalikan karbon dalam siklus karbon.

Produksi serasah

pohon adalah penghasil serasah yang cukup besar dan berperan penting dalam menjaga dan mengembalikan kesuburan tanah. berbeda dengan sistem penanaman tunggal, pohon dalam sistem agroforestri dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah dengan menambahkan jumlah input bahan organik di atas maupun di bawah permukaan tanah.[1][2] Serasah dari pohon dalam sistem agroforestri berguna sebagai faktor penting yang berkontribusi terhadap kualitas tanah. Unsur hara dari serasah berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah dan produktivitas primer ekosistem hutan.[3] Akumulasi serasah akan menyediakan habitat dan sumber makanan bagi mikro dan makro invertebrata yang merupakan dasar penting dalam rantai makanan.[4]

Ekosistem kecil

Lapisan serasah juga merupakan dunia kecil di atas tanah dan menyediakan tempat hidup bagi berbagai makhluk, terutama para dekomposer. Berbagai jenis kumbang tanah, lipan, kaki seribu, cacing tanah, kapang, jamur, dan bakteri bekerja keras menguraikan bahan-bahan organik yang menumpuk sehingga menjadi unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan kembali oleh makhluk hidup lainnya.

Di samping itu, berbagai jenis hewan juga tinggal atau memanfaatkan lingkungan ini. Di antaranya, ada beraneka jenis kodok (misalnya bangkong serasah dan bangkong bertanduk), ular (seperti halnya ular serasah), dan aneka jenis kadal.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Jose, Shibu (2009). Agroforestry for ecosystem services and environmental benefits: an overview. Dordrecht: Springer Netherlands. hlm. 1–10.
  2. ↑ Ramachandran Nair, P. K.; Mohan Kumar, B.; Nair, Vimala D. (2009-02). "Agroforestry as a strategy for carbon sequestration". Journal of Plant Nutrition and Soil Science. 172 (1): 10–23. doi:10.1002/jpln.200800030. ISSN 1436-8730.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  3. ↑ Gnankambary, Z.; Bayala, J.; Malmer, A.; Nyberg, G.; Hien, V. (2008-02-23). "Decomposition and nutrient release from mixed plant litters of contrasting quality in an agroforestry parkland in the south-Sudanese zone of West Africa". Nutrient Cycling in Agroecosystems. 82 (1): 1–13. doi:10.1007/s10705-008-9165-3. ISSN 1385-1314.
  4. ↑ Sangha, Kamaljit K.; Jalota, Rajesh K.; Midmore, David J. (2006-02-01). "Litter production, decomposition and nutrient release in cleared and uncleared pasture systems of central Queensland, Australia". Journal of Tropical Ecology. 22 (2): 177–189. doi:10.1017/s0266467405003020. ISSN 0266-4674.


Ikon rintisan

Artikel bertopik pertanian atau perkebunan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan