Senin, 19 Oktober 2026
17:06 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Sentot Prawirodirdjo

Sentot Prawirodirdjo

Bagikan:
Sentot Prawirodirdjo
250px-Sentot%2C_opperbevelhebber_der_rebellen.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gambar oleh Justus Pieter de Veer, ca 1900
Lahir1808
Meninggal17 April 1855(1855-04-17) (umur 46–47)
KewarganegaraanJawa, Makassar

Sentot Prawirodirdjo (1808–17 April 1855) yang juga di kenal sebagai Sentot Ali Pasha, atau Sentot Ali Basha. Sentot Ali Basya Abdullah Mustafa Prawirodirjo adalah seorang panglima perang pada masa Perang Diponegoro. Ia adalah putra dari Ronggo Prawirodirjo, ipar Sultan Hamengku Buwono IV, beliau juga merupakan cicit dari Raden Ronggo Prawirodirjo I (Bupati Madiun ke 14) yang jalur perempuan nya tersambung ke Karaeng Galesong. Ayahnya dianggap pahlawan karena melawan Belanda dan terbunuh oleh penjajah Belanda yang saat itu dipimpin oleh Daendels. Dengan kematian ayahnya, Sentot Prawirodirdjo merasa dendam kepada Belanda sehingga akhirnya bergabung dengan Pangeran Diponegoro.

Gelar Ali Pasha yang berarti Panglima Tinggi diberikan kepada Sentot Prawirodirjo oleh Pangeran Diponegoro dengan terinspirasi militer kerajaan Turki.

Asal-usul

Ali Basah Sentot Prawirodirjo (sekitar 1808-1855) adalah putra Raden Ronggo Prawirodirjo III, Bupati Wedana Madiun (menjabat 1796-1810), dengan seorang garwa paminggir (selir), Nyi Mas Ajeng Genosari. Sebagai adik lelaki istri sah kedua Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Maduretno (sekitar 1798-1827), Sentot ikut dengan keluarga Pangeran di Tegalrejo setelah pernikahan kakak perempuannya dengan Pangeran Diponegoro pada 28 September 1814.

Sebagai bocah 6 tahun, Sentot lebih suka main di istal luas Pangeran dan lebih senang menjadi pembalap kuda daripada menjadi seorang calon santri di pesantren seperti yang didambakan oleh Pangeran Diponegoro, sehingga beliau sangat dikenal mahir dan gesit selama peperangan karena kemampuannya tersebut dan menjadi basah (komandan tentara) Pangeran Diponegoro yang pemberani. Karena keengganannya untuk menjadi santri Sentot tidak dapat membaca atau menulis dan sejak kecil sangat tidak menyukai sikap Diponegoro yang mengginginkan supaya basah ini dididik menjadi santri.

Sentot menikahi keponakan perempuan Pangeran Diponegoro, putri saudaranya sendiri, Pangeran Prawirodininggrat atau Suryobrongto (sekitar 1789-1854).

Gelar Sentot Ali Basah

Nama "Sentot" adalah nama samaran perang yang berarti "terbang" atau "melesat" ini merujuk pada karekter perilaku orangnya. Sentot berarti meloloskan diri, melarikan diri, menarik diri, terbang, dan pada umumnya orang menafsirkannya sebagai karakter yang tidak mudah dikenal, seseorang yang temperamennya rumit dan kompleks. Digambarkan oleh kolonel Belanda selama perang, Mayor de Stuers sebagai "muda", "berapi-rapi", dan dalam segala hal seorang Jawa yang cemerlang yang tahu merambah jalan sendiri berkat kekuatan dan akalnya, dia mendapatkan nama dan pamornya dengan komandan medan Belanda karena keberanian dan mutu kepemimpinannya dalam pertempuran. Mayor Errembault memujinya sebagai;

"pemimpin pemberontak yang memiliki keberanian dan cara berjuang yang terbaik. Dia telah membayar cukup sering dengan badannya sendiri, karena telah kerap kali menerima luka sejak awal perang".

Ali Basah adalah pangkat panglima komandan yang terinspirasi dari unit militer Dinasti Usmaniyah di Turki diberikan oleh Pangeran Diponegoro atas keberaniannya tersebut pada saat beliau baru saja berumur 17 tahun pada awal 1826. Menurut Sejarawan Peter Carey, Gelar "Ali Basah" kemungkinan diambil dari istilah Turki Utsmani "Ali Pasha" (Pasha yang Mulia) atau dari nama Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir (berkuasa 1805-1849), gubernur atau wakil (pasha) terkemuka kesultanan Turki Utsmani awal abad ke-19.

Akhir hayat

Dalam perjuangannya melawan penindasan kerajaan Belanda di tanah jawa Sentot Prawirodirdjo akhirnya dibujuk Belanda untuk meletakkan senjata pada tanggal 1829 dan dikirim ke Sumatera Barat untuk melawan pemberontakan para ulama dalam Perang Padri. Namun itu semua tidak lain merupakan strategi yang monumental dari Sentot dalam upaya mendapatkan persenjataan dari kerajaan Belanda, untuk digunakan dalam membantu perjuangan Tuanku Imam Bonjol melawan penjajahan Belanda dan Kaum Adat yang dipimpin oleh Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Alam Bagagarsyah dalam Perang Padri.

Sentot Prawirodirjo meninggal dalam masa pembuangannya oleh Belanda di Bengkulu. Pada makamnya terdapat tanggal kematian yaitu 17 April 1885. Lokasi makamnya terletak di Desa Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Makam Sentot Prawirodirjo berada pada ketinggian 38 meter di atas permukaan laut.[1]

Referensi

  1. ↑ Zulkarnain dan Gusmansyah, W. (Desember 2019). Mahdi, Imam (ed.). Kesadaran Hukum bagi Pelaku Usaha Ikan Kering di Kota Bengkulu (PDF). Kota Bengkulu: Penerbit CV. Zigie Utama. hlm. 131. ISBN 978-623-7558-14-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Bacaan lanjutan

  • Peter Carey, (Percakapan dengan Diponegoro), Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2022, ISBN 9786024819002
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan