Selasa, 27 Oktober 2026
08:11 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Ritus Malankara

Ritus Malankara

Bagikan:
330px-Syro-Malankara_Holy_Mass_1.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Liturgi Ritus Malankara di Gereja Katolik Siro-Malankara

Ritus Malankara adalah bentuk ritus liturgis Suriah Barat yang dipraktikkan oleh beberapa gereja komunitas mazhab-mazhab Kristen Santo Tomas di Kerala, India. Liturgi Suriah Barat dibawa ke India oleh Uskup Yerusalem Ortodoks Siria, Gregorios Abdal Jaleel, pada tahun 1665; dalam dekade-dekade berikutnya Ritus Malankara muncul sebagai liturgi Gereja Malankara, salah satu dari dua gereja yang bekembang dari perpecahan dalam komunitas Kristen Santo Tomas pada abad ke-17. Saat ini dipraktikkan oleh berbagai gereja yang berasal dari Gereja Malankara, yaitu Gereja Siria Ortodoks Malankara (Gereja Ortodoks India), Gereja Kristen Siria Jacobit, Gereja Katolik Siro-Malankara, Gereja Siria Independen Malabar, dan Gereja Siria Mar Thoma.

Sejarah

330px-Holy_mass_of_the_Syriac_Orthodox_Church.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Liturgi Ritus Malankara di Gereja Ortodoks Siria Jacobit Malankara

Ritus Suriah Barat dikembangkan dari Ritus Antiokhia kuno, muncul pada abad ke-5 dan ke-6 melalui pemakaian bahasa Suryani, daripada bahasa Yunani, sebagai bahasa liturgis di Patriark Antiokhia non-Kalsedonianisme .[1] Liturgi ini lebih lanjut direvisi dan dikembangkan selama berabad-abad ketika Gereja Ortodoks Siria dari Antiokhia muncul sebagai gereja yang sepenuhnya berbeda, mencapai bentuk "klasiknya" pada abad ke-12 di bawah Patriark Mikhael orang Suriah.[1]

Liturgi Suriah Barat pertama kali diperkenalkan ke India melalui misi Gregorios Abdal Jaleel, Uskup Yerusalem Ortodoks Siria, yang tiba pada tahun 1665.[2][3] Secara historis, gereja India adalah bagian dari Gereja Timur, yang berpusat di Persia, dan mempraktikkan varian Ritus Suriah Timur yang dikenal sebagai Ritus Malabar.[4][5] Namun, berkurangnya komunikasi antara Patriarkat tersebut dan India menyebabkan orang-orang Kristen Santo Tomas berupaya membangun hubungan dengan gereja-gereja lainnya. Pada awal tahun 1491 Diakon Agung Malabar mengirim utusan ke Patriark Ortodoks Siria sebagai bagian dari upaya untuk mendapatkan seorang uskup bagi provinsinya yang tanpa uskup.[6] Pada akhirnya tidak ada yang datang dari permohonan itu, dan Patriark Gereja Timur akhirnya mengirim seorang uskup baru.[6]

Pada tahun 1653, sekelompok umat Kristen Santo Tomas yang tidak puas dengan pemerintahan kolonial Portugis bergabung dengan Diakon Agung Tomas bersumpah untuk tidak tunduk pada kekuasaan Portugis. Penegasan ini, yang dikenal sebagai Sumpah Salib Koonan, menyebabkan terbentuknya Gereja Malankara yang independen dengan Tomas sebagai kepalanya. Untuk menegaskan konsekrasinya sebagai uskup, Tomas mengirim permohonan kepada beberapa gereja termasuk Gereja Ortodoks Siria yang mengusulkan persatuan. Patriark Ortodoks Siria, Ignatius Simon I menanggapi dengan mengirim Gregorios Abdal Jaleel ke India pada tahun 1665, dan hubungan antara Gereja Ortodoks Siria dan Gereja Malankara lahir.[3]

Catatan

  1. 1 2 Chupungco, p. 15.
  2. ↑ "Christians of Saint Thomas". Encyclopædia Britannica. Retrieved February 9, 2010.
  3. 1 2 Wainwright, p. 159.
  4. ↑ Baum, p. 53.
  5. ↑ Chupungco, p. 17; 22–23
  6. 1 2 Baum, p. 105.

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan