Jumat, 02 Oktober 2026
21:42 WIB
TERKINI
Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Berita Siswa SMK Amal Bakti Lampung Selatan Berjaya di Lomba Film Pendek Nasional Advertorial Keselamatan Pengguna Tol Bakter Prioritas Utama: PT BTB Rutin Inspeksi Rambu dan Marka Regional Informasi Berita Tidak Lengkap: Evakuasi Banjir Sungai Tuan Regional Penyaluran Bantuan Logistik Mendesak untuk Korban Banjir di Kalimantan Selatan Regional Antusiasme Warga Banjarmasin Tinggi, Sentra Vaksinasi Covid-19 Ramai Berita Tangki Motor Bocor Picu Kebakaran Hebat Bengkel di Cilincing, Kerugian Capai Rp 75 Juta Berita DPR Tugaskan Komisi III Uji Kelayakan Komjen Suyudi Ario Seto Sebagai Calon Kapolri Berita Komjen Suyudi Paparkan Visi 'Polisi Bersama Masyarakat' untuk Transformasi Polri

Revolusi Rwanda

Bagikan:

Revolusi Ruwanda, juga dikenal dengan nama angin kehancuran,[1] (Kinyarwanda:muyaga),[2] adalah periode kekerasan etnis di Ruwanda yang berlangsung dari tahun 1959 hingga 1961. Peristiwa ini merupakan puncak dari ketegangan antara kelompok Hutu dan Tutsi. Kekerasan dimulai pada November 1959, setelah peristiwa pemukulan politikus Hutu Dominique Mbonyumutwa oleh Tutsi. Karena mengira Mbonyumutwa tewas, sekelompok Hutu memulai serangan sistematis terhadap orang Tutsi. Revolusi ini menghancurkan struktur kekuasaan di Ruwanda dengan membubarkan monarki, yang dikepalai oleh seorang mwami (raja) Tutsi, dan digantikan oleh republik yang dipimpin oleh Hutu. Kepala suku dan wakil kepala suku Tutsi digantikan oleh Hutu. Banyak penduduk Tutsi yang tewas selama revolusi, sementara lainnya mengungsi ke negara tetangga. Pada tahun 1965, 130.000 (sepertiga dari semua Tutsi) mengungsi ke Zaire, Uganda, Tanzania, dan Burundi.[3] Pengungsi tersebut nantinya menjadi pemberontak Tutsi, salah satunya Front Patriotik Ruwanda.

Diperkirakan 20.000 hingga 100.000 orang Tutsi tewas terbunuh, dan ribuan lainnya, termasuk sang Mwami, mengungsi ke Uganda sebelum komando Belgia menghentikan kekerasan. Beberapa orang Belgia dituduh bersekongkol dengan Hutu.

Referensi

  1. ↑ Gourevitch 2000, hlm. 59.
  2. ↑ Prunier 1995, hlm. 41.
  3. ↑ Crowder, edited by Michall (1984). The Cambridge history of Africa : volume 8, from c. 1940 to c. 1975 (Edisi Repr.). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0521224098.{{cite book}}: |first= memiliki nama generik

Bibliografi


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan