Senin, 19 Oktober 2026
08:03 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten

Revolusi Rwanda

Bagikan:

Revolusi Ruwanda, juga dikenal dengan nama angin kehancuran,[1] (Kinyarwanda:muyaga),[2] adalah periode kekerasan etnis di Ruwanda yang berlangsung dari tahun 1959 hingga 1961. Peristiwa ini merupakan puncak dari ketegangan antara kelompok Hutu dan Tutsi. Kekerasan dimulai pada November 1959, setelah peristiwa pemukulan politikus Hutu Dominique Mbonyumutwa oleh Tutsi. Karena mengira Mbonyumutwa tewas, sekelompok Hutu memulai serangan sistematis terhadap orang Tutsi. Revolusi ini menghancurkan struktur kekuasaan di Ruwanda dengan membubarkan monarki, yang dikepalai oleh seorang mwami (raja) Tutsi, dan digantikan oleh republik yang dipimpin oleh Hutu. Kepala suku dan wakil kepala suku Tutsi digantikan oleh Hutu. Banyak penduduk Tutsi yang tewas selama revolusi, sementara lainnya mengungsi ke negara tetangga. Pada tahun 1965, 130.000 (sepertiga dari semua Tutsi) mengungsi ke Zaire, Uganda, Tanzania, dan Burundi.[3] Pengungsi tersebut nantinya menjadi pemberontak Tutsi, salah satunya Front Patriotik Ruwanda.

Diperkirakan 20.000 hingga 100.000 orang Tutsi tewas terbunuh, dan ribuan lainnya, termasuk sang Mwami, mengungsi ke Uganda sebelum komando Belgia menghentikan kekerasan. Beberapa orang Belgia dituduh bersekongkol dengan Hutu.

Referensi

  1. ↑ Gourevitch 2000, hlm. 59.
  2. ↑ Prunier 1995, hlm. 41.
  3. ↑ Crowder, edited by Michall (1984). The Cambridge history of Africa : volume 8, from c. 1940 to c. 1975 (Edisi Repr.). Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0521224098.{{cite book}}: |first= memiliki nama generik

Bibliografi


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan