Rabu, 28 Oktober 2026
06:41 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Renaisans Benggala

Renaisans Benggala

Gerakan reformasi sosial, budaya dan agama akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20 di Bengal

Bagikan:
250px-A_marble_bust_of_Dwarakanath_Vidyabhushan_at_Harinabhi_school.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Renaisans Benggala adalah gerakan reformasi sosial pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di wilayah Benggala pada masa kolonial Britania. Renaisans Benggala bermula pada Raja Ram Mohan Roy dan berakhir pada Rabindranath Tagore.

Renaisans Benggala adalah gerakan reformasi sosial pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di wilayah Benggala pada masa kolonial Britania. Renaisans Benggala bermula pada Raja Ram Mohan Roy (1775-1833) dan berakhir pada Rabindranath Tagore (1861-1941). Benggala pada abad ke-19 merupakan campuran dari unsur religius, reformasi sosial, sastra, jurnalisme, orator patriotik dan ilmuwan yang bergabung membentuk citra renaisans, dan menandai transisi dari abad pertengahan ke zaman modern.[1]

Catatan kaki

  1. ↑ Sumit Sarkar, "Calcutta and the Bengal Renaissance", in Calcutta, the Living City ed. Sukanta Chaudhuri, Vol I, p. 95.

Pranala luar

Tokoh


Ikon rintisan

Artikel bertopik umum ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Jika Anda melihat halaman yang menggunakan templat {{stub}} ini, mohon gantikan dengan templat rintisan yang lebih spesifik.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan