Jumat, 16 Oktober 2026
01:44 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Ratu Sinuhun

Isteri Raja Palembang

Bagikan:

Ratu Sinuhun adalah perempuan dalam sejarah Nusantara yang dikenal sebagai pemimpin di wilayah Palembang pada abad ke-17 serta sebagai penyusun Simbur Cahaya, yaitu sebuah kodifikasi hukum yang memadukan hukum adat dan ajaran Islam. Ia diperkirakan lahir pada akhir abad ke-16 di Palembang dan wafat pada tahun 1643 M. Dalam historiografi lokal, Ratu Sinuhun dipandang sebagai figur penting dalam proses pembentukan sistem hukum dan transformasi sosial di lingkungan kerajaan.[1] Ratu Sinuhun dimakamkan di Kompleks Makam Sabokingking, Kelurahan 3 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.[2]

Latar Belakang dan Asal-Usul

Ratu Sinuhun berasal dari lingkungan keluarga bangsawan dengan garis keturunan yang kuat dalam tradisi kerajaan Nusantara. Ia merupakan putri dari Maulana Fadlallah, yang dikenal sebagai Pangeran Manconegara Caribon, serta Nyai Gede Pembayun, keturunan penguasa lokal Palembang. Melalui jalur genealogis, ia memiliki keterkaitan dengan berbagai dinasti besar, termasuk tradisi politik Jawa dan jaringan kekuasaan Islam di Nusantara.[1]

Dalam sistem kerajaan tradisional, garis keturunan memiliki peran penting dalam menentukan legitimasi kekuasaan. Kedudukan Ratu Sinuhun sebagai bagian dari keluarga elite memberikan dasar kuat bagi keterlibatannya dalam struktur pemerintahan. Selain itu, hubungan antar-dinasti yang dibangun melalui pernikahan politik dan aliansi strategis turut memperkuat posisi politiknya di lingkungan kerajaan.[1]

Menurut kajian dalam buku Pejuang Perempuan Ratu Sinuhun, legitimasi kekuasaan dalam sistem monarki tidak hanya ditentukan oleh faktor keturunan, tetapi juga oleh pengakuan elite dan kemampuan mempertahankan stabilitas politik.[1]

Keluarga

Ratu Sinuhun dikenal sebagai istri penguasa Palembang, Pangeran Seda ing Kenayan (memerintah sekitar 1631–1643). Posisi ini menempatkannya dalam lingkaran kekuasaan inti, yang memungkinkan keterlibatan langsung dalam proses pengambilan kebijakan kerajaan.[1]

Selain perannya sebagai permaisuri, Ratu Sinuhun juga memiliki pengaruh dalam bidang pemerintahan, terutama dalam aspek hukum dan administrasi. Dalam sistem kerajaan yang hierarkis, peran perempuan sering kali terbatas pada fungsi simbolik. Namun, dalam kasus Ratu Sinuhun, ia menunjukkan keterlibatan aktif dalam pengelolaan pemerintahan.[1]

Ayahnya bernama Maulana Fadlallah, yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Manconegara Caribon. Di dalam catatan sejarah, Pangeran Manconegara merupakan cikal bakal lahirnya Dinasti Cirebon di Kesultanan Palembang. Sebagaimana diketahui Kesultanan Palembang Darussalam di dirikan oleh Sultan Abdurrahman (Ki Mas Hindi) bin Pangeran Muhammad Ali Seda ing Pasarean bin Pangeran Manconegara Caribon.[3]

Sementara ibunya bernama Nyai Gede Pembayun, yang merupakan putri dari Ki Gede ing Suro Mudo, Penguasa Palembang (1555–1589M).

Ratu Sinuhun memiliki garis keturunan kerajaan Majapahit, Demak dan Pajang.

Nasab

Berdasarkan penyelusuran genealogy, Nasab Ratu Sinuhun adalah sebagai berikut:

[Ratu Sinuhun] binti [Maulana Fadlallah Pangeran Manconegara Caribon] bin [Maulana Abdullah Pangeran Adipati Sumedang Negara] bin [Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo] bin [Sunan Giri atau Maulana Muhammad Ainul Yaqin] bin [Maulana Ishaq] bin [Syaikh Ibrahim Asmaraqondi Zain al Akbar] bin [Syaikh Jamaluddin Husain Akbar] bin Husain Jalaluddin al-Bukhori bin Ali bin Jafar bin Muhammad bin Mahmud bin Ahmad bin Abdullah bin Ali Al-Asyqori bin Jafar az-Zaki bin Ali Al-Hadi An-Naqi bin Muhammad At-Taqi Al-Jawad bin Ali Ar-Ridho bin Musa Al-Kazim bin [Imam Ja’far Ash-Shadiq] bin [Imam Muhammad al-Baqir] bin [Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin] bin [Imam Husain Asy-Syahid] bin [Fathimah Az-Zahra] binti [Muhammad Rasulullah]

Pelopor Syariat Islam

Sebelumnya, tidak jelas apa hukum yang berlaku di Kerajaan Palembang, kadang di terapkan sesuai Adat, atau pun Sumpah serampah. Maka Ratu Sinuhun memasukkan Hukum-hukum yang diambil dari Kitab Pedoman Al-Quran ke dalam Hukum Adat Kerajaan.

Kondisi Sosial dan Politik pada Masanya

Periode kehidupan Ratu Sinuhun berlangsung dalam situasi sosial-politik yang dinamis. Struktur pemerintahan kerajaan bersifat hierarkis dengan raja atau ratu sebagai pusat kekuasaan. Di bawahnya terdapat pejabat administratif, militer, dan pengelola wilayah yang menjalankan fungsi pemerintahan.[1]

Sistem ekonomi kerajaan bertumpu pada pertanian, perdagangan, dan pajak. Namun, terdapat ketimpangan sosial yang cukup tajam antara elite bangsawan dan rakyat. Praktik kerja paksa serta beban pajak yang tinggi menjadi ciri umum sistem feodal pada masa tersebut.[1]

Dalam bidang hukum, belum terdapat sistem yang sepenuhnya terstandarisasi. Hukum sering kali diterapkan berdasarkan adat lokal atau kebiasaan yang berbeda di tiap wilayah. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian hukum serta potensi konflik dalam masyarakat.[1]

Menurut buku Pejuang Perempuan Ratu Sinuhun, sebelum adanya reformasi, sistem pemerintahan cenderung eksklusif dan tidak memberikan ruang partisipasi yang luas bagi rakyat. [1]

Karya

Artikel utama: Simbur Cahaya

Referensi


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sundari, Sri (2025). Pejuang Perempuan Ratu Sinuhun. ISBN 978-634-262-101-1.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Sholeh, Kabib; Suriadi, Aan; Uyun, Reyvaldi (2021-08-03). "NILAI-NILAI SEJARAH SEBARAN SITUS PENINGGALAN MASA ISLAM DI PALEMBANG SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN SEJARAH". Danadyaksa Historica. 1 (1): 61–76. doi:10.32502/jdh.v1i1.3597. ISSN 2807-565X.
  3. ↑ "Ratu Sinuhun Palembang: Perempuan Ulama, Pelopor Hukum, Calon Pahlawan Nasional". kumparan. Diakses tanggal 2026-05-17.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan