Rabu, 30 September 2026
13:08 WIB
TERKINI
Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 30 September 2026: Potensi Hujan di Sejumlah Wilayah Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 30 September 2026: Naik Rp15 Ribu, Cek Detailnya Hukum Kejakgung Diminta Usut Tuntas Korupsi PT PSMI, Lindungi Ribuan Petani Terdampak Lampung Timur Perjuangan Berat Padamkan Karhutla Way Kambas: Api Bawah Tanah Jadi Tantangan Utama Regional Misteri Kematian Dua Pemuda di Lembang, Saksi Kunci Mulai Membaik Lampung Tengah Tragedi KM Virgo Renggut Feris, Dua Anak Kehilangan Tulang Punggung Keluarga Nasional Saksi Ungkap Penolakan Uang 1 Juta Dolar AS untuk Pansus Haji oleh Dua Tokoh Megapolitan Demo Buruh di DPR Lumpuhkan Gatot Subroto: Simak Jalur Alternatifnya Megapolitan Komunikasi Terputus Jadi Akar Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Regional KPU Batam Musnahkan Ribuan Surat Suara Rusak, Jaga Integritas Pemilu

Ranau

kawasan sentral di Indonesia

Bagikan:

Ranau adalah nama suatu kawasan yang terdapat di provinsi Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan[1] dan berada di sekitar Danau Ranau,[2] seperti suku Batak Toba yang mendiami kawasan Danau Toba.

Ranau juga merupakan nama etnis yang mendiami kawasan tersebut. Selain memiliki sejarah panjang, masyarakat Ranau saat ini aktif melestarikan seni budaya adat setempat melalui berbagai perhelatan di sekitar danau.[3]

Asal Muasal Suku Ranau

Pada sekitar 1000 tahun sebelum masehi, suku Ranau, yang merupakan salah satu suku dalam kelompok Proto Malayan Tribes (suku-suku kelompok etnis Proto Melayu), bermigrasi dari tempat asalnya di pegunungan perbatasan antara Myanmar dan Thailand, akibat desakan dari suku-suku Syan di sepanjang sungai Irawady dan Salween.[4]

Dari Teluk Martaban, nenek moyang Suku Ranau berlayar hingga mendarat di Sumatera Selatan, dan selama ± 2.500 tahun berada di kawasan sekitar Danau Ranau. Di tempat tersebut, suku Ranau relatif terlepas dari pengaruh kerajaan Sriwijaya, Dharmasraya, maupun kerajan-kerajan lain yang saat itu silih berganti berkuasa di Sumatera bagian selatan. [4]

Sejarah dan Hubungan dengan Danau Ranau

Kawasan Ranau memiliki bukti keberadaan permukiman masyarakat masa lalu. Penelitian arkeologi Balai Arkeologi Palembang menemukan persebaran situs megalitik di kawasan Danau Ranau, antara lain Jepara, Subik, Pagerdewa, Padangratu, dan Banding Agung. Tinggalan yang ditemukan meliputi berbagai bentuk peninggalan megalitik seperti dolmen, punden, menhir, lumpang batu, serta tinggalan lainnya[5].

Salah satu kawasan penting adalah Situs Jepara di Desa Jepara, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah. Situs tersebut merupakan bekas perkampungan yang oleh masyarakat dikenal sebagai Jepara Tua. Hasil penelitian arkeologi menunjukkan adanya tinggalan perkampungan megalitik di lokasi tersebut. Keberadaan situs-situs semacam ini menunjukkan bahwa kawasan sekitar Danau Ranau telah menjadi ruang kehidupan masyarakat sejak masa lampau[5].

Selain peninggalan megalitik, kawasan Ranau mempunyai tinggalan yang berkaitan dengan perkembangan Hindu-Buddha. Candi Batu Kebayan atau Candi Jepara terletak di Desa Jepara, di sekitar kawasan Danau Ranau. Situs tersebut memiliki fondasi berbentuk persegi panjang yang menggunakan batu kapur dan memperlihatkan unsur arsitektur seperti pelipit sisi genta dan padma. Balai Pelestarian Nilai Budaya mencatatnya sebagai salah satu tinggalan peradaban Hindu-Buddha di kawasan OKU Selatan[5].

Daftar Pustaka

  1. ↑ "Kecamatan Banding Agung Dalam Angka 2024". Badan Pusat Statistik Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. 2024. Diakses tanggal 2024-12-22.
  2. ↑ "Destinasi Wisata Danau Ranau". Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten OKU Selatan. Diakses tanggal 2024-12-22.
  3. ↑ "Festival Danau Ranau 2023: Pagelaran Seni Budaya Adat Setempat". Tribun Sumsel. 2023-06-21. Diakses tanggal 2024-12-22.
  4. 1 2 Parlindungan, Mangaradja Onggang (2007). Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao terror agama Islam mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833. Yogyakarta: LKiS. hlm. 22. ISBN 9789799785336.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 3 Indriastuti,; Siregar,; Purwanti; Fahrozi,; Novita,; Wiyana; Andhifani; Amilda; Irwanto, (2015). Peradaban Masa Lalu Sumatra Selatan. Palembang: Balai Arkeologi Palembang.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
120px-Flag_map_of_Indonesia.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik geografi atau tempat Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan