Senin, 19 Oktober 2026
16:02 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Perenjak gunung

Perenjak gunung

spesies burung

Bagikan:
Perenjak gunung
250px-Prinia_superc_dysanc_190705-P901974_skrg.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perenjak gunung, Prinia superciliaris dysancrita
dari Sei Karang, Galang, Deli Serdang
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
P. superciliaris
Nama binomial
Prinia superciliaris
(Anderson, 1871)
Sinonim
Artikel takson sembarang

Perenjak gunung[3]: 358  (Prinia superciliaris) adalah spesies burung dari famili Cisticolidae. Burung yang umum menghuni wilayah perbukitan dan pegunungan ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Hill Prinia.

Ciri-ciri

250px-Naturalis_Biodiversity_Center_-_RMNH.AVES.137282_1_-_Prinia_atrogularis_dysancrita_%28Oberholser%2C_1912%29_-_Sylviidae_-_bird_skin_specimen.jpeg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Spesimen burung jantan koleksi RMNH. Fort de Kock (Bukittinggi)

Perenjak dengan tubuh berukuran agak besar, 16 cm, dengan ekor sangat panjang. Tubuh bagian atas cokelat; bagian bawah, dari dagu hingga perut, kuning-tua keputihan. Sisi tubuh kuning-tua terang. Pipi dan penutup telinga berwarna abu-abu, alis mata putih, sangat panjang.[3]: 358 [4]

Iris cokelat pucat; paruh atas berwarna gelap, paruh bawah pucat; kaki kemerahjambuan. Suara keras menusuk, "co-ii.., co-ii.."; mirip suara cinenen pisang (Orthotomus sutorius) tetapi lebih perlahan.[3]: 358 

Habitat dan kebiasaan

250px-Prinia_superc_dysanc_190704-P901904_pmla.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Burung betina; kebun kelapa sawit di Sipispis, Serdang Bedagai

Perenjak gunung biasa didapati di wilayah perbukitan dan pegunungan. Di Sumatra, burung ini umum pada ketinggian antara 600 hingga 2.500 m dpl.[3]: 358  Akan tetapi di Aceh (dan Sumatera Utara) burung ini juga diketahui menghuni wilayah dataran rendah.[5]: 42 

Burung yang umumnya pemalu dan bergerak diam-diam di semak-semak dan tumbuhan bawah, soliter atau bersama dengan pasangannya. Namun kadang-kadang juga berkicau dengan ribut. Menjelajahi semak belukar, tempat terbuka, dan juga lapisan bawah hutan atau kebun, untuk berburu serangga dan tempayaknya.[4]

Taksonomi, anak jenis dan persebaran

250px-Hill_Prinia_-_Thailand_S4E9201_%2817294763586%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Perenjak gunung dari Thailand

Tersebar luas mulai dari India hingga Indonesia, P. superciliaris sebelumnya digabungkan ke dalam P. atrogularis.[3]: 358,  [6]: 372  Jenis yang kedua ini memiliki dagu berwarna hitam, dan garis putih serupa kumis panjang di bawah pipi, serta alis putih yang tidak seberapa panjang atau tidak begitu jelas.[4]

P. superciliaris memiliki 5 anak jenis:[4]

  1. P. s. superciliaris (J. Anderson, 1871) – India timur laut (Assam timur laut dan mungkin juga Arunachal Pradesh timur laut), Burma timur laut, Tiongkok selatan dan tenggara (Sichuan selatan, Yunnan, Guangxi utara dan Guangdong utara, ke timur hingga Fujian tengah), Thailand timur laut, Laos utara dan Vietnam utara (Tonkin barat dan timur).
  2. P. s. erythropleura (Walden, 1875) – Burma timur dan Thailand barat laut.
  3. P. s. klossi (Hachisuka, 1926) – Laos bagian selatan (terutama Dataran Tinggi Bolovens) dan Vietnam tengah (Annam tengah dan selatan, Cochinchina utara).
  4. P. s. waterstradti (E.J.O. Hartert, 1902) – puncak G. Tahan di Semenanjung Malaya.
  5. P. s. dysancrita (Oberholser, 1912) – Sumatra.

Referensi

  1. ↑ BirdLife International (2016). Prinia superciliaris. The IUCN Red List of Threatened Species 2016: e.T103776986A104315388. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2016-3.RLTS.T103776986A104315388.en. Diakses pada 14 Juli 2019.
  2. ↑ Anderson, J. (1871). "On eight new species of birds from Western Yunan, China". Proceedings of the scientific meetings of the Zoological Society of London, Part I: 212-3. (Meeting of February 21, 1871)
  3. 1 2 3 4 5 MacKinnon, J., K. Phillipps, dan B. van Balen (2000). Burung-burung di Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor:Puslitbang Biologi LIPI dan BirdLife IP. ISBN 979-579-013-7 (sebagai P. atrogularis)
  4. 1 2 3 4 del Hoyo, J., N. Collar, & G.M. Kirwan (2019). "Hill Prinia (Prinia superciliaris)". In: J. del Hoyo, A. Elliott, J. Sargatal, D.A. Christie, & E. de Juana (eds.). Handbook of the Birds of the World Alive. Lynx Edicions, Barcelona. (dari laman https://www.hbw.com/node/1343882 diakses pada 14 Juli 2019)
  5. ↑ Holmes, D.A. (1996). "Sumatra bird report". Kukila vol. 8:9-56
  6. ↑ King, B., M. Woodcock, and E.C. Dickinson (1975). A Field Guide to The Birds of South-East Asia. London:Collins. ISBN 0-00-219206-3

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Prinia superciliaris.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan