Senin, 19 Oktober 2026
20:05 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Pirngadie

Pirngadie

pelukis naturalis terbaik dari Indonesia

Bagikan:
lossy-page1-250px-thumbnail.tiff.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mas Pirngadie

R. M. Pirngadie, (lahir di Pekiringan, Karangmoncol, Purbalingga, 1875 - meninggal tahun 1936 pada umur 61 tahun) adalah seorang pelukis naturalis dari aliran Mooi Indie dari Hindia Belanda. Pada usia 11 tahun ia mulai bekerja di Kantor Register, membuat gambar peta dan disanalah ia pertama kali memegang kuas dan cat. Tahun 1889, ketika berusia 14 tahun, ia mulai belajar melukis pada seorang pelukis bangsa Jerman. Pada tahun 1928, ia bekerja pada Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini menjadi Museum Nasional, Jakarta).[1][2]

Latar belakang

Bersama J.E. Jasper,[1] seorang peneliti bangsa Belanda, ia kemudian berkeliling ke pelosok daerah di Indonesia mencatat tentang seni kerajinan rakyat yang ada pada waktu itu. Hasilnya berupa karya tulisannya yang ia buat sebanyak lima jilid, berjudul ‘De Inlandsche Kunst Nijverheid In Ned. Indie’s’ Graven Hage. Jilid 1, tentang Anjaman, 1912. Jilid 2 tentang Tenunan, 1912. Jilid 3 tentang Batik, 1916. Jilid 4 tentang Emas dan Perak, 1927. Dan jilid 5 tentang logam lain selain emas dan perak, 1930. Dalam perjalanannya kesenirupaannya, ia kemudian dikenal sebagai salah satu pelukis yang menganut aliran naturalisme. Karena karya lukis yang ia buat melukiskan sesuatu yang nyata dan alami seperti tampak pada aslinya. Selain itu, ia juga termasuk dalam golongan kelompok mazhab Hindia Molek atau Mooi Indie, bersama sejumlah pelukis lainnya seperti R. Abdullah Suriosubroto (1878-1914), dan Wakidi (1889-1979). Ketiganya di anggap sebagai pelanjut pelukis Raden Saleh yang dikenal sebagai perintis aliran seni lukis modern di tanah air. Dalam melukis, R.M.Pirngadi kerap menggunakan objek alam yang berkesan tenteram, tenang, dan damai, sebagai gambar lukisannya.[3]

Pelukis yang sudah sering mengadakan pameran tunggal di kota-kota besar di Jawa ini pernah beberapa kali mendapat penghargaan yakni, tahun 1905, ia menerima piagam penghargaan lukisan terbaik pada pameran di Annual Fair, Surabaya. Tahun 1907, ia menerima penghargaan II pada pameran lukisan cat air, Surabaya. Tahun 1912, ia menerima dua medali pada pameran lukisan, Surabaya. Tahun 1913, ia mendapat hadiah untuk lukisan pemandangan Indonesia terbaik pada The Gent Expositio. Tahun 1914, is mendapat hadiah pertama untuk lukisan cat air terbaik pada Pameran Kolonial, Semarang. Tahun 1919, ia mendapat hadiah pertama dan kedua pada perlombaan membuat kulit buku terindah. Raden Mas Pirngadi wafat pada tahun 1936.[1]

Keluarga

Istri pertama Raden Mas Pirngadie bernama Sutinah dari Trah Sumedang, wafat di Bogor dan meninggalkan 2 (dua) orang anak yaitu :

  • Setijana Pirngadie
  • Supangat Pirngadie

Sepeninggal istri pertama Raden Mas Pirngadie menikahi wanita asal Ciamis, Jawa Barat yang bernama Siti Maemunah dan memiliki 5 (lima) orang anak yaitu :

  • Rudi Pirngadie
  • Sunar Pirngadie, menikah dengan Mienarsih
  • Sumiati Pirngadie
  • Sulastri Pirngadie, menikah dengan Iskandar Soekanta (M.Roesdiono, Zulkarnaen , M.Arifin, Istiasti, Denny Zainudin, Glen Faizin, Roosdianty)
  • Rudiyah Pirngadie

Karya

No Judul Tahun Pratayang
1 Pemandangan Sawah Terasering 1931 250px-A_landscape_with_terraced_paddy_fields_%28Mas_Pirngadi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
2 Pemandangan di Indonesia 1920 250px-Indonesian_Landscape_%28Mas_Pirngadi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
3 Kampung di Jawa 1930 250px-Javanese_Kampong_%28Mas_Pirngadi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
4 Pemandangan Kampung Antara 1875-1936 250px-Kampoong_Scene_%28Mas_Pirngadi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
5 Pantai Pelabuhan Ratu (Mas Pirngadi) 1927 250px-Pantai_Pelabuhan_Ratu_%28Mas_Pirngadi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
6 Tanpa Judul Antara 1875-1936 250px-Untitled_%28Mas_Pirngadi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
7 Pemandangan Kampung di Jawa 1919 250px-View_of_a_Javanese_Kampong_%28Mas_Pirngadi%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Bibliografi

  • De Inlandsche Kunst Nijverheid In Ned. Indie’s’ Graven Hage.
    • Jilid 1, tentang Anjaman (1912)
    • Jilid 2 tentang Tenunan, (1912)
    • Jilid 3 tentang Batik (1916)
    • Jilid 4 tentang Emas dan Perak (1927)
    • Jilid 5 tentang logam lain selain emas dan perak (1930)

Penghargaan

  • Piagam penghargaan lukisan terbaik pada pameran di Annual Fair Surabaya(1905)
  • Penghargaan II pada pameran lukisan cat air, Surabaya (1907)
  • Dua medali pada pameran lukisan, Surabaya (1912)
  • Hadiah untuk lukisan pemandangan Indonesia terbaik pada The Gent Exposition (1913)
  • Hadiah pertama untuk lukisan cat air terbaik pada Pameran Kolonial, Semarang (1914)
  • Hadiah pertama dan kedua pada perlombaan membuat kulit buku terindah (1919)
  • Anugerah Tanda Kehormatan Kelas Satyalancana Kebudayaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2014)

Referensi

  1. 1 2 3 "Profil singkat Mas Pirngadie". Diarsipkan dari asli tanggal 2013-12-13. Diakses tanggal 2013-12-13.
  2. ↑ Situs resmi Taman Ismail Marzuki Diarsipkan 2015-04-02 di Wayback Machine, diakses 16 Maret 2015
  3. ↑ Sumber Ilmu: Periode senirupa modern Indonesia Diarsipkan 2015-03-31 di Wayback Machine, diakses 16 Maret 2015

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan