Minggu, 27 September 2026
05:30 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG
Piperakuin

Piperakuin

senyawa kimia

60px-Star_of_life_caution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.
Piperakuin
250px-Piperaquine.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Data klinis
Kode ATC
Pengenal
  • 1,3-bis[4-(7-klorokuinolin-4-il)piperazin-1-il]propana
Nomor CAS
PubChem CID
DrugBank
ChemSpider
UNII
ChEBI
ChEMBL
CompTox Dashboard (EPA)
Data sifat kimia dan fisik
RumusC29H32Cl2N6
Massa molar535,52 g·mol−1
Model 3D (JSmol)
Titik leleh199 hingga 204 °C (390 hingga 399 °F) (dec.V
  • C1CN(CCN1CCCN2CCN(CC2)C3=C4C=CC(=CC4=NC=C3)Cl)C5=C6C=CC(=CC6=NC=C5)Cl
  • InChI=1S/C29H32Cl2N6/c30-22-2-4-24-26(20-22)32-8-6-28(24)36-16-12-34(13-17-36)10-1-11-35-14-18-37(19-15-35)29-7-9-33-27-21-23(31)3-5-25(27)29/h2-9,20-21H,1,10-19H2 N
  • Key:UCRHFBCYFMIWHC-UHFFFAOYSA-N N
 ☒NcheckY (what is this?)  (verify)

Piperakuin adalah obat antiparasit yang digunakan bersama dihidroartemisinin untuk menangani malaria. Piperakuin dikembangkan dalam Program Eliminasi Malaria Nasional Tiongkok pada era 1960-an dan diangkat di seluruh Tiongkok sebagai pengganti klorokuin, obat antimalaria yang memiliki struktur serupa. Karena resistensi parasit terhadap piperakuin yang tersebar luas, piperakuin tidak digunakan sebagai terapi tunggal. Piperakuin digunakan dalam dalam terapi kombinasi artemisinin. Piperakuin membunuh parasit dengan mengganggu detoksifikasi heme inang.

Penggunaan medis

Piperakuin dikombinasikan dengan dihidroartemisinin untuk penanganan malaria.[1] Kombinasi ini adalah salah satu terapi kombinasi artemisinin yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia sebagai pengobatan malaria tanpa komplikasi.[1] Kombinasi ini juga direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia untuk menangani malaria parah setelah pemberian artesunat.[1]

Piperakuin terdaftar penggunaannya di beberapa negara bersama arterolan.[1] Namun, kombinasi ini tidak disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia karena data yang kurang.[1]

Kontraindikasi

Seperti klorokuin, piperakuin dapat memperpanjang interval QT. Walaupun uji klinis acak besar tidak menemukan bukti kardiotoksisitas, Organisasi Kesehatan Dunia menganjurkan tidak digunakannya piperakuin oleh pasien dengan pemanjangan QT turunan atau mereka yang mengonsumsi obat yang memperpanjang interval QT.[1]

Farmakologi

Mekanisme aksi

Seperti klorokuin, piperakuin diperkirakan bekerja dengan berakumulasi di vakuola pencernaan parasit dan mengganggu detoksifikasi heme menjadi hemozoin.[2]

Resistensi

Parasit yang selamat dari pengobatan dengan piperakuin mengalami peningkatan sejak 2010, khususnya di Asia Tenggara. Pusat resistensi piperakuin ternyata adalah Kamboja barat di mana pada 2014 lebih dari 40% penanganan dengan dihidroartemisinin-piperakuin gagal mengeliminasi parasit dari darah pasien.[3] Penggolongan parasit resisten piperakuin sulit secara teknis karena parasit yang selamat dari penanganan dengan piperakuin tetap peka terhadap piperakuin in vitro; yaitu piperakuine memilikiIC50 yang sama untuk parasit yang peka maupun parasit yang resisten.[3]

Mekanisme bagaimana parasit menjadi resisten terhadap piperakuin masih belum jelas. Amplifikasi protease plasmepsin 2 and plasmepsin 3 parasit, dua enzim dalam degradasi hemoglobin inang, dihubungkan dengan resistensi terhadap piperakuin.[4] Sama halnya, mutasi pada gena yang berkaitan dengan resistensi klorokuin, PfCRT, dihubungkan dengan resistensi piperakuin; tetapi, parasit yang resisten terhadap klorokuin tetap peka terhadap piperakuin.[4][3] Sebaliknya, amplifikasi gena transporter parasite PfMDR1, mekanisme resistensi parasit terhadap meflokuin, berkorelasi terbalik dengan resistensi piperakuin.[3]

Farmakokinetika

Piperakuin adalah obat lipofilik dan karenanya cepat terabsorbsi dan terdistribusi ke sebagian besar tubuh.[2] Obat mencapai konsentrasi maksimal mendekati 2 jam setelah pemberian.[2]

Kimia

Piperakuin tersedia sebagai basa dan garam tatrafosfat yang larut dalam air.[5]

Sejarah

Piperakuin ditemukan pada era 1960-an oleh dua kelompok terpisah yang bekerja sendiri: Shanghai Pharmaceutical Industry Research Institute di Tiongkok dan Rhone Poulenc di Prancis.[5] Pada 1970-an dan 1980-an piperakuin menjadi obat antimalaria utama Program Kontrol Malaria Nasional Tiongkok karena meningkatnya resistensi parasit terhadap klorokuin.[2] Pada akhir 1980-an, penggunaan piperakuin sebagai terapi tunggal antimalaria berhenti karena peningkatan resistensi parasit terhadap piperakuin.[5] Dimulai pada 1990-an, piperakuin diuji dan diangkat sebagai komponen dalam terapi kombinasi artemisinin.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 Guidelines for the Treatment of Malaria (PDF) (Edisi 3). WHO. 2015. hlm. 33-34. Diakses tanggal 22 Mei 2018.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 "Artemisinin-based combination therapies: a vital tool in efforts to eliminate malaria". Nature Reviews Microbiology. 7: 864–874. 2009. doi:10.1038/nrmicro2239. PMC 2901398.
  3. 1 2 3 4 "Plasmodium falciparum resistance to artemisinin derivatives and piperaquine: a major challenge for malaria elimination in Cambodia". The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. 95 (6): 1228–1238. 2016. doi:10.4269/ajtmh.16-0234. PMC 5154433.
  4. 1 2 "Drug resistance in Plasmodium". Nature Reviews Microbiology. 16: 156–170. 2018. doi:10.1038/nrmicro.2017.161.
  5. 1 2 3 4 "Piperaquine: a resurgent antimalarial drug". Drugs. 65 (1): 75–87. 2005. doi:10.2165/00003495-200565010-00004. PMID 15610051.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan