Sabtu, 17 Oktober 2026
13:18 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Peter Sie

Peter Sie

Bagikan:
Peter-sie.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled
Peter Sie

Peter Sie (lahir dengan nama Sie Tiam Ie; 28 Desember 1929 – 1 April 2011) adalah seorang perancang busana terkemuka Indonesia.

Saat kecil ia sudah tertarik dengan dunia jahit-menjahit. Ia mempelajari dunia jahit di Belanda pada tahun 1947–1953. Kembali ke Indonesia, ia segera merintis kariernya sebagai penjahit. Saat itu langganannya adalah nyonya-nyonya Tionghoa di sekitar rumahnya di Mangga Besar, Jakarta. Empat tahun kemudian ia mulai membuat sketsa-sketsa dan pada tahun berikutnya Sie berpameran di Hotel Des Indes (kini pertokoan Duta Merlin). Tahun 1974 ia sempat mengalami krisis saat tidak seorangpun langganan yang muncul. Atas saran salah seorang anggota stafnya, iapun mulai membuat beberapa buah baju untuk setiap rancangan. Sie bangkit untuk menjadi sukses dan karyanya yang dihargai tinggi digemari pelanggannya. Oleh sejumlah kalangan, Sie kini dianggap sebagai perintis mode Indonesia. Ia absen dari dunia mode sejak akhir tahun 1980-an tetapi pada tahun 2001 mengadakan pameran yang menampilkan sejumlah rancangan-rancangan lamanya serta meluncurkan otobiografinya.

Kehidupan Pribadi

Peter Sie merupakan perancang busana senior di Indonesia. Ia sempat mengenyam pendidikan di Vakschool Voor Kleermaker & Coupeuse, Den Haag, Negeri Belanda (1947-1953).

Ia memulai debutnya pada 1954 sebagai penjahit yang tidak dikenal. Langganannya adalah nyonya-nyonya keturunan China di seputar rumahnya (waktu itu), di bilangan Mangga Besar, Jakarta. Pada 1958 ia mulai membuat sketsa-sketsa. Tahun berikutnya berpameran di Hotel Des Indes (kini pertokoan Duta Merlin).

Sebagai perancang, Peter dikenal karena ketelitian dan kehalusan pengerjaan busana buatannya. Pelanggannya adalah para perempuan kalangan elite, termasuk keluarga Presiden Soekarno.

Dini Ronggo (60), staf Peter Sie, mengingat bagaimana Peter Sie juga pernah diundang membuat peragaan busana di istana semasa pemerintahan Presiden Soekarno. Krisis dialaminya pada 1974, ketika tidak seorang pun langganan muncul selama beberapa bulan. Seorang stafnya menyarankan, "Bikin saja baju jadi beberapa buah." Ini menyelamatkan keadaan. Pada saat posisinya makin kukuh sebagai pelopor perancang busana, sebagian orang menyebutnya sebagai satu-satunya perancang houte couture Indonesia. "Saya paling benci dibilang begitu. Untuk menjadi penjahit houte couture itu tidak sembarangan," kata Peter kala itu.

Peter anak bungsu dari tujuh bersaudara Sie Tjeng Hay, pemilik toko makanan di Bogor. Ia masih kanak-kanak ketika mulai tertarik pada jahit-menjahit, lantas dibimbing oleh Mak Wek—penjahit keluarganya yang datang setiap dua minggu. Pada usia 15 tahun, Peter berketetapan hati menjadi penjahit. Sekolah formalnya berantakan.

Dua tahun kemudian, oleh kakak iparnya, Kho Han Gao, ia diajak ke Negeri Belanda. Di sana, Peter masuk Vaschool voor Kleermaker & Coupeuse, Den Haag. Pulang ke Tanah Air, 1954, ia langsung merintis karier sebagai penjahit.

Pranala luar


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan