Kamis, 05 November 2026
04:19 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Perspektivisme

Bagikan:

Perspektivisme (bahasa Jerman:Perspektivismus; bahasa Inggris: perspectivism) adalah prinsip epistemologis dan konsep sistematis dalam filsafat barat yang dipopulerkan oleh Friedrich Nietzsche. Perspektivisme menyatakan bahwa persepsi dan pengetahuan tentang sesuatu selalu terikat pada perspektif interpretatif dari orang yang mengamatinya baik itu bersifat interpretasi sistematis atau refleksi filosofis. Konsep ini Mulai dikembangkan oleh Nietzsche pada akhir abad ke-19 yang kemudian berpengaruh pada prinsip-prinsip dan karakteristik filsafat dari J.K.S Max Stirner, William James, Jean-Paul Sartre hingga Martin Heidegger dan Richard Rotry. Meskipun perspektivisme tidak menganggap semua perspektif dan interpretasi sebagai kebenaran atau mempunyai nilai yang sama, ia berpandangan bahwa tidak ada yang mempunyai akses terhadap pandangan absolut tentang dunia.[1] Sebaliknya, semua pandangan seperti itu terjadi dari beberapa sudut pandang yang pada gilirannya memengaruhi bagaimana sesuatu dipersepsikan. Daripada mencoba untuk menentukan kebenaran dengan korespondensi dengan hal-hal di luar perspektif apapun, perspektivisme pada umumnya berusaha untuk menentukan kebenaran dengan membandingkan dan mengevaluasi berbagai perspektif yang ada.[1] Perspektivisme dapat dianggap sebagai bentuk awal dari pluralisme epistemologis,[2] meskipun dalam beberapa diskursus termasuk juga teori nilai,[3] psikologi moral,[4] dan metafisika realis.[5]

Referensi

  1. 1 2 For the perspectivist divergence between truth and value, and its opposition to correspondence theories of truth, see: Nehamas, Alexander (1998). The Art of Living: Socratic Reflections from Plato to Foucault. Berkeley: University of California Press. hlm. 145, 148. ISBN 9780520211735. OCLC 37132573. Including its pre-Nietzschean forms, perspectivism traditionally holds that: "All seeing occurs from some point of view, in accordance with our interests. There is neither a view from nowhere nor a view from everywhere; [...] Though we have no absolute view, cut off from the perspective, it does not follow that all perspectives are 'equally valid.' On the contrary, some perspectives are better than others. We know this not because we have the ability to compare perspectives to whatever lies outside any perspective, but because we can (and do) compare perspectives to one another." Miner, Robert (2017). "Gay science and the practice of perspectivism". Nietzsche and Montaigne. Cham: Palgrave Macmillan. hlm. 64. doi:10.1007/978-3-319-66745-4_3. ISBN 9783319667447. OCLC 994692085. For concordance with scientific and contemporary forms of perspectivism, see: Agazzi, Evandro (2016). "Scientific realism within perspectivism and perspectivism within scientific realism". Axiomathes. 26 (4): 349–365. doi:10.1007/s10516-016-9304-4.
  2. ↑ Sandywell, Barry (2012). "'Perspectives, Philosophical' and 'Perspectivism'". Dictionary of Visual Discourse: A Dialectical Lexicon of Terms. Routledge. hlm. 458–459. doi:10.4324/9781315577098. ISBN 9781409401889. OCLC 502453053.
  3. ↑ Nehamas, Alexander (1998). The Art of Living: Socratic Reflections from Plato to Foucault. Berkeley: University of California Press. hlm. 143–150. ISBN 9780520211735. OCLC 37132573. See especially page 148.
  4. ↑ (Inggris) Entri Perspektivisme di Stanford Encyclopedia of Philosophy
  5. ↑ For the relation of perspectivism to realism, see the following (and their containing sources):
Ikon rintisan

Artikel bertopik filsafat ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan