Minggu, 25 Oktober 2026
08:03 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Peristiwa Mandor

Bagikan:
Peristiwa Mandor
Bagian dari Perang Dunia II
LokasiMandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Hindia Belanda
SasaranMayoritas terdiri dari orang Melayu, Jawa, dan suku-suku asli lainnya (termasuk orang Manado, Dayak, Bugis, Batak, Minangkabau). Sejumlah kecil orang Tionghoa, Arab, dan India juga menjadi korban.
Jenis serangan
Pembantaian
Tewas21.000+ tewas
PelakuKempeitai[1]

Peristiwa Pontianak terdiri dari dua pembantaian yang terjadi di Kalimantan pada masa pendudukan Jepang di Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Salah satunya juga dikenal sebagai Peristiwa Mandor. Para korban berasal dari berbagai kelompok etnis, dan pembunuhan tersebut menghancurkan elit Melayu di Kalimantan, dengan semua Sultan Melayu di Kalimantan dieksekusi oleh Jepang.

Kejadian awal

Peristiwa Mandor adalah sebuah peristiwa kelam yang pernah terjadi di Kalimantan Barat, peristiwa ini terjadi pada tahun 1943-1944 di Kecamatan Mandor, Kabupaten Landak.

Saat itu, pihak Jepang sudah mencurigai bahwa di Kalimantan Barat dan Selatan terdapat komplotan-komplotan yang terdiri atas feodal lokal, cendikiawan, ambtenar, politikus, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga rakyat jelata, dari berbagai etnik, suku maupun agama. Sehingga komplotan-komplotan tersebut diatasi dengan aksi kekerasan. Penangkapan-penangkapan yang pernah terjadi antara September 1943 hingga awal 1944.[2]

Menurut data yang ada, jumlah korban dari peristiwa Mandor tersebut adalah ± 21.037 orang. Akan tetapi pihak dari Jepang menolak pernyataan tersebut dan menganggap hanya ada 1.000 korban saja.[3] Peristiwa Mandor terjadi akibat ketidaksukaan pihak Jepang waktu itu terhadap para pemberontak yang ada di Kalimantan Barat dikarena ketika itu Jepang ingin menguasai sumber daya alam yang ada di bumi Kalimantan Barat. Sebelum terjadi peristiwa Mandor, juga terdapat peristiwa Cap Kapak di mana kala itu tentara - tentara Jepang secara paksa mendobrak pintu-pintu rumah masyarakat karena mereka ingin menakut-nakuti masyarakat agar tidak berani untuk melakukan pemberontakan. Meskipun demikian, ternyata menurut sejarah yang dibunuh bukan hanya kaum cendekiawan maupun feodal tetapi rakyat biasa juga tidak luput dari pandangan mereka.

Jepang telah menyusun rencana genosida untuk memberangus semangat perlawanan rakyat Kalimantan Barat kala itu. Di sebuah koran harian Jepang yang berjudul "ボルネオ新聞 (Boruneo Shinbun)", surat kabar yang terbit pada masa itu, mengungkapkan rencana tentara Negeri Matahari Terbit tersebut untuk membungkam kelompok pembangkang kebijakan politik perang Jepang yang ada di Kalimantan Barat.

Tanggal 28 Juni diyakini sebagai hari pengeksekusian ribuan tokoh-tokoh penting masyarakat pada masa itu.[4]

Lihat juga

Referensi

  1. ↑ Ooi, Keat Gin (2011). The Japanese Occupation of Borneo, 1941–1945. Routledge. pp. 145–147.
  2. ↑ Ricklefs, Merle Calvin; Nugraha, Moh.Sidik. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 hal. 430. Penerbit Serambi. ISBN 978-979-024-115-2
  3. ↑ Google Books "Peristiwa Mandor Berdarah" 'Google Books'
  4. ↑ Eddy Jp "Travelling Indonesia: My Family History di Makam Juang Mandor " Multiply Diarsipkan 2016-03-05 di Wayback Machine
Sejarah konflik di Nusantara
Pra-kolonial
Kolonial Portugis
Kolonial VOC
Kolonial Belanda
Pendudukan Jepang
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan