Senin, 02 November 2026
00:56 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Perang Saudara Islam III

Perang Saudara Islam III

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Fitnah Ketiga
Bagian dari Fitnah dan Persaingan Qais-Yaman
Map of western Eurasia and northern Africa showing the Caliphate in green covering most of the Middle East, with the Byzantine Empire outlined in orange and the Lombard principalities in blue
Wilayah kekuasaan Kekhalifahan Umayyah (hijau) ca 740, sebelum Fitnah Ketiga
Tanggal744–747
Lokasi
Hasil Kemenangan Marwan II dan faksi pro-Qais dalam perang saudara antar-Umayyah; kekuasaan Umayyah melemah dan digulingkan dalam Revolusi Abbasiyah berikutnya
Pihak yang terlibat
Umayyah pro-Qais Umayyah pro-Yaman

pemberontak anti-Umayyah:

Pemimpin atau tokoh terkemuka
Al-Walid II †
Marwan II
Abu al-Ward
Yazid bin Umar bin Hubairah
Nashr bin Sayyar
Yazid III
Sulaiman bin Hisyam
Yazid bin Khalid al-Qasri
Abdullah bin Muawiyah
Adh-Dhahhak bin Qais asy-Syaibani †
Hafsh bin al-Walid bin Yusuf al-Hadhrami
Talib al-Haqq †
Judai al-Kirmani X
Abu Muslim al-Khurasani

Perang Saudara Islam ketiga atau Fitnah Ketiga (bahasa Arab:الفتنة الثاﻟﺜـة; al-Fitna al-thālitha), adalah serangkaian perang saudara dan pemberontakan terhadap Kekhalifahan Umayyah diawali dengan penggulingan Khalifah al-Walid II tahun 744 dan diakhiri dengan kemenangan Marwan II atas berbagai pemberontak dan rival kekhalifahan pada tahun 747. Perang tersebut memperburuk ketegangan internal, terutama persaingan Qais–Yaman, dan runtuhnya sementara kekuasaan Umayyah membuka jalan bagi pemberontakan Khawarij dan pemberontakan anti-Umayyah lainnya. Pemberontakan yang paling sukses dari semua ini adalah Revolusi Abbasiyah, yang dimulai di Khurasan pada tahun 747, dan berakhir dengan jatuhnya Kekhalifahan Umayyah dan pembentukan Kekhalifahan Abbasiyah pada tahun 750.[1]

Perebutan kekuasaan Yazid III

Old map of western Eurasia and northern Africa showing the expansion of the Caliphate from Arabia to cover most of the Middle East, with the Byzantine Empire outlined in green
Ekspansi Kekhalifahan Muslim hingga tahun 750, dari Atlas Sejarah William R. Shepherd.
  Negar Muslim pada wafatnya Muhammad   Ekspansi di bawah Kekhalifahan Rashidun   Ekspansi di bawah Kekhalifahan Umayyah

Perang saudara ini dimulai dengan penggulingan al-Walid II (743–744), putra Yazid II (berkuasa 720–724). Al-Walid telah ditunjuk oleh ayahnya sebagai pengganti pamannya, Hisyam bin Abdul-Malik (berkuasa 724-743), dan meskipun naik takhtanya pada awalnya telah diterima dengan baik karena ketidakpopuleran Hisyam dan keputusannya untuk menaikkan gaji tentara, suasana hati dengan cepat berubah. Al-Walid dilaporkan lebih tertarik pada kesenangan duniawi daripada dalam agama, reputasi yang dapat dikonfirmasi melalui dekorasi yang disebut "istana gurun" (termasuk Qusayr Amra dan Khirbat al-Mafjar) yang telah dikaitkan dengannya.[2] Naiknya al-Walid dibenci oleh beberapa anggota keluarga Umayyah itu sendiri, dan permusuhan ini diperdalam ketika al-Walid menunjuk dua putranya di bawah umur sebagai penerusnya dan mencambuk dan memenjarakan sepupunya, Sulaiman bin Hisyam.[3] Penentangan lebih lanjut muncul melalui penindasannya terhadap sekte Qadariyya,[4] dan melalui implikasinya dalam perseteruan yang selalu ada antara suku-suku Arab utara (Qaisi dan Mudari) dan selatan (Kalbi dan Yamani). Sama seperti ayahnya, al-Walid dipandang sebagai pro-Qais, terutama setelah penunjukan Yusuf bin Umar ats-Tsaqafi sebagai gubernur Irak, dan penyiksaan dan kematian pendahulu Yusuf bersuku Yamani, Khalid al-Qasri. Harus dicatat bahwa kesetiaan itu tidak pasti, dan orang-orang dari kedua belah pihak bergabung dengan yang lainnya.[5]

Pada bulan April 744, Yazid III, putra al-Walid I (berkuasa 705–715), memasuki Damaskus. Para pendukungnya, yang didukung oleh banyak suku Kalbis dari wilayah sekitarnya, merebut kota dan memproklamasikkan dia sebagai khalifah. Al-Walid II, yang berada di salah satu istana gurunnya, melarikan diri ke al-Bakhra dekat Palmyra. Dia menghimpun kekuatan kecil yang terdiri dari suku Kalbi dan Qais setempat dari Hims, tetapi ketika pasukan Yazid III yang jauh lebih besar di bawah Abdul Aziz bin Al-Hajjaj bin Abdul Malik tiba, sebagian besar pengikutnya melarikan diri. Al-Walid II tewas, dan kepalanya yang terpenggal dikirim ke Damaskus.[6] Pemberontakan pro-Qais di Hims terjadi setelahnya, di bawah Abu Muhammad as-Sufyani Sufyaniyah, tetapi pawainya di Damaskus secara meyakinkan dikalahkan oleh Sulaiman bin Hisyam yang sudah bebas. Abu Muhammad dijebloskan ke penjara di Damaskus bersama dengan para putra al-Walid II.[7]

Referensi

  1. ↑ Hawting 2000, hlm. 90.
  2. ↑ Hawting 2000, hlm. 90–91.
  3. ↑ Hawting 2000, hlm. 91–92.
  4. ↑ Hawting 2000, hlm. 92.
  5. ↑ Hawting 2000, hlm. 93.
  6. ↑ Hawting 2000, hlm. 93–94.
  7. ↑ Hawting 2000, hlm. 94.

Sumber

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan