Minggu, 25 Oktober 2026
07:51 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung

Peperangan prasejarah

Bagikan:

Peperangan prasejarah merupakan istilah untuk menunjukkan perang yang terjadi antar masyarakat tanpa catatan sejarah.

Eksistensi-dan definisi-atas perang merupakan keadaan alamiah dan sifat naluri manusia. Hal ini menjadi topik yang kontroversial dalam sejarah gagasan (history of ideas). Begitulah yang disampaikan oleh Thomas Hobbes pada Leviathan (1651), dalam pandangannya yaitu "war of all against all" (perang antar segala melawan semuanya). Pandangan ini secara langsung ditentang oleh Jean-Jacques Rousseau dalam Discourse on Inequality (1755) dan The Social Contract (1762). Perdebatan tentang sifat manusia ini mencakup antropologi kontemporer, arkeologi, etnografi, sejarah, ilmu politik, psikologi, primatologi dan filsafat dalam buku-buku yang berbeda seperti War in Human Civilization[1] karya Azar Gat dan Warless Societies and the Origin of War[2] karya Raymond C. Kelly.

Pada artikel ini, "peperangan prasejarah" akan didefinisikan secara luas sebagai keadaan agresi mematikan yang terorganisir antar komunitas otonom yang belum mengenal huruf (praliterasi).[3]

Masa Paleolitikum

250px-Palaeolithic%2C_Quartzite_handaxe_%28FindID_567647%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Kapak genggam dari bahan quartzite

Sejak masa Paleolitikum, ilmuwan meyakini bahwa nenek moyang manusia di masa itu memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan.[4] Simpanse, kera yang secara genetis dekat dengan manusia diketahui suka melancarkan perang untuk memperebutkan teritori dan sumber daya.[5]

Menurut antropolog budaya dan etnografer Raymond C. Kelly, kepadatan populasi pada masyarakat berburu dan meramu paling awal yang diasosiasikan dengan Homo erectus kemungkinan cukup rendah sehingga konflik bersenjata dapat dihindari. Perkembangan senjata tombak dan teknik berburu dengan penyergapan yang menuntut tingkat kerja sama yang tinggi, sehingga potensi kekerasan antarkelompok pemburu menjadi sangat mahal secara sosial. Di masa ini, Homo Erectus mencegah konflik atas persaingan atas sumber daya melalui pemeliharaan populasi rendah. Hal ini akhirnya diduga mempercepat migrasi Homo erectus keluar dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, sebagai konsekuensi alamiah dari upaya penghindaran konflik.

Masa Epipaleolitikum

250px-Location_of_the_Jebel_Sahaba_cemetery.webp?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lokasi pemakaman Jebel Sahaba

Catatan: Masa Epipaleolitikum tidak terlalu sering dibahas dalam bahasa Indonesia. Masa ini lebih dikenal sebagai masa Mesolitikum.[6]

Catatan arkeologis tertua yang dapat diinterpretasikan sebagai pembantaian prasejarah ditemukan di situs Jebel Sahaba, yang dilakukan terhadap suatu populasi yang diasosiasikan dengan budaya Qadan di wilayah Sudan utara bagian paling jauh. Kompleks pemakaman di situs ini mengandung sejumlah besar kerangka manusia yang berusia sekitar 13.000–14.000 tahun, dengan 24 dari 59 kerangka menunjukkan adanya mata panah yang tertanam pada tulang, yang mengindikasikan bahwa kerangka-kerangka tersebut kemungkinan merupakan korban konflik bersenjata.[7] Kekerasan tersebut -apabila penanggalannya tepat- kemungkinan terjadi sebagai dampak lanjutan dari krisis ekologis lokal.[8] Pada awalnya, Jebel Sahaba dipandang sebagai lokasi terjadinya satu pertempuran tunggal. Namun, penelaahan ulang terhadap sisa-sisa rangka tersebut telah menggugurkan hipotesis yang diajukan ini. Ditemukannya lesi yang telah sembuh dan yang belum sembuh secara bersamaan pada 41 individu memberikan dukungan kuat terhadap interpretasi bahwa terdapat kekerasan yang bersifat sporadis dan berulang antara kelompok-kelompok sosial di Lembah Sungai Nil.

Masa Neolitikum


Masa Kaltolitikum menuju Zaman Perundagian


Zaman Besi


Peperangan terbatas (endemic warfare)

Referensi

  1. ↑ Azar, Gat (2006). War in Human Civilization. Oxford University Press. ISBN 978-0199236633.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Raymond C., Kelly (2000). Warless Societies and the Origin of War. University of Michigan Press. ISBN 978-0472067381.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Thorpe, Iain John Neil (2003). "Anthropology, Archaeology, and the Origin of Warfare" (PDF). World Archaeology. 35 (1): 145–165. doi:10.1080/0043824032000079.
  4. ↑ Duhaime-Ross, Arielle (2016-01-20). "Skeletons from a 10,000-year-old massacre have archaeologists in a fight of their own". The Verge. Diakses tanggal 2026-01-04.
  5. ↑ Dunham, Will (2023-07-03). "Scientists observe chimpanzees using human-like warfare tactic". Reuters. Diakses tanggal 2026-02-04.
  6. ↑ "Mesolithic". Britannica. 2025-12-05. Diakses tanggal 2026-10-02.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=
  7. ↑ Antoine, Daniel; Antoine; Friedman (2013). "Revisiting Jebel Sahaba: New Apatite Radiocarbon Dates for One of the Nile Valley's Earliest Cemeteries". American Journal of Physical Anthropology Supplement. 56: 68.
  8. ↑ Ferguson, R. Brian (Juli 2000). "The Causes and Origins of "Primitive Warfare": On Evolved Motivations for War". George Washington University Institute for Ethnographic Research. 73 (3): 159–164. doi:https://doi.org/10.1353/anq.2000.0004.{{cite journal}}: Periksa nilai |doi=; Tautan eksternal dalam |doi=; line feed karakter dalam |title= pada posisi 58Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan