Kamis, 15 Oktober 2026
04:09 WIB
TERKINI
Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: Satpol PP Cek STNK Kendaraan Besar di SPBU Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam Merosot Rp20 Ribu, Cek Rincian Lengkap per Gram Hari Ini Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 14 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan di Tanggamus
Penyu lekang

Penyu lekang

Penyu lekang, spesies penyu tropis, bertelur di pantai dan memiliki cangkang ringan. Dikenal sebagai penyu abu-abu di Indonesia, mereka beratnya 31-43 kg

Bagikan:
Penyu lekang
250px-Lepidochelys-olivacea-K%C3%A9lonia-1.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penyu lekang di Kélonia, sebuah akuarium di Saint-Leu, Réunion
CITES Apendiks I (CITES)[2]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Testudines
Subordo: Cryptodira
Superfamili: Chelonioidea
Famili: Cheloniidae
Genus: Lepidochelys
Spesies:
L. olivacea
Nama binomial
Lepidochelys olivacea
(Eschscholtz, 1829)
Sinonim[3]
  • ? Testudo mydas minor
    Suckow, 1758
    (Dihapuskan)
  • Chelonia multiscutata
    Kuhl, 1820
    (nomen oblitum)
  • Chelonia olivacea
    Eschscholtz, 1829
  • Chelonia caretta var. olivacea
    — Gray, 1831
  • Chelonia dussumierii
    A.M.C. Duméril & Bibron, 1835
  • Caretta olivacea
    — Rüppell, 1835
  • Thalassochelys (Lepidochelys) olivacea
    — Fitzinger, 1843
  • Caouana olivacea
    — Gray, 1844
  • Caouana ruppellii
    Gray, 1844
    (nomen nudum)
  • Chelonia subcarinata
    Rüppell, 1844
    (nomen nudum)
  • Caouana dessumierii [sic]
    A. Smith, 1849
    (ex errore)
  • Chelonia dussumieri [sic]
    Agassiz, 1857
    (ex errore)
  • Chelonia polyaspis
    Bleeker, 1857
    (nomen nudum)
  • Lepidochelys dussumieri
    — Girard, 1858
  • Lepidochelys olivacea
    — Girard, 1858
  • Chelonia dubia
    Bleeker, 1864
    (nomen nudum)
  • Cephalochelys oceanica
    Gray, 1873
    (nomen nudum)
  • Cephalochelys oceanica
    Gray, 1873
  • Thalassiochelys tarapacona
    Philippi, 1887
  • Thalassochelys tarapacana [sic]
    Philippi, 1887
    (ex errore)
  • Thalassochelys tarapacona
    — Boulenger, 1889
  • Chelonia olivaccea [sic]
    Velasco, 1892
    (ex errore)
  • Thalassochelys controversa
    Philippi, 1899
  • Caretta remivaga
    O.P. Hay, 1908
  • Caretta caretta var. olivacea
    — Deraniyagala, 1930
  • Lepidochelys olivacea olivacea
    — Deraniyagala, 1943
  • Caretta olivacea olivacea
    — Mertens, 1952
  • Lepidochelys olivacea remivaga
    — Schmidt, 1953
  • Caouana rueppellii [sic]
    Wermuth & Mertens, 1961
    (ex errore)
  • Lepidochelis olivacea
    — Tamayo, 1962
  • Lepidochelys olivaceas [sic]
    Kesteven, 1969
    (ex errore)
  • Chelonia multicustata [sic]
    Márquez, 1990
    (ex errore)

Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) merupakan spesies penyu yang hidup di perairan tropis dan subtropis yang berperairan dangkal. Penyu lekang ditemukan bertelur di Samudra Hindia, Samudra Pasifik, dan pantai di pulau-pulau besar.[4]

Bentuk tubuh penyu lekang tidak mengalami perubahan dengan bentuk nenek moyangnya 100 juta tahun yang lalu berdasarkan temuan fosilnya. Karapas penyu berfungsi untuk melindunginya dari faktor lingkungan. Kulit penyu lebih ringan dibandingkan kura-kura sehingga mereka begerak lebih cepat. Daya apung air mengurangi berat cangkang penyu sehingga hewan ini tidak keberatan membawa cangkangnya saat berenang di air.[4]

Deskripsi

Di Indonesia, penyu lekang disebut juga sebagai penyu abu-abu, penyu bibis, penyu sisik semu, penyu kembang, dan penyu slengkoroh. Penyu lekang termasuk di antara jenis penyu terkecil, dengan berat 31–43 kg.[5] Warna karapasnya abu-abu kehijauan, tukiknya berwarna abu-abu.

Penyu lekang menyukai lamun sebagai menu utama. Penyu lekang diketahui juga memangsa kepiting, gastropoda, cumi-cumi, ubur-ubur, dan udang-udangan sehingga penyu ini tergolong sebagai hewan omnivora.[4]

Persebaran

330px-Lieux_pontes_tortue_olivatre.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta distribusi penyu lekang: titik merah adalah pantai tempat berkembang biak utama; titik kuning adalah pantai tempat berkembang biak sekunder.

Penyu lekang ditemukan di perairan hangat di wilayah Samudra Pasifik, Hindia, dan Atlantik. Mereka juga ditemukan bertelur di pesisir selatan kepulauan Indonesia, termasuk di pesisir pantai selatan Bali seperti di Pantai Kuta, Pantai Tegal Besar, dan Klungkung. Di beberapa tempat di India dan Meksiko, penyu ini datang dalam jumlah ribuan untuk bertelur bersama-sama di sebuah pantai, yang disebut dengan arribada.

Habitat Peneluran

Penyu abu-abu melakukan peneluran ataupun bersinggah di kawasan pantai yang terdiri dari butiran pasir hitam. Butiran pasir hitam memiliki kandungan mineral besi lebih dari 70% atau opac.[6] Pasir besi mengandung sifat magnetis karena terdapat mineral magnelite ( Fe 3 O 4 {\displaystyle {\ce {Fe3O4}}} {\displaystyle {\mathrm {Fe} {\vphantom {A}}_{\smash[{t}]{3}}\mathrm {O} {\vphantom {A}}_{\smash[{t}]{4}}}}) berwarna hitam, maghemite (ү- Fe 2 O 3 {\displaystyle {\ce {Fe2O3}}} {\displaystyle {\mathrm {Fe} {\vphantom {A}}_{\smash[{t}]{2}}\mathrm {O} {\vphantom {A}}_{\smash[{t}]{3}}}}), dan Rutil ( FeTiO 3 {\displaystyle {\ce {FeTiO3}}} {\displaystyle {\mathrm {FeTiO} {\vphantom {A}}_{\smash[{t}]{3}}}}).[7]

Pasir besi ini ditemukan di pantai selatan Yogyakarta, yaitu Bantul dan Kulon Progo. Tanaman yang dapat tumbuh di pantai yang mengandung besi antara lain pandan tikar (Pandanus tectorius), cemara laut (Casuarina equisetifolia L), dan ketapang laut (Terminalia mantaly).[6]

Jalur Migrasi Penyu Abu-abu di Indonesia

Jalur bagian selatan (Alas Purwo dan Bali), terdapat 3 ekor (75%) bermigrasi menuju perairan selatan provinsi Jawa Barat dan.1 ekor (25%) bergerak mengelilingi wilayah selatan dan timur pulau bali sebelum bergerak ke Laut Jawa.[6]

Bagian utara (Jamursba Medi dan Kairo, Papua) terdapat 5 ekor dari keseluruhan penyu bergerak dari wilayah utara bermigrasi menuju ke selatan hingga Laut Banda serta Arafura.[6]

Biodiversitas Genetik

Genetik dapat menjadi kunci konservasi untuk mempertahankan dan memperbaiki populasi dari kerusakan.

Penyu lekang di bagian Papua tepatnya di kawasan Kwatisore dan Pulau Yapen didapatkan keanekaragaman haplotipe sebesar 0,42857 dan keanekaragaman nukleotida sebesar 0,00253. Data yang diperoleh berdasarkan analisis mitochondrial DNA (mtDNA).[8]

Referensi

  1. ↑ Abreu-Grobois, A.; Plotkin, P. (IUCN SSC Marine Turtle Specialist Group). (2008). "Lepidochelys olivacea". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2008 e.T11534A3292503. doi:10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T11534A3292503.en. Diakses tanggal 12 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. ↑ "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 2022-01-14.
  3. ↑ Fritz, Uwe; Havaš, Peter (2007). "Checklist of Chelonians of the World". Vertebrate Zoology. 57 (2): 169–170. doi:10.3897/vz.57.e30895. ISSN 1864-5755. Alt URL
  4. 1 2 3 M. Ghufran H. Khordi K, 2008. Budi Daya Perairan. Citra Aditya Bakti, Bandung.
  5. ↑ M. Ghufran H. Khordi K, 2010. A to Z Budi Daya Akuatik untuk Pangan, Kosmetik, dan Obat-obatan. ANDI, Yogyakarta.
  6. 1 2 3 4 Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut. 2009. Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu. Direktorat Konservasi dan Taman Nasional Laut, Jakarta.
  7. ↑ "PADMA – IST AKPRIND". journal.akprind.ac.id. Diakses tanggal 2018-03-23.
  8. ↑ Bahri, Samsul; Atmadipoera, Agus S.; Madduppa, Hawis H. (2018-01-02). "GENETIC DIVERSITY OF OLIVE RIDLEY Lepidochelys olivacea ASSOCIATED WITH CURRENT PATTERN IN CENDRAWASIH BAY, PAPUA". Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 9 (2): 747–760. doi:10.29244/jitkt.v9i2.19307. ISSN 2085-6695.

Pranala luar

Wikimedia Commons logo
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Lepidochelys olivacea.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan