Rabu, 28 Oktober 2026
20:07 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pemberontakan Silesia

Pemberontakan Silesia

Bagikan:
Pemberontakan Silesia
Bagian dari dampak Perang Dunia I dan Revolusi 1917–1923
330px-Polish_Silesia_insurgents.PNG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Para pemberontak di Silesia
Tanggal16 Agustus 1919 – 21 Juli 1921
Lokasi
Hasil Lihat bagian Dampak
Perubahan
wilayah
Pihak yang terlibat

Polandia Organisasi Militer Polandia di Silesia Atas

Didukung oleh:
Templat:Country data Second Polish Republic
Republik Weimar Jerman
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Polandia Alfons Zgrzebniok
Polandia Franciszek Szkudło †
Polandia Wojciech Korfanty
Polandia Maciej Hrabia Mielzynski
Republik Weimar Friedrich Wilhelm von Schwartzkoppen
Republik Weimar Karl Höfer
330px-Armoured_Car_Korfanty_1920.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Mobil lapis baja milik Polandia Korfanty pada tahun 1920 dibuat oleh pejuang Polandia di pabrik Woźniak. Ini adalah salah satu dari dua mobil yang diciptakan; mobil kedua bernama Walerus – Woźniak.[1]

Pemberontakan Silesia (bahasa Polandia:Powstania śląskie; bahasa Silesia:Ślōnske aufsztandy; bahasa Jerman:Aufstände in Oberschlesien, Polenaufstände) adalah tiga pemberontakan dari Agustus 1919 hingga Juli 1921 di Silesia Atas, yang pada saat itu merupakan bagian dari Republik Weimar. Para pemberontak dari etnis Polandia dan Silesia menginginkan wilayah tersebut menjadi milik Republik Polandia yang baru saja didirikan, melakukan perlawanan terhadap pasukan kepolisian dan paramiliter Jerman yang berusaha menjaga wilayah itu tetap bagian dari negara Jerman baru yang didirikan setelah Perang Dunia I dan revolusi di Jerman. Setelah konflik, wilayah ini terbagi ke dalam dua negara. Para pemberontak kemudian diperingati di Polandia modern sebagai contoh dari nasionalisme Polandia. Di samping keterlibatan pemerintah pusat dalam konflik, para penulis sejarah Polandia menjelaskan peristiwa ini sebagai pemberontakan yang mewakili keinginan penduduk Silesia Atas, bukan sebagai perang.[a] Ribuan orang tewas dalam kisruh bersenjata di Silesia Atas dari tahun 1919 hingga 1921. Sekitar empat perlima dari korban tewas dalam pemberontakan ketiga di Silesia, pada pemberontakan ketiga di Silesia tahun 1921 saja, tiga perlima orang tewas.[3] Berkat keberhasilan pemberontakan di Silesia, Polandia mendapatkan tambang-tambang batu bara dan wilayah yang membuat perekonomian mereka bertumbuh lebih cepat. Jika pemberontakan ketiga di Silesia tidak berhasil, sebagian besar wilayah industri di Silesia akan diperoleh oleh Jerman, dan Polandia akan menjadi negara agraris. Juga, pembangunan kembali Polandia, pasca Perang Dunia I, akan lebih lambat, menghambat reformasi mata uang dan pemberdirian Bank Polandia. [4]

Referensi

  1. ↑ (dalam bahasa Polandia) Ostatnie chwile odlewni Woźniaków Diarsipkan 28 September 2007 di Wayback Machine. Zaglebie.info
  2. ↑ Polak-Springer 2015, hlm. 29-30. sfn error: tanpa target: CITEREFPolak-Springer2015 (bantuan)
  3. ↑ T. K. Wilson: Frontiers of Violence, S. 163–164.
  4. ↑ Hubert Królikowski (2023) ‘Destructors’ in action, support for insurgents: case study of the Third Silesian Uprising, Small Wars & Insurgencies, 34:4, 870-871, DOI:10.1080/09592318.2023.2175529
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
  1. ↑ "Thus, within the first three postwar years Poland waged war against the Ukraine, Lithuania, the USSR, Czechoslovakia, and Germany. Polish historiography refers to the first four conflicts as 'wars' while calling the encounters with Germany grassroots 'uprisings' or 'insurgencies', despite central government involvement" [2]
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan