Kamis, 22 Oktober 2026
02:42 WIB
TERKINI
Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Tuba Barat Tulangbawang Barat Unggul dalam Penanggulangan TBC, Lampaui Target Provinsi Bandar Lampung Prioritas Keselamatan Terabaikan: Akses Rumah Aman Korban KDRT di Lampung Lampung Tengah Gerebek Dua Lokasi, Polres Lampung Tengah Tangkap Pengedar Sabu 7,40 Gram Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama
Pelanduk kancil

Pelanduk kancil

jenis hewan menyusui

Bagikan:
Untuk nama umum, lihat Pelanduk.
Pelanduk Kancil
250px-Kleinkantschil_im_Dschungelzelt_in_Hellabrunn_6626.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pelanduk kancil di Kebun Binatang Hellabrunn, Jerman.
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Artiodactyla
Famili: Tragulidae
Genus: Tragulus
Spesies:
T. jerapa
Nama binomial
Tragulus jerapa
(Raffles, 1821)
Sinonim
  • Moschus kanchil Raffles, 1821[2]
  • Tragulus kanchil Kloss, 1916

Pelanduk kancil[3] (Tragulus kanchil), juga dikenal sebagai kancil atau pelanduk, adalah sejenis ungulata berteracak genap bertubuh kecil anggota famili Tragulidae. Hewan yang menyebar di Asia Tenggara hingga ke Sumatra dan Kalimantan, ini merupakan salah satu jenis pelanduk terkecil di dunia. Di beberapa daerah Sumatra hewan ini dikenal sebagai pelanduk (atau kadang-kadang kancil), dan di Kalimantan disebut pelanduk kancil, pelanduk renggas, pelanduk kecil, dan lain-lain. Sementara dalam bahasa Inggris disebut sebagai Lesser mouse-deer atau Lesser Malay chevrotain.

Pelanduk ini dikenal dengan nama yun (Burma), kancil, dan pelandok (Melayu).[4]

Pengenalan

Pelanduk bertubuh kecil, tinggi bahu sekitar 200 mm; panjang kepala dan tubuh 400–480 mm; ekor 65–80 mm; dan beratnya 0,7-2 kg.[5] Data dari Kalimantan sedikit berbeda; dengan panjang kepala dan tubuh 425–485 mm, ekor 60–93 mm, dan berat 2,0-2,5 kg.[3]

Tubuh bagian atas berwarna tengguli polos, dengan tengkuk lebih gelap dari bagian tubuh lainnya. Sisi bawah tubuh berwarna putih berulas kecokelatan pucat dengan dada yang bebercak cokelat tua khas.[3] Perbedaannya dengan pelanduk napu (T. napu) yang memiliki lima garis putih, sedangkan pelanduk ini memiliki tiga garis putih di sekitar dada dan tenggorokan.[6]

Kebiasaan

Pelanduk aktif baik pada malam maupun siang hari. Hewan ini memakan aneka buah-buahan yang jatuh di tanah, pucuk dedaunan, dan juga jamur.[3] Pelanduk kancil bersifat soliter, biasanya terlihat berjalan sendirian; atau berpasangan bila musim kawin tiba. Bersarang di celah batu-batuan atau di lubang kayu, tetapi jika tempat semacam itu tak ada, ia bersembunyi di bawah vegetasi yang lebat dan teduh. Setelah hamil selama 140-177 hari, pelanduk biasanya melahirkan satu anak, jarang-jarang dua.[4][5]

Pelanduk hidup di hutan-hutan tinggi dan hutan sekunder, kadang-kadang juga memasuki kebun.[3] Binatang ini diketahui menghuni tepi hutan lebat di dataran rendah, sampai pada ketinggian 600 m. Ia juga mendiami belukar lebat. Ia juga bisa didapati di hutan mangrove sepanjang pesisir Tenasserim hingga Semenanjung Malaya.[4] Tersebar di hutan-hutan Asia Tenggara, di Indonesia hewan ini didapati di Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.[7] Bahkan, W.T. Blanford mengabarkan pula ia dapat ditemui di Tenasserim dan Kamboja.[4]

Persebaran dan subspesies

Pelanduk kancil menyebar luas di Asia Tenggara, mulai dari Tiongkok selatan (Yunnan bagian selatan), Indocina, Burma, Thailand, Semenanjung Malaya, Singapura, Sumatra, dan Kalimantan. Beberapa subspesies Tragulus kanchil, di antaranya:[8]

250px-Mouse-deer_Singapore_Zoo_2012.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pelanduk di Kebun Binatang Singapura.

Referensi

  1. ↑ "Tragulus kanchil". IUCN Red List of Threatened Species. Version 2008. International Union for Conservation of Nature. 2008. Diakses tanggal 6 November 2009. {{cite web}}: |ref=harv tidak valid; Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |last-author-amp=; Parameter tidak dikenal |authors= diabaikanPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Database entry includes a brief justification of why this species is of least concern.
  2. ↑ Raffles, T.S. 1821. Descriptive Catalogue of a Zoological Collection, made on ..., in the Island of Sumatra and it's vicinity, ... Transactions of the Linnean Society of London, 13: 262.
  3. 1 2 3 4 5 Payne, J., C.M. Francis, K. Phillipps, S.N. Kartikasari. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak & Brunei Darussalam. The Sabah Society, Wildlife Conservation Society dan World Wildlife Fund Malaysia. Hal. 335
  4. 1 2 3 4 Blanford, W.T. (1888). Fauna of British India, Including Ceylon and Burma:Mammalia hal.556 –557. London: Taylor and Francis. OCLC 1113420
  5. 1 2 Lekagul, B. & J. McNeely. 1988. Mammals of Thailand: 669-71. Association for the Conservation of Wildlife, Bangkok.
  6. ↑ Chua, M., N. Sivasothi & R. Teo. 2009. Rediscovery of Greater Mouse Deer, Tragulus napu (Mammalia: Artiodactyla: Tragulidae) in Pulau Ubin, Singapore. Nature in Singapore, 2009 2: 373–378 Diarsipkan 2014-04-26 di Wayback Machine.
  7. ↑ Sastrapradja, S., S. Adisoemarto, W. Anggraitoningsih, B. Mussadarini, Y. Rahayuningsih, & A. Suyanto. 1980. Sumber Protein Hewani. 2: 48 –49. Jakarta: Balai Pustaka.
  8. ↑ Meijaard, E., and C.P. Groves. 2004. A taxonomic revision of the Tragulus mouse-deer. Zoological Journal of the Linnean Society 140: 63-102.

Pranala luar

Ikon rintisan

Artikel bertopik mamalia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan