Senin, 02 November 2026
10:02 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Paradoks daun teh

Paradoks daun teh

Bagikan:
Daun teh mengumpul di tengah dan bawah cangkir, bukan di pinggir.
250px-Tea_leaf_Paradox_Illustration.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Garis biru adalah aliran sekunder yang mendorong daun teh ke tengah bawah cangkir.
250px-Einstein1921_by_F_Schmutzer_4.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Albert Einstein menyelesaikan paradoks ini tahun 1926.
250px-Visualization-of-secondary-flow-in-river-bend-model-%28A.Ya.Milovich%2C_1913%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Visualisasi aliran sekunder dalam model kelok sungai (A.Ya.Milovich, 1913,[1] mengalir kanan ke kiri). Garis aliran dekat dasar diwarnai oleh tinta menggunakan sedotan.

Paradoks daun teh menjelaskan fenomena berpindahnya daun teh di dalam cangkir teh ke tengah dan bawah cangkir setelah diaduk dengan jalur spiral memusat. Pembentukan aliran sekunder dalam saluran melingkar diteliti oleh Joseph Valentin Boussinesq pada tahun 1868.[2] Perpindahan partikel yang mengambang dekat dasar dalam aliran kelok sungai diteliti oleh A.Ya.Milovich pada tahun 1913.[1] Solusinya ditulis oleh Albert Einstein tahun 1926 dalam makalah yang menjelaskan erosi tepi sungai sekaligus membantah hukum Baer.[3][4]

Penjelasan

Mengaduk cairan membuat cairan tersebut berputar mengelilingi cangkir. Agar jalur lengkungnya stabil, cairan tersebut membutuhkan gaya sentripetal ke tengah. Gaya ini dapat dicapai dengan lengkung tekanan keluar (tekanannya lebih tinggi daripada di dalam).

Namun, di dekat bawah dan pinggir terluar, cairan menjadi lambat karena gesekan dengan cangkir. Gaya sentrifugal inersialnya lebih lemah dan tidak dapat melampaui lengkung tekanan, jadi perbedaan tekanan ini memainkan peran penting bagi aliran air. Ini disebut lapisan batas atau lapisan Ekman.[5]

Gaya sentrifugal inersial yang disebabkan oleh rotasi cairan secara menyeluruh menyebabkan terbentuknya lengkung tekanan keluar di dalam cairan; di dalam, tekanannya lebih tinggi di pinggir daripada di tengah. Cekungan cairan-udara pun terbentuk. Lengkung tekanan ini memberi gaya sentripetal yang cukup untuk gerak melingkar bila mempertimbangkan seluruh cairan yang berputar.

Akan tetapi, di dalam lapisan batas yang rotasi cairannya dilambatkan oleh gesekan dan kekentalan, gaya sentripetal yang disebabkan oleh lengkung tekanan lebih besar daripada gaya inersial yang disebabkan oleh rotasi. Ini menciptakan aliran sekunder ke dalam di dalam lapisan batas. Aliran tersebut bertemu di bawah cangkir teh (tempat bertemunya daun teh) dan mengalir ke atas permukaan. Di atas, aliran cairan bertemu permukaan dan mengalir keluar. Daun teh terlalu berat untuk diangkat sehingga bertahan di tengah. Bersama aliran rotasi primernya, daun-daun ini bergerak secara spiral ke dalam dan bertemu di dasar cangkir.[4]

Penerapan

Fenomena ini digunakan untuk mengembangkan teknik baru pemisahan sel darah merah dari plasma darah,[6][7] memahami sistem tekanan atmosfer,[8] dan memisahkan endapan trub saat membuat bir.[9]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Hasil-hasilnya disitir di: Joukovsky N.E. (1914). "On the motion of water at a turn of a river". Matematicheskii Sbornik. 28. Dicetak ulang di: Collected works. Vol. 4. Moscow; Leningrad. 1937. hlm. 193–216, 231–233 (abstract in English).{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  2. ↑ Boussinesq J. (1868). "Mémoire sur l'influence des frottements dans les mouvements réguliers des fluides" (PDF). Journal de mathématiques pures et appliquées 2 e série. 13: 377–424.[pranala nonaktif permanen]
  3. ↑ Bowker, Kent A. (1988). "Albert Einstein and Meandering Rivers". Earth Science History. 1 (1). Diakses tanggal 2008-12-28.
  4. 1 2 Einstein, Albert (Maret 1926). "Die Ursache der Mäanderbildung der Flußläufe und des sogenannten Baerschen Gesetzes". Die Naturwissenschaften. 14 (11). Berlin / Heidelberg: Springer: 223–4. Bibcode:1926NW.....14..223E. doi:10.1007/BF01510300.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) English translation: The Cause of the Formation of Meanders in the Courses of Rivers and of the So-Called Baer’s Law Diarsipkan 2009-01-25 di Wayback Machine, accessed 2008-12-28.
  5. ↑ "CEE 262A Hydrodynamics Lecture 18" (PPT). 2007. hlm. 35. Diakses tanggal 2008-12-29.[pranala nonaktif permanen]
  6. ↑ Arifin, Dian R.; Leslie Y Yeo; James R. Friend (20 Desember 2006). "Microfluidic blood plasma separation via bulk electrohydrodynamic flows". Biomicrofluidics. 1 (1). American Institute of Physics: 014103 (CID). doi:10.1063/1.2409629. PMC 2709949. PMID 19693352. Diakses tanggal 2008-12-28.{{cite journal}}: Parameter tidak dikenal |laydate= diabaikan; Parameter tidak dikenal |laysource= diabaikan; Parameter tidak dikenal |laysummary= diabaikanPemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) Pemeliharaan CS1: layanan pengarsipan yang sudah usang (link)
  7. ↑ Pincock, Stephen (17 Januari 2007). "Einstein's tea-leaves inspire new gadget". ABC Online. Diakses tanggal 2008-12-28.{{cite news}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. ↑ Tandon, Amit; Marshall, John. "Einstein's Tea Leaves and Pressure Systems in the Atmosphere" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2016-03-04. Diakses tanggal 2008-12-29.
  9. ↑ Bamforth, Charles W. (2003). Beer: tap into the art and science of brewing (Edisi 2nd). Oxford University Press. hlm. 56. ISBN 978-0-19-515479-5.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan