Rabu, 04 November 2026
20:06 WIB
TERKINI
Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan

Pangeran Pekik

Bagikan:
Pangeran Pekik
GelarSusuhunan Abdurrahman
Nasabbin Jayalengkara
LahirSurabaya, Kesultanan Mataram
Meninggal1672
Surabaya, Kesultanan Mataram
Dimakamkan diAlun-Alun Contong, Bubutan, Surabaya
KebangsaanKesultanan Mataram
DenominasiSunni
Murid dariJayalengkara, Guru-gurunya
Adipati Surabaya
1614 - 1672
PendahuluJayalengkara
PenerusJangrana I
IstriRatu Wandansari (Adik Sultan Agung)
Keturunan
Orang tuaJayalengkara (ayah)
Dewi (ibu)

Pangeran Pekik adalah penguasa Surabaya yang memerintah pada tahun 1614 sampai 1672. Pada masa pemerintahannya Surabaya berkembang menjadi sebuah kawasan perdagangan yang makmur. Kemakmurannya bahkan menggantikan Gresik yang telah menjadi kota pelabuhan sejak era Raja Airlangga. Pangeran Pekik digantikan Adipati Mas Jangrana Anggawangsa / Jayengrono / Jayo ing Lago yang menjadi menantu dari trah Sunan Giri yaitu Pangeran Lanang Dangiran.

Kehidupan Awal

Pangeran Pekik dilahirkan di Surabaya bersama dengan saudara lainnya yaitu Pangeran Trunojoyo, Pangeran Indrajit dan Pangeran Wirodarmo. Ayah mereka yaitu Joyolengkoro adalah penguasa Surabaya yang berkedudukan di daerah Wonokromo. Sebagai seorang anak penguasa, Pangeran Pekik tumbuh dalam lingkungan Keadipatian Surabaya yang memiliki kebudayaan santri yang kental.

Menjadi Penguasa Surabaya

Pangeran Pekik menggantikan ayahnya menjadi Penguasa Surabaya. Pangeran Pekik kemudian membangun Masjid Agung Surapringga sebagai pusat dakwah sekaligus pusat pemerintahan. Karena Pangeran Pekik adalah penguasa yang sekaligus juga seorang ulama maka putra Jayalengkoro tersebut diberi gelar Susuhunan Abdurahman. Dari istri Ratu Wandansari, Pangeran Pekik dikaruniai anak yaitu Jayengrono / Jayo ing Lago, Onggojoyo dan Suro Menggolo. Selain bergelar Susuhunan Abdurahman, Pangeran Pekik juga bergelar Gagak Emprit, Raja Pandhita Wali hingga Pangeran Anom. Pangeran Pekik juga memiliki julukan Kyai Sedo Masjid atau Badaruddin yang darinya terlahir penguasa Kesultanan Palembang.

Keberhasilan Pangeran Pekik dalam membangun Kota Surabaya telah membuat dominasi Gresik sebagai Kota Pelabuhan utama di Jawa Timur melemah. Peran Giri Kedaton sebagai penguasa Jawa Timur kemudian berangsur-angsur runtuh digantikan oleh Surabaya yang semakin makmur dan maju. Panembahan Kawis Guwa adalah penguasa terakhir Giri Kedaton yang menyerahkan penguasaan Jawa Timur kepada Pangeran Pekik. Sejak saat itu peran Gresik sebagai Kota Pelabuhan utama Jawa Timur digantikan oleh Surabaya hingga saat ini.

Wafat

250px-Pangeran_pekik.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Foto makam Pangeran Pekik di kawasan Masjid Surapringga Tembakan
250px-Makam_Pangeran_Pekik.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Pada tahun 1672, Pangeran Pekik wafat dan dimakamkan di sebelah Masjid Surapringga. Pangeran Pekik kemudian digantikan oleh putranya yaitu Jayengrono yang memerintah Surabaya hingga tahun 1714. Ketika Masjid Surapringga dirobohkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda, makam Pangeran Pekik saat ini terletak di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya. Hal ini bisa dibuktikan dari foto lama yang menunjukkan proses renovasi makam Pangeran Pekik.

Selain di Surabaya konon makam Pangeran Pekik juga ada di Makam Banyusumurup Imogiri Bantul. Namun keberadaan makam di Yogyakarta ini belum terkonfirmasi karena tidak pernah ditemukan bukti-bukti dokumen atau foto makam.

Kepustakaan

  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
  • http://www.bantulkab.go.id/kecamatan/Imogiri.html Diarsipkan 2015-03-20 di Wayback Machine
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan